Tata Cara Buang Air Besar dan Adab Buang Air Kecil untuk Wanita Dalam Islam!

Tata Cara Buang Hajat Dalam Islam

Ke Toilet pun ada aturannya, gambaran betapa sempurnanya Islam

Urusan buang air besar dan buang air kecil itu sebenarnya bukan hal yang sepele. Karena Islam menerapkan beberapa aturan yang seharusnya ditaati oleh umatnya.

Pada garis besarnya tak ada perbedaan signifikan untuk buang air kecil dan besar untuk pria dan wanita. Namun ada beberapa hal yang khusus dan wajib dicermati saat wanita akan buang air kecil ataupun besar.

Mengapa Islam menetapkan adab saat akan buang hajat? Ternyata hal yang terkadang dianggap remeh ini akan merembet jadi siksa kubur jika umat Islam tidak bisa buang air dengan baik!

“Mayoritas siksa kubur itu akibat tidak membersihkan air seni.”
(H.R Ibnu Majah no: 342 dan dicantumkan dalam Shahihul Jami’ no: 1202)

Ada adab yang harus diketahui saat buang air kecil dan besar untuk wanita itu adalah:

1. Perhatikan arah

Sseorang yang tengah buang air kecil dan besar tidak diperbolehkan menghadap atau membelakangi arah kiblat (istifta’ dari Rahbar, Bab thaharah, masalah 33).

Nabi kalian telah mengajarkan segala sesuatunya hingga masalah khira’ah (adab buang hajat).” Salman pun berkata: “Benar katamu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang kami menghadap kiblat ketika buang air besar atau kecil.”
(H.R At-Tirmidzi no:16, ia berkata: Hadits ini hasan shahih, diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam shahihnya dan imam-imam lainnya)

2. Keadaan tertutup

Seorang yang tengah melakukan buang air kecil atau besar harus ditempat yang tertutup, dilarang untuk perhatikan auratnya pada lelaki, wanita, muhrim atau non muhrim, anak-anak yang telah baligh maupun belum yang sudah bisa membedakan sesuatu.

Namun untuk pasangan suami istri tidak ada kewajiban untuk menutup aurat satu sama lain. (Istifta’ dari Rahbar, Bab thararah, masalah 33).

[irp posts=”218″ name=”Memang Ada Adab Menghutangi Orang? Simak Jawabannya”]

3. Jika di tempat umum, perhatikan Ruangan Toilet khusus wanita atau pria.

Hal ini penting untuk menjaga diri dan aurat agar tidak terlihat oleh pria.

4. Gunakan tangan kiri

Para wanita dilarang untuk menyentuh kemaluan dengan tangan kanan saat buang air besar maupun kecil, namun sebaiknya dengan tangan kiri, kecuali keadaan darurat, semisal tangan kiri sakit atau malah hanya punya satu tangan kanan saja.

“Jika salah seorang dari kamu buang air kecil, janganlah ia menyentuh kemaluannya dan beristinja’ dengan tangan kanan. Dan jangan pula ia bernafas dalam gelas (saat minum).” (H.R Al-Bukhari no: 150).

5. Wanita hendaknya dalam posisi serendah mungkin saat buang hajat.

Mengapa demikian, karena cara demikian dianggap lebih aman dalam menutup aurat dan lebih aman dari percikan air seni yang dapat mengotori badab atau pakaiannya.

6. Menjauh dari keramaian

Jika terpaksa harus buang hajat di tanah lapang yang tidak ada penutupnya sama sekali, maka hendaknya menjauh dari orang-orang.

Dalilnya adalah riwayat Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata: “Ketika saya menyertai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah lawatan, beliau terdesak buang hajat. Beliaupun menjauh dari tepi jalan.” (H.R At-Tirmidzi no:20, ia berkata: Hadits ini hasan shahih).

7.  Wanita hendaknya tidak membuka aurat kecuali sudah sampai di toilet.

Hal ini perlu diperhatikan, karena ada beberapa orang yang tidak mengindahkannya.

Berdasarkan riwayat Anas Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata: “Apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hendak buang hajat, beliau tidak akan menyingkap pakaiannya hingga tiba di tempat buang air.” (H.R At-Tirmidzi no: 14 dan dicantumkan dalam Shahih Al-Jami’ 4652).

8. Tutup rapat

Pastikan menutup pintu dengan rapat, dan jangan buang hajat saat pintu terbuka dari pandangan orang lain, dan perhatikan pakaian  yang menjuntai dan badan wanita agar tidak terkena percikan air seni.

9.   Membaca doa masuk dan keluar WC

Ini sangat penting dilakukan. Berikut adalah doa masuk WC: “Bismillah, Allahumma inni a’uudzubika minal khubtsi wal khabaaits”

Artinya: Dengan menyebut nama Allah, Yaa Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari segala gangguan setan laki-laki maupun perempuan.

Ketika keluar dari WC kita dianjurkan meminta ampun kepada Allah dengan mengucapkan: ‘Ghufraanaka’

10. Hilangkan najis dengan sempurna

Menghilangkan najis dengan sungguh-sungguh setelah selesai buang hajat dengan air seputar kemaluan atau dubur sekurang-kurangnya tiga kali atau ganjil atau sampai bersih menurut kebutuhan.

Hal ini penting diketahui wanita, jika kita meremehkan hal kebersihkan ini maka sisa najis masih menempel dan ini akan menimbulkan siksa kubur.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhu bahwa ia bercerita: “Suatu kali Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melewati dua kuburan lalu berkata:

“Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini sedang disiksa, bukanlah karena kesalahan yang besar. Salah seorang dari keduanya karena tidak beristinja’ setelah buang air, dan satunya lagi berjalan ke sana kemari menyebar namimah (mengadu domba).”
(H.R Al-Bukhari no:5592).

[irp posts=”148″ name=”Pasca Operasi Caesar, Tak Ada Darah Nifas, Bagaimana Hukumnya?”]

11.  Jika wanita tak mendapati air, maka bisa menggantikan dengan kertas tisu dengan jumlah yang cukup.

12.  Jangan sesekali wanita buang hajat pada air yang tidak mengalir atau menggenang, di lubang hewan atau tanah yang keras.

Dalilnya hadits Jabir Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang buang air pada air yang tergenang (tidak mengalir). (H.R Muslim no:423)

Karena perbuatan tersebut dapat mengotori air dan mengganggu orang-orang yang menggunakannya.

13.   Jangan sembarangan buang hajat, jangan di jalan atau pada tempat-tempat berteduh.

Dalilnya hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jauhilah dua perkara yang mendatangkan kutukan!” Mereka bertanya: Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Buang hajat di tengah jalan atau ditempat orang-orang berteduh.” (H.R Abu Dawud no:23 dan dicantumkan dalam Shahih Al-Jami’ no:110.

14. Jangan bersuara apalagi mengucapkan salam

Jangan mengucapkan salam pada orang yang sedang buang hajat, jangan bercakap-cakap didalam kamar mandi apalagi bernyanyi, karena makruh hukumnya jika tanpa keperluan.

15.  Jangan menahan kencing dan berak jika tidak terpaksa.

Hal ini selain membuat tidak nyaman diri dan mungkin oranglain, maka bisa jadi kesehatan akan terganggu dengan kebiasaan seperti ini.

Semoga para wanita dapat mengambil manfaat dari artikel di atas, InsyaAllah.

Referensi:
Candra Nila Murti Dewojati, 202 Tanya Jawab Fikih Wanita, 2012, Al Maghfirah, Jakarta

loading...
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *