Berlapang Dada Tak Pernah Mendengki; Sarana Masuk Surga

Berlapang dada sarana masuk surga

Jauh dari iri dengki bak hijau daun yang indah dipandang

Terkadang kita tak sadar, bilamana para penghuni surga itu bukan hanya dari kalangan  yang sangat mumpuni ketaatannya pada Illahi.

Orang yang berlimpah pahala, Karena ilmunya yang bermanfaat, ikut berlaga dimedan perang dengan Nabi, dan para zuhud yang hanya menyerahkan kehidupannya kepada Allah semata.

Namun kalau dicermati dari kisah-kisah inspiratif, banyak orang masuk surga karena hal kecil yang ia lakukan. Kecil tapi sarat akan filosofi kemanusiaan yang tinggi, andai manusia dapat membaca ‘pesan’ dari ayat-ayatNya baik tersirat maupun tersurat.

Seperti kisah berikut ini,

“Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk kemari.” Kata Nabi Muhammad saw, disuatu kesempatan saat didalam masjid. Semua mata tertuju pada pintu masjid.

Mereka mengira akan menjumpai seorang yang luarbiasa dari segi penampilan atau akhlaknya. Akhirnya ‘penghuni surga’ itupun masuk, dalam keadaan air wudhu masih membasahi wajahnya dan tangannya menjinjing sandal. Sangat biasa, seperti tiada yang istimewa.

Untuk kedua kalinya, nabi mengulang hal yang sama, bahkan kali ketigapun beliau memuji orang yang sama dengan pemampilan yang tak berbeda dengan kemarin.

Hingga buat para sahabat beliau menjadi semakin penasaran, banyak tanya terpendam dibenak, yang belum ada jawabannya.

Sampai akhirnya Abdullah ibn ‘Amr tak tahan lagi, ia ingin mencari tahu dengan caranya sendiri tanpa harus bertanya secara langsung kepada nabi, karena karena khawatir tak mendapatkan jawaban yang tak memuaskan.

Hingga suatu hari ia memasang suatu taktik yang dirasa jitu untuk dapat menyelami lebih jauh sang ‘penghuni surga’ itu untuk bisa menginap dirumahnya agar bisa melihat langsung mengapa ia mendapat julukan itu dari Nabi saw, maka ia berkata kepada orang itu: “Saudara, telah terjadi kesalahpahaman antara aku dan orangtuaku, dapatkah aku menumpang di rumah Anda selama tiga hari?”

Dengan ramah orang itu menjawab:”Tentu, tentu silahkan.”

Abdullah sangat senang mendapat jawaban ramah. Ia selama tiga hari mengamati kehidupan ‘penghuni surga’.

Ternyata sepertinya tak ada yang istimewa. Bahkan tak ada ibadah khusus yang dilakoninya, meski hal yang biasa dilakukan muslim lainnya seperti, shalat malam ataupun puasa sunah.

Ia malah nyenyak tidur sampai terbit fajar, tanpa melakukan dua ibadah itu.

Saat pergi kepasar pada siang harinya, ia  bekerja dengan tekun seperti orang kebanyakan, tak ada sesuatu yang menyolok mata, sangat biasa.

Hingga Abdullah merasa kecewa, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh orang itu, sehingga tak tahan diri dan mulai bertanya pada ‘penghuni surga’ itu, “Apakah ada yang anda sembunyikan selama ini, dan apa yang anda perbuat hingga nabi menyebut anda sebagai orang yang mendapat jaminan surga..?”

“Apa yang anda lihat, itulah yang terjadi pada diri saya!” katanya mantap.

Dengan lunglai Abdullah bermaksud pulang kembali kerumah. Ia merasa pekerjaan tiga hari mengamati sang ‘penghuni surga’ sia-sia belaka, karena ia tak mendapatkan jawaban apapun juga.

Tiba-tiba orang itu berkata,”Apa yang anda lihat itulah yang saya lakukan ditambah sedikit hal lagi, bahwa saya tak pernah punya rasa iri dan dengki terhadap seseorang yang dianugrahi nikmat oleh Allah.

Sayapun tak pernah melakukan penipuan dalam segala aktivitas saya, mungkin ini yang dimaksud oleh Nabi saw dengan menyebut saya sebagai ‘penghuni surga’…”

Dengan gontai Abdullah meninggalkan penghuni surga itu dengan pikiran yang berkecamuk. Ia tak mengira sebenarnya para penghuni surga itu bukanlah orang yang harus luarbiasa dalam segala hal.

Terkadang hal yang sederhanapun bisa menuntun seseorang menjadi salah satu diantaranya. Kisah ini disadur dari buku Faidh Al-Nubuwah. Semoga kita mampu ikuti jejaknya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *