Inilah Tata Cara Sholat Tahajud Lengkap Sesuai Sunnah

inilah tata cara dan panduan sholat tahajud yang sesuai dengan sunnah nabi
Image by mohamed Hassan from Pixabay

Sepertiga malam terakhir, merupakan waktu spesialnya umat muslim untuk bermunajat kepada Allah. Biasanya saat itu dinamakan dengan shalat tahajud (qiyamul lail). Mayoritas Fikih menyebutnya sebagai shalat sunnah yang dilakukan pada malam hari, secara umum setelah bangun tidur.

Sebenarnya, seberapa besar sih reward Allah atas jerih payah hambaNya yang mau bersusah payah dan ber-ikhlas hati untuk shalat tahajud ini?

Keutamaan Shalat Tahajud

Pertama, janji surga bagi pelaku shalat tahajud begitu nyata.
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 15-18).

Kedua, menjadi pembeda antara orang yang shalat malam atau tidak dimata Allah, karena ada pengorbanan dari orang yang mau bangun dan bermunajat pada Allah dengan mengharap Allah dan takut akan azab akherat dengan orang yang tidak melakukan hal tersebut.

Ketiga, shalat tahajud merupakan sebaik-baik shalat sunnah. Hal ini seperti yang dikatakan Ibnu Rajab Al Hambali jika shalat sunnah di malam hari sebaik-baik waktu pelaksanaan shalat sunnah, karena ada kedekatan antara hamba dengan TuhanNya,dan waktu itu dibukakan pintu langit dan diijabahinya doa.

Keempat, shalat ini merupakan kebiasaannya orang sholeh.

Waktu Shalat Tahajud

Waktu shalat tahajud bisa dikerjakan pada awal, pertengahan atau akhir malam, dan ketiga waktu itu pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Namun waktu yang paling utama adalah sepertiga malam.

Panduan Praktis Shalat Tahajud

Sedang jumlah rakaat yang dianjurkan adalah 11 atau 13 rakaat, boleh kurang maupun lebih dari itu. Dasarnya adalah kesaksian Aisyah mengenai hal itu:
Aisyah mengatakan,
مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah shalat malam di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 raka’at. Beliau melakukan shalat empat raka’at, maka jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya. Kemudian beliau melakukan shalat empat raka’at lagi dan jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya. Kemudian beliau melakukan shalat tiga raka’at.”

Dalam hadist diatas tersirat jika melakukan shalat tahajud Rasulullah menggunakan hitungan 4-4-3, yang berarti 3 rakaatnya adalah shalat witir. Atau bisa dengan hitungan 2-2-2-2-3, untuk yang 11 rakaat, dan bisa pula 2-2-2-2-2-2-1, yakni diawali dengan dua rakaat ringan dan diakhiri dengan satu rakaat witir. Hingga hitungannya bisa mencapai 13 rakaat. Seperti yang dikatakan Ibnu ‘Abbas, Nabi SAW biasa melaksanakan shalat malam dalam 13 rakaat.

Sedang Zaid bin Kholid Al Juhani mengatakan,
“Aku pernah memperhatikan shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun melaksanakan 2 raka’at ringan. Kemudian setelah itu beliau laksanakan 2 raka’at yang panjang-panjang. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka’at yang lebih ringan dari sebelumnya. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka’at lagi yang lebih ringan dari sebelumnya. Beliau pun lakukan shalat 2 raka’at yang lebih ringan dari sebelumnya. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka’at lagi yang lebih ringan dari sebelumnya. Lalu terakhir beliau berwitir sehingga jadilah beliau laksanakan shalat malam ketika itu 13 raka’at.”

2 2 Ini berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan witir dengan 1 raka’at.

Sebenarnya, tata cara shalat tahajud, sama dengan tata cara shalat lainnya. Namun ada beberapa pertanyaan, apakah shalat dengan hitungan 4-4-3 itu, sekali tahiyat atau dua kali at-tahiyyat dalam setiap 4 rakaatnya?

Aisyah berkata:
” … dan beliau ( Rasulullah) mengucapkan pada setiap dua rakaat at-tahiyyat”, [ Shahih Muslim( 2/54 ) Abu Dawud (783) Ahmad dan yang lainnya].
Sedang untuk witirnya, adalah berbeda hanya sekali at-tahiyyat, baik 1 maupun 3 rakaat.

Doa Shalat Tahajud

Bagaimana dengan bacaan niat shalat tahajud?

Inilah niatnya:
Ushallii sunnatat-tahajjudi rak’ataini (mustaqbilal qiblati) lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Aku niat sholat sunnah tahajud dua rakaat (dengan menghadap kiblat) karena Allah Taala.”

Setelah membaca niat sholat tahajud, lakukan sholat 2 rakaat dengan 2 kali sujud dan 1 kali salam. Dan tata cara dan bacaannya lainnya sama dengan shalat wajib atau shalat sunah biasa.

Untuk sholat witir inilah niatnya:
Ushallii sunnatal witri tsalaasa roka’aatin (mustaqbilal qiblati) lillaahi ta’alaa.
Artinya :
“Saya berniat shalat witir tiga rakaat (menghadap kiblat) karena Allah ta’alaa”.

Nah bagaimana dengan doa, apakah ada kewajiban untuk membaca doa tertentu? Sebenarnya tidak ada doa tertentu, namun ada pula yang berdoa seperti yang dicontohkan Rasulullah:

“Ya, Allah! Bagi-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau yang mengurusi langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu kerajaan langit dan bumi serta seisi-nya. Bagi-Mu segala puji, Engkau benar, janji-Mu benar, firman-Mu benar, bertemu dengan-Mu benar, Surga adalah benar (ada), Neraka adalah benar (ada), (terutusnya) para nabi adalah benar, (terutusnya) Muhammad adalah benar (dari- Mu), peristiwa hari kiamat adalah benar. Ya Allah, kepada-Mu aku pasrah, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku kembali (bertaubat), dengan pertolongan-Mu aku berdebat (kepada orang-orang kafir), kepada-Mu (dan dengan ajaran-Mu) aku menjatuhkan hukum. Oleh karena itu, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang. Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan, tiada Tuhan yang hak disembah
kecuali Engkau, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau”.

Namun ada satu pertanyaan yang sering terlontar, apakah orang sudah melakukan witir pada shalat taraweh di awal malam, bagaimana dengan witir saat ia akan melakukan shalat tahajud?

Ada dua perbedaan ulama menurut At-Turmudzi, pendapat pertama witir awal malam harus dibatalkan dengan menambah satu rakaat sebagai penggenap, lalu shalat tahajud biasa, ini adalah pendapat Ishaq bin Rahuyah.

Dan pendapat kedua, ia tak perlu batalkan witirnya, hanya saja ia tidak boleh witir lagi Ini pendapat Sufyan at-Tsauri, Imam Malik, Ibnul Mubarok, Imam Syafii, ulama kufah, dan Imam Ahmad.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *