Wanita, Baiknya I’tikaf di Masjid Atau di Rumah Saja?

Wanita, Baiknya I’tikaf di Masjid Atau di Rumah Saja?
Bagi sebagian wanita, sepertinya saat 10 hari terakhir di bulan ramadhan adalah hal-hal yang penuh dilema. Karena seperti diketahui wanita tidak sama dengan lelaki dalam tugas dan kewajibannya. Dari menjaga anak-anak, memasak, mengurus rumah hingga fungsi wanita lainnya yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Memasuki 10 hari terakhir adalah pahala yang luarbiasa banyaknya bagi kaum muslimin, karena dijanjikan bagi umatNya yang terpilih untuk terbebas dari api neraka.

Pada waktu inilah lailatul qadar turun kebumi, yang malam itu lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah memberikan contoh pada umatnya untuk beri’ktikaf:
“Abdullah bin Umar r.a. berkata: Rasulullah saw biasa beri’tikaf pada malam-malam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan,” (Bukhari, Muslim).

Jadi, apakah I’tikaf itu dilakukan hanya untuk kaum lelaki saja, karena begitu banyak kesulitan yang dihadapi wanita?

Profesor bidang Tafsir Al-Quran dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Dr ‘Abdul Fattah ‘Ashoor mengatakan, “I’tikaf bukan hanya disarankan bagi kaum lelaki muslim, tapi juga bagi para muslimah, karena istri-istri Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam juga beri’tikaf baik semasa Rasulullah masih hidup maupun setelah wafatnya”, ujarnya.

“Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sepeninggalnya,” (Bukhari, Muslim).

I’tikaf itu sendiri sebenarnya memberikan kesempatan seluas-luasnya pada kaum muslimin untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya untuk mendekatkan diri, beribadah dengan khusuk hanya pada Allah tanpa di ganggu oleh urusan dunia. Untuk itu tempat yang paling tepat adalah di masjid.

Wanita yang tidak bisa meninggalkan anak-anak dirumah atau membawa mereka ke masjid, karena tentu malah akan mengganggu kekhusukan beribadah orang-orang yang akan beri’tikaf.

Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh wanita mengadapi dilema ini?

Dengan bijak Profesor ‘Ashor dari Universitas Al-Azhar Mesir menyatakan”Boleh-boleh saja seorang perempuan beri’tikaf di masjid sepanjang tidak mengambaikan hak-hak keluarganya, terutama suami dan anak-anaknya.”

Hingga bisa diartikan, wanita jika memiliki kesulitan atau ketidak longgaran karena kewajibannya mengurus anak dan rumahtangganya maka sebaiknya tidak meninggalkan semua itu.

Lalu, apakah I’tikaf itu bisa dilakukan dirumah, jika  memiliki ruang khusus yang dianggap mushola? Ada beberapa pandangan mengenai hal ini:

1. Mazhab Maliki, Shafi’i dan Hambali adalah ulama yang berpandangan bahwa seorang wanita tidak diperbolehkan beri’tikaf di kamar atau mushalanya sendiri di rumah. Ketiga ulama itu merujuk pada Al-Quran, Surat Al-Baqarah ayat 187.

” … Tetapi jangan kamu campuri mereka , ketika kamu beritikaf dalam masjid ….”

Juga sebuah hadits dari peristiwa ketika Abdullah bin Abbas ditanya tentang seorang perempuan yang bersumpah untuk beri’tikaf di mushala di rumahnya. Abdullah bin Abbas lalu mengatakan, “Itu adalah bid’ah, dan tindakan yang paling dibenci Allah Swt adalah melakukan bid’ah. Tidak ada i’tikaf selain di masjid di mana shalat lima waktu dilaksanakan.”

Ketiga ulama itu menyimpulkan jika rumah bisa dianggap sebagai mushola (karena ada ruangan yang dipergunakan khusus untuk sholat), maka para istri Rasulullah sudah melakukannya meski sekali saat beri’tikaf. Namun kenyataannya mereka melakukan I’tikaf dimasjid.

2. Mazhab Hanafi membolehkan perempuan beri’tikaf di ruangan khusus atau mushola di rumahnya. Mereka beragumen jika I’tikaf bagi perempuan adalah tempat yang mereka sukai yang merupakan tempat mereka shalat lima waktu dalam sehari-hari.

Dan perempuan itu tidak seperti lelaki yang lebih baik shalat dirumah dibanding di masjid. Maka pendapat Hanafiyah mengatakan I’tikaf bagi perempuan sebaiknya di ruangan khusus atau mushola dirumahnya.

3. Abu Hanifah dan Ath-Thawri menyatakan, “Seorang perempun boleh melakukan i’tikaf di rumah. Itu lebih baik bagi mereka, karena salat mereka di rumah lebih baik daripada di masjid.”

4. Dr Rajab Abu Mleeh mengatakan tidak ada salahnya bagi perempuan yang ingin beri’tikaf di masjid, karena masjid merupakan tempat terbaik untuk beribadah dan mengingat Allah ta’ala. Selain itu, tidak seperti rumah, masjid lebih memiliki atmosfir spiritual.

Tapi bagi seorang ibu yang masih punya anak kecil, atau seorang perempuan yang suaminya tidak mengizinkan ia beri’tikaf di masjid, maka mereka boleh beri’tikaf di rumah.

Meski ada beberapa pendapat di atas, memang harus bijak seorang perempuan untuk tidak memaksakan bisa beri’tikaf didalam masjid.

Karena pada dasarnya hak dan kewajiban suami serta anak-anak lebih didahulukan dibanding keinginan ibadah yang bersifat pribadi, karena pada dasarnya Allah Maha Mengetahui kesulitan wanita itu, dan mengganti serta menganugrahkan karunia tak terhingga pada wanita yang tulus mengabdi pada Allah.

loading...
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *