Tips Merawat Pernikahan Samara (1); Suami Jadi Nakhoda, Istri Perahunya

tipe merawat pernikahan harmonis

Tips merawat pernikahan agar harmonis dari pengalaman. Memasuki usia pernikahan yang menginjak ke 20 tahun, saya merasakan pernikahan bagai ‘surga’.

Suami bukan sekedar hanya seorang yang “kebetulan” mengucapkan akad nikah dengan menyuntingku. Tapi sudah everything,..segalanya untuk saya.

Mungkin Anda sering membaca status saya bertutur tentang suami, atau upload foto-foto kebersamaan dengan dia.

Ini bukan pencitraan, atau biar terlihat mesra di foto. It’s real. Dalam kehidupan sehari-hari, dia adalah:
raja—-kekasih hati—belahan jiwa—idola saya

Saya “memujanya”, dalam kapasitas sebagai manusia, bahkan jika manusia dibolehkan bersujud dan menyembah manusia lain (sebuah hadits), tentu saya melakukannya untuknya!

“Apapun yang terjadi pada dirimu, aku harus tahu, karena sejatinya, aku adalah kamu..”, tuturnya suatu hari padaku. Ini serius, bukan sedang bercanda. Saya diberi kepercayaan sedemikian rupa, tentang apapun yang terjadi padanya, pada rumah, pada diri saya, dan ini bukan dicapai dengan mudah.

Sebenarnya, kondisi rumah tangga saya biasa-biasa saja pada awalnya, sering kontra karena perbedaan persepsi, sering diem-dieman (karena kami tidak bisa bertengkar secara verbal) karena merasa “suami tdak bisa mengerti saya”, dan sebaliknya.

Saya juga tertekan masalah keuangan, karena posisi hanya sebagai ibu IRT biasa, juga saat itu suami belum mapan dalam pekerjaan. Dan persoalan itu sering menjadi polemik, karena ego dua sisi.

10 tahun perkawinan, sepertinya belum ada titik temu

Akhirnya suatu saat, ada suatu kejadian yang tidak mengenakan yang berhubungan dengan salah paham. Sampai akhirnya saya tidak tahan untuk bersuara:

“Mas, mau-mu apa? Mau dibawa kemana kita sebenarnya. Mendiamkan saya selama berhari-hari, yang sebenarnya juga bukan kesalahanku semata. Ini maukku, apa maumu…,” kataku dengan nada bergetar menahan tangis.

Suami mendongak, kaget. Tidak menyangka saya yang pendiam jika ada masalah, berani untuk ‘protes’. Ia mendekat, lalu utarakan maksudnya dan kami berbincang cukup lama dari hati ke hati.

Lalu kebekuan itu mencair. Benar, mencair setelah 10 tahun saya tidak menemukan pola berkomunikasi dengan baik pada pasangan.
Saya mendongak, “Ya Allah, mengapa baru sekarang saya tahu pola komunikasi seperti apa dengannya, hingga menahan diri sampai 10 tahun lamanya.”

Saat saya mengenal dunia penulisan 6 tahun yang lalu, saya mengenal beberapa grup, atau halaman mengenai cara komunikasi dengan pasangan. Benar-benar saya praktekan.

Saya ubah secara drastis pola konvensional; yang selalu ingin dimengerti. Selalu harus disapa duluan saat ada masalah, memumikan ego masing-masing dengan beberapa list daftar yang harus saya lakukan pada pasangan.

Ternyata, kuncinya adalah—mau jadi rusak, hancur, garing, tak indah, atau menjadi sakinah mawadah warohmah, keluarga yang bersinar dan menyenangkan. Suami menjadi raja dalam hati dan panutan, anak-anak  yang soleh dan solehah—kuncinya adalah SAYA bukan suami!

Ia yang kendalikan perahu, tapi sebenarnya sayalah bukan hanya sekedar penumpang bersama anak-anak, tapi menjadi perahunya!
jika bocor, rusak, jadi rongsokan maka tenggelamlah kita semua dalam lautan kehidupan. Karena itu, saya yang berupaya keras untuk menjadi perahu yang baik.

Saya pemarah–oke itu manusiawi jika marah–tapi saya kurangi durasinya, sampai ke titik nadir. Cukup 15 menit dari berhari-hari.

Saya itu egois. Iya, tapi saya akhirnya membuang itu, karena sangat mencintai suami. Saya harus sabar, padahal bukan penyabar. Dengan apa; istighfar yang banyak ssaat ada masalah bertubi datang menghampiri.

Kuat saat mendampingi suami, walau dalam keadaan sangat lemah-pun tak terlalu kuperlihatkan padanya. “Harus ada hati yang bening–saat kondisi gelap menyapa”—saya jaga benar itu, dengan menyatakan: Mau jadi apapun rumahtangga ini, sayalah orang pertama yang bertanggungjawab!”.

Itu sangat saya pegang benar. makanya perlu memperbaharui apapun yg sifatnya konvensional yg tak bisa lagi selesaikan masalah. Jika sudah demikian, para istri akan lebih dan lebih menjadi segalanya dalam keluarga.

Please, jangan katakan “tidak bisa”, jika belum mencoba tips merawat pernikahan di atas.
Moga manfaat..

**bersambung..

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *