Rukhsah Puasa, Inilah 7 Golongan Orang yang Boleh Meninggalkan Puasa

Rukhsah dan keringanan puasa
Ternyata, jika ditelusuri tidak semua orang diperbolehkan berpuasa. Bahkan beberapa golongan orang terlarang melakukan berpuasa.

Mengapa demikian? Karena ada beberapa alasan, pertama secara syar’i memang dilarang berpuasa, karena ada alasan yang memberatkan, alasan kesehatan dan beberapa alasan lainnya.

Berikut akan saya sajikan beberapa orang yang terlarang berpuasa di bulan Ramadhan. Di antaranya adalah:

1. Ibu Hamil atau menyusui

Di antara wanita yang tengah hamil dan menyusui ini memang mendapatkan dispensasi untuk tidak berpuasa, dikarenakan kondisional yang menyertai.

Jangankan saat puasa, pada hari lainnya, ibu-ibu yang tengah hamil mengalami kondisi yang luar biasa. Mulai dari pusing, muntah-muntah, lemas, tidak mau makan atau bahkan ia harus bedrest tidak boleh beraktivitas seperti biasanya, karena kondisi kehamilannya.

Begitupula ibu yang sedang menyusui anaknya, saat tidak fit, air susu bahkan tidak keluar sama sekali saat berpuasa. Jika kedua hal tadi benar-benar menjadi pemberat ibu-ibu untuk berpuasa, maka ia terlarang untuk berpuasa, karena akan menimbulkan mudharat, bukan hanya pada dirinya, tapi juga anak dalam kandungannya, atau yang disusuinya.

“Sesungguhnya Allah telah memberikan keringanan bagi musafir  untuk tidak mengerjakan setengah shalat dan bagi orang yang hamil serta menyusui  untuk tidak berpuasa.” (Hadits Hasan riwayat Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Nasai).

[irp posts=”277″ name=”Batalkah Puasa Saat Mencicipi Masakan, Menggunakan obat Asma, Tetes Mata, Suntik Obat, Berkumur, dan Cairan Penyegar Mulut?”]

Namun untuk ibu-ibu hamil dan menyusui yang menurut advis dokter dinyatakan sehat menjalankan puasa, maka hal tersebut tak mengapa dan lebih baik baginya.

2.  Wanita haid atau Nifas

Ulama sepakat jika wanita dalam keadaan haid atau nifas, terlarang untuk berpuasa ataupun shalat.

Ibnu Qudamah berkata, “Ahlul ilmi sepakat bahwa wanita haid dan nifas tidak halal untuk berpuasa, bahkan keduanya harus berbuka di bulan Ramadhan dan mengqadhanya. Bila keduanya tetap berpuasa maka puasa tersebut tidak mencukupi keduanya (tidak sah)….” (Al-Mughni, kitab Ash-Shiyam, Mas’alah wa Idza Hadhatil Mar’ah au Nafisat)

Al-Imam An-Nawawi berkata, “Kaum muslimin sepakat bahwa wanita haid dan nifas tidak wajib shalat dan puasa dalam masa haid dan nifas tersebut.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 3/250).

3.  Orang tua

Orang-orang tua yang sudah pikun dan dalam segi kesehatannya tidak memungkinkan untuk menjalankan ibadah puasa, maka baginya terlarang untuk berpuasa, karena saat menjalankannya malah bisa jadi masalah kesehatan untuknya.

Untuk itu, ia diwajibkan membayar fidyah kepada orang miskin, setiap hari di waktu ramadhan yang ditinggalkannya.

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (Al-Baqarah: 184).

4.  Orang yang tengah sakit

Tentu kondisi orang sakit yang tidak  mampu untuk menjalankan puasa. Jika hanya sakit ringan, dan ia berniat untuk bisa menjalankan puasa, maka Allah memberi kekuatan dan kemudahan.

Namun jika malah kondisinya betambah buruk, maka sebaiaknya ia tidak berpuasa.

Untuk orang yang tengah sakit berat, maka ia benar-benar terlarang menjalankan puasa. Rukhsah ini memang ada ayatnya, yakni tertuang dalam Al Qur’an:

“Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185)

5.  Anak Kecil

Jika hanya sebagai sarana belajar berpuasa, maka tidak mengapa malah baik untuknya. Latihlah secara bertahap, hingga sampai puasa sempurna. jangan dipaksa anak kecil yang belum mempunyai kewajiban untuk berpuasa, karena selain memberatkan bisa menimbulkan trauma.

Anak kecil yang terlihat dehidrasi, bibir pecah-pecah, mengeluh pusing dan terlihat sangat lemah, maka ia terlarang untuk berpuasa atas kondisi dan usianya. Ia wajib berbuka, karena dikhawatirkan menjadi masalah kesehatan yang serius.

6.  Pekerja Berat

Puasa hanya berlangsung sekali dalam setahun selama ssatu bulan. Sangatlah rugi bagi muslim tidak menjalankannya dengan alasan pekerjaan beratnya yang tidak bisa tinggalkan.

Jika pekerjaan itu benar-benar untuk memenuhi kebutuhan keluarganya tanpa kecuali, dan tidak ada pekerjaan lain yang lebih ringan selama puasa ia lakukan, maka ia boleh tidak berpuasa, dengan mengganti puasa pada  bulan lain dan membayar fidyah jika mampu.

Namun jika masih memungkinkan alangkah baiknya ia mengurangi pekerjaannya untuk menjalankan puasa. Karena kebanyakan yang saya amati, mereka atas nama pekerjaan, banyak yang menafikan puasa. Jangankan berniat puasa, untuk shalat lima waktu saja yang tidak membutuhkan banyak energi banyak yang mereka tinggalkan.

[irp posts=”239″ name=”Bijak Melatih Anak Puasa Dengan Waspadai Tiga Hal yang Akibatnya Bisa Fatal Ini”]

7.  Musafir

Masih menjadi perdebatan, musafir seperti apa yang diperbolehkan tidak menjalankan puasa? Karena pada dasarnya untuksekarang ini perjalanan lebih mudah daripada saat lalu apalagi saat Rasulullah menjalankan safar. Ada ulama menyatakan jika yang dikatan safar jika perjalanan yang ditempuh minimal 80 KM.

Akan tetapi, yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa jarak perjalanan yang dibolehkan seseorang tidak berpuasa dikembalikan kepada “urf” (kebiasaan masyarakat).

Jika masyarakat mengatakan bahwa perjalanan tersebut merupakan perjalanan (safar), berarti dia dibolehkan untuk tidak berpuasa. Sebaliknya, jika masyarakat mengatakan bahwa itu bukan sebuah perjalanan (safar) maka seseorang tidak boleh meninggalkan puasa.

Sekali lagi jarak dan angkutan yang dipergunakan dalam perjalanan jiga mempengaruhi. Semisal pergi dengan menggunakan pesawat hanya sekitar 4 jam perjalanan dan tidak merasa lelah walau jaraknya sangat jauh, berbeda jika ia pergi dalam jarak yang sama dengan menggunakan sepeda motor atau angkutan lain yang menguras banyak tenaga adan emosional.

Jika niat yang teguh dan orang dalam keadaan safar itu kuat menjalankan puasa maka sebaiknya ia tetap menjalankan puasa. Namun jika akhirnya mereka yang melakukan safar itu kepayahan (misi penelitian di pedalaman, atau mendaki gunung (karena tugas), atau memang perjalanannya lama, melelahkan dan sulit), maka ia boleh berbuka puasa atau tidak berpuasa karena alasan tersebut.

Ketujuh hal ini semoga bisa dipahami dengan baik, dan InsyaAllah kita jadi insan yang mumpuni dan bijak dalam menyikapi segala sesuatunya.

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *