Baca Ya! Inilah Niat Puasa Arafah yang Benar Bagi Muslimah

Niat puasa Arafah bagi seorang muslimah, harus benar sebelum melaksanakan ibadah yang harus menahan lapar dan haus sepanjang hari ini.

Dikarenakan setiap ibadah itu pahalanya akan diberikan sesuai dengan niatnya. Maksud dan tujuan dari puasa Arafah ini juga akan dikembalikan dengan apa yang niatkan.

Ibadah puasa yang dilakukan di tanggal 9 Dzulhijjah ini juga harus benar niatnya. Nah, bagaimana sih niat yang benar untuk puasa Arafah ini?

Baca juga : Berapa kali kita harus qurban seumur hidup kita?

Pahala dari puasa di tanggal 9 Dzulhijjah ini sangat bergantung dengan maksud hati kita berpuasa. Oleh sebab itulah lafal niatnya harus benar. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Setiap amal diberi balasan pahala sesuai niatnya.”

Lafazh Niat Puasa Arafah

Dalam hal ini, para ulama menjelaskan bahwa niat boleh diucapkan, boleh juga dalam hati. Jadi, kita tidak usah memperdebatkan akan hal ini.

Imam Nawawi dalam menjelaskan hadits pertama di Arbain Nawawi menjelaskan bahwa melafalkan niat demi untuk memantapkan hati, maka itu dibolehkan.

Bagi yang mengikuti pendapat bahwa niat cukup dalam hati, maka dipersilakan.

Tetapi yang jelas niat, tetap harus dihadirkan sebelum berpuasa.

Adapun lafalnya adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّهِ تَعَالَى

Aku berniat puasa Arafah pada esok hari karena sunnah dan untuk Allah Ta’ala.

Waktu Menghadirkan Niat Puasa Arafah

Berbeda dengan puasa Ramadhan yang wajib berniat pada malam hari sebelum subuh, maka puasa Arafah yang hukumnya sunnah ini, boleh menghadirkan niat ketika sudah pagi.

Tetapi, dengan syarat sebelumnya belum makan apa-apa. Sehingga ketika dia baru punya keinginan untuk berpuasa di pagi hari, maka puasanya tetap sah.

Dikarenakan Rasulullah pernah melakukan hal tersebut. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibunda Aisyah, tatkala beliau meriwayatkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuiku pada suatu hari lantas beliau bertanya, “Apakah kalian memiliki sesuatu untuk dimakan?” Kami pun menjawab, “Tidak ada.” Beliau pun bersabda, “Kalau begitu saya puasa.”

Tentu saja waktu yang paling utama adalah ketika malam hari sampai dengan menjalang subuh. Di saat itulah kita sudah berniat untuk berpuasa.

Kenapa Kita Berpuasa Arafah?

Banyak riwayat hadits yang menyebutkan terkait dengan keutamaan puasa Arafah. Oleh karenanya kita dianjurkan untuk melaksanakan puasa tersebut.

Meskipun hukumnya sunnah, kita akan sangat rugi jika tidak melaksanakan puasa di tanggal 9 Dzulhijjah tersebut.

Adapun keutamaan yang disebutkan dalam banyak tersebut adalah, bahwa puasa itu bisa menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah, “Barangsiapa berpuasa pada hari Arafah, maka ia diampuni dosa-dosanya setahun yang di depannya dan setahun setelahnya.” (HR. Ibnu Majah)

Nah, Muslimah sekalian, yuk puasa Arafah!

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *