Sarana Permainan Anak di Mall, Haramkah?

Sarana Permainan Anak di Mall, Haramkah?
Belakang ini, banyak permainan anak yang menggunakan teknologi bermunculan, belum lagi sarana permainan anak di beberapa pusat perbelanjaan juga marak dan selalu penuh dikunjungi anak-anak saat musin liburan.

Sarana bermain anak, memang tidaklah salah jika unsurnya mendidik, melatih kecerdasan, ketangkasan dan sarana membuat hati menjadi bahagia. Tidak bisa dipungkiri jika masa anak-anak adalah masa bermain. Jika hanya itu-itu saja permainan, tanpa ada inovasi, biasanya anak menjadi cepat bosan.

Kemajuan teknologi untuk membangun sarana permainan, merupakan alternatif yang baru untuk mengatasi rasa keinginan tahu anak, sarana edukasi dan ketangkasan. Tak kecuali sekarang yang muncul di banyak Mall di kota-kota besar.

Pada dasarnya hukum asal untuk bermain disarana permainan adalah boleh, namun banyak pihak yang khawatir, dan memindai jika beberapa item permainan ada yang tidak Syar’i.

Lalu, rambu-rambu seperti apa saat mengajak anak-anak bermain di sarana permainan anak?

1. Tidak bersifat boros atau menghamburkan uang.

Seperti diketahui untuk ikut bermain pada sarana permainan anak itu, biasa membeli kartu  (powercard) atau membeli koin, yang nantinya digesekkan atau koin dimasukkan pada permainan tertentu agar bisa digunakan.

Setiap permainan memiliki ‘harga’, jika terlalu asyik, bukan tidak mungkin anak dengan cepat menghabiskan uang dari kartu tersebut, dan menginginkan diisi kembali. Padahal setiap pengisian kartu tidaklah murah.

Jika hal tersebut akhirnya memboroskan uang untuk sesuatu yang kurang penting, maka

Tindakan demikian tidak diperbolehkan dalam Islam, karena termasuk  pemboros termasuk saudara-saudaranya syaitan.

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan”. (QS Al. Israa’ ayat 26-27).

2. Tidak memilih permainan yang sifatnya mengajarkan judi atau untung-untungan.

Ada beberapa bentuk permainan yang mengajarkan untung-untungan atau berjudi. Seperti menekan tombol, lalu ada bola dari atas lalu memantul dan masuk pada angka-angka.

Jika bola masuk angka tertentu, maka ada tiket keluar dari mesin yang ditunjukkan angka itu. Tiket itu jika dikumpulkan bisa ditukarkan macam-macam barang sesuai dengan poin yang tertulis.

Permainan ini bersifat untung-untungan. Bisa jadi, karena ingin mendapatkan tiket banyak, maka ia akan menghabiskan banyak uang untuk itu.

Permainan yang mengajarkan mengundi nasib, serupa dengan judi. Meski niatnya hanya untuk senang-senang, hukum yang berupa syubhat, atau hukumnya meragukan, yakni antara halal atau haram  dalam Islam, sebaiknya dihindari.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya ( meminum ) khamar, berjudi, ( berkorban untuk ) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan Syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. (Al Maidah : 90)

3. Pilihlah permainan yang sifatnya berupa ketangkasan, menyenangkan, membuat cerdas dan bahagia anak.

Pada dasarnya masa anak-anak adalah masa bermain. Tak bisa dicegah jika mereka ingin mencoba teknologi terbaru dari sebuah permainan. Perhatikanlah, jika masih dalam taraf yang tersebut no 3, maka hukumnya boleh.

4.Apapun permainannya,   namun membuat lalai pada Allah, hukumnya haram.

Yang perlu diperhatikan jika anak terlalu asyik bermain dimanapun dan lupa waktu, diingatkan tidak mau, dan sampai meninggalkan shalat, maka hal itu adalah tidak boleh. Hukum asal halal, akan tetapi dalam perjalanannya membuatnya melakukan hal-hal dosa, maksiat dan hal-hal negatif lainnya maka bisa menjadi haram.

5.Bagaimana dengan tiket yang didapat dari bentuk permainan yang sifatnya syubhat?

yang meragukan tinggalkanlah! Jika tiket itu semata didapat sebagai hadiah atas ketangkasannya, seperti belajar memanah, tepat mendapat hadiah, atau menembak target, memasukkan bola kekeranjang, atau tenis meja dan lainnya, maka itu diperbolehkan, karena itu merupakan reward bagi anak.

Namun jika didapat dari permainan yang sifatnya hukumnya meragukan (mengandung judi atau tidak), maka sebaiknya tidak dilakukan.

Dari Abu Muhammad al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kesayangannya Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Aku telah hafal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu’.” [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasâ`i. At-Tirmidzi berkata,“Hadits hasan shahîh].

6.Tugas Orangtua memilihkan permainan yang halal, mencerdaskan, membuat tangkas dan membahagiakan anak!

Jangan salahkan anak saat ia memilih mainan yang kurang sesuai, karena pada dasarnya ia belum cukup nalar untuk itu. Tugas orangtualah yang mengarahkan.

7. Mainan yang sifatnya membahayakan (baik secara fisik maupun psikis) maka lebih baik ditinggalkan.

Untuk itu sebaiknya orangtua menemani anak-anaknya saat pergi bermain ke sarana permainan anak, agar bisa melihat, memilah dan memilih permainan yang aman dan terbaik untuk mereka.
Beberapa hal ini semoga bisa menjadikan perhatian orangtua dalam memilihkan permainan yang terbaik untuk anak.

Mulailah kehidupan diisi dengan hal-hal yang syar’i agar kehidupan terberkahi. Hal yang kecil, kadang jika luput dari perhatian, dan kita tidak mau tahu hukumnya secara Islam, maka akan dikhawatirkan beberapa hal yang lebih besar yang menyangkut hukum Islam tidak kita perhatikan.

Semoga manfaat!

loading...
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *