Kiat Menata Hati Saat Kehilangan Orang yang Dikasihi

Sedih saat kehilangan orang yang dicintai atau kehilangan sesuatu adalah hal wajar dan sangat manusiawi.

Jangankan manusia seperti kita yang tidak pandai menata hati, sekelas Rasulullah pun sangat terpukul saat kehilangan dua orang yang berjasa dalam kehidupannya, yakni Khatidjah Istri yang dicintainya, dan Abu Thalib, paman yang amat dihormatinya.

Saking sedihnya, sampai-sampai Fatimah, putri beliau mengambil alih urusan keluarga sambil meneguhkan hati beliau.

tegar meski kehilangan orang terkasih

kiat tetap tegar meski ditinggal orang terkasih (gbr, mymfb.com)

Ibnu Qayyim dalam kitab Al-Fawa’id mengatakan jika sesungguhnya dunia itu tempat berbagai macam musibah, penyakit, penderitaan dan kesusahan disamping kesenangan duniawi.

Allah meneguhkan hati Rasulullah saat bersedih dengan diturunkan surat Al Insyirah ayat 1-8:

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu. Yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (al-Insyirah: 1-8)

Namun sebagai manusia, kita tetap berusaha untuk tetap tegar saat ditimpa musibah.

Ada beberapa kiat menata hati saat kehilangan orang yang dikasihi yang patut kita renungi dan lakukan, bukan hanya sekedar meratap bersedih bahkan samapai kehilangan Arah!

1. Selalu berbaik sangka dengan Allah!

Allah sesuai dengan persangkaan hambaNya. Jika seorang hamba sudah tidak percaya akan beradaanNya, Ke-Esa-anNya, CampurtanganNya, maka Allah akan menjauh. Begitu pula jika Hamba yang mencintaiNya, maka Allah akan memberi perlindungan pada hamba yang membutuhkanNya, hal ini tercantum dalam hadis Rasulullah:

“….Jika dia meminta kepadaKu, niscaya Aku memberinya. Dan jika dia berlindung kepada-Ku, niscaya aku meindunginya” (HR. Bukhari)

2.    Mengubah Sudut pandang

Bukan hal yang mudah untuk seseorang yang tengah terpuruk atau bersedih dengan sangat untuk segera bangkit. Dari sini sebenarnya seseorang diuji, sejauh mana ia mampu mengelola hati saat berduka atau menghadapi musibah. Mengubah sudut pandang bisa dilakukan dengan belajar mengambil hikmah dari pengalaman hidup.

Sudut pandang mengenai kesedihan atau musibah adalah sesuatu kehendakNya yang akan segera berlalu saat waktu bergulir. Dan percaya, jika suatu saat Allah akan mengganti keikhlasan menjadi pahala atau ganti yang lebih baik. Dan mulai memahamkan diri, jika kesedihan tak akan hilang jika hanya diratapi, tanpa melakukan usaha apapun untuk bisa move on.

3.    Belajar Ikhlas

Dari segi bahasa yang dimaksud ikhlas adalah memurnikan dari kotoraan, membebaskan diri dari segala yang merusak niat dan tujuan kita dalam suatu amalan.

Memang tidak semudah kata saat seseorang diminta untuk mengiklaskan seseorang yang dicintai pergi selamanya, barang yang dicintai hilang atau rusak, atau musibah yang menimpa. Namun, jika manusia belajar untuk menghambakan diri hanya kepada Allah, dan segala sesuatu di kaitkan hanya kepadaNya, kehidupan akan lebih mudah dijalani.

Rasa sakit hati, pedih dan kehilangan dari seseorang yang belajar ikhlas dengan seseorang yang sama sekali tidak pernah memasukkan rasa ikhlas dalam hatinya akan sangat nyata perbedaannya.

4.    Berserahlah hanya kepada Allah!

Tawakal atau berserah diri pada Allah adalah hal yang sangat penting yang harus dilakukan oleh seorang muslim ketika berperilaku dan bersikap. Orang yang bertawakal itu berbanding lurus dengan cara pandang kehidupan, kepribadian sekaligus tingkat beribadahnya.

Orang yang tekun beribadah selalu menghamba pada Allah dan menggantungkan hidup mati, rezeki, kegagalannya juga sukses dan semua yang ada dalam dirinya hanya pada Allah semata.

Semoga bermanfaat.

loading...
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *