Wanita Naik Haji? Inilah yang Boleh dan yang Dilarang

Wanita Naik Haji? Inilah yang Boleh dan yang Dilarang

Ibadah haji hukumnya wajib sekali dalam seumur hidup bagi yang mampu (jasmani, rohani, keuangan) tanpa harus mendapat izin dari suami dan bagi suami tidak boleh melarang istrinya untuk menunaikan. (Al Lajnah ad-Da’imah)

Bila haji pertama (wajib) dan dalam keadaan aman, maka muslimah boleh pergi haji sendirian tanpa mahram, jika tak aman wajib didampingi suami atau dua orang perempuan/lebih. Jika berteman dengan seorang perempuan saja, maka tidak wajib baginya menunaikan ibadah haji.

Jika yang dilakukan adalah haji sunah (kedua kali dan seterusnya) maka wajib dengan ditemani suami/ muhrimnya.  Jika dengan wanita dua orang atau lebih, maka yang bersangkutan tidak boleh menunaikan ibadah haji. (Mazhab Syafi’i)

Ulama Hambali secara tegas mewajibkan adanya suami atau muhrim, karena adanya syarat istitho’ah (kemampuan) wanita melaksanakan haji. Imam Ahmad bin HAmbal berkata: Jika seorang wanita tanpa suami atau muhrimnya, maka ibadah haji tidak wajib atasnya.

Pendapat tersebut didasarkan pada hadis Nabi SAW, “Tidak halal bagi seorang perempuan yang beriman kepada Allah dan hari akhir bepergian selama tiga hari atau lebih, kecuali bersama ayahnya atau suaminya atau anaknya atau saudaranya atau muhrimnya.” (Muttafaq ‘Alaihi).

Prinsip hukum dari beberapa ulama mengenai ada atau tidaknya muhrim yang masih jadi perbedaan, sebenarnya bukan untuk membatasi kebebasan muslimah dalam melakukan ibadah, namun dimaksudkan untuk menjaga nama baik dan kehormatannya, juga dimaksud untuk melindungi dari maksud jahat orang-orang lain. (Syekh Yusuf al-Qaradhawi).

Kaum wanita tidak memiliki aturan bentuk pakaian ihram khusus yang harus dipakaai saat menunaikan ibadah haji dan umrah, namun ia diwajibkan memakai pakaian yang menurut kebiasaannya dipakai, yakni pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya dengan rapat, tanpa riasan dan hiasan dan tidak menyerupai pakaian kaum laki-laki. (Syaikh Ibnu Fauzan)

Hal-hal yang boleh dan tidak selama berhaji bagi Wanita:

  • Selama berhaji, wanita dilarang memakai cadar dan sarung tangan (Al-Lajnah ad-Da’imah)
  • Selama berihram tidak boleh bermesraan dengan istrinya baik bersenggama atau perkataan sekitar senggama (Syaikh Ibnu Fauzan)
  • Jika seorang wanita tak mampu melempar jumrah, maka boleh diwakilkan kepada seseorang untuk melempar jumrah karena khawatir akan berdesak-desakan dengan kaum lelaki. (AL-Lajnah ad-Da’imah)
  • Istri boleh senggama dengan suaminya setelah menyelesaikan tiga hal pada hari Idhul Adha yakni melempar jumrah, menggunting rambut dan thawaf ifadhah dan sa’I antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah setelah thawaf ifadhah. (Syaikh  Muhammad bin Ibrahim).
  • Wanita ihram boleh memakai kaos kaki, dan Rasulullah tidak melarangnya. (Syaikh Ibnu Utsaimin)
  • Kebolehan mengkonsumsi pil penunda haid ketika memunaikan ibadah haji (Al-Lajnah ad-Dai’imah).
  • Saat berdesak-desakan di sekitar Ka’bah wanita diharapkan mencari kesempatan dan peluang yang memungkinkan mereka beribadah dan berthawaf ditempat yang lebih longgar, agar terhindar dari perbuatan fitnah dan aman baginya (Syaikh Ibnu Fauzan).

 

Referensi:
Candra Nila Murti Dewojati, 2012,  202 Tanya Jawab Fikih Wanita, Al Maghfirah, Jakarta

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *