Pergi Berhaji Atau Punya Rumah, Mana yang Didahulukan?

pilih haji dulu apa punya rumah
Berhaji di zaman sekarang bukan keniscayaan. Bertambahnya kesadaran setiap muslim, dan meningkatnya kesejahteraan penduduk di Indonesia, memicu keinginan sebagian besar umat di Indonesia untuk berhaji. Terlebih ada dana talangan pemerintah yang menanti.

Akibatnya, jumlah quota haji, tak seimbang dengan keinginan sebagian penduduk muslim yang ingin menunaikan rukun Islam yang kelima ini dengan sempurna. Waiting list yang begitu lama, mendorong banyak orang mengalihkan dananya pada umrah, atau haji kecil, meskipun pada saat ini biaya antara umrah dan haji, selisihnya hanya sedikit saja.

Meski diakui, tidak semua orang yang menunaikan ibadah haji atau umrah itu mempunyai tempat tinggal milik sendiri, alias rumah sendiri, dengan berbagai alasan. Alasan utama kemungkinan masih diberi rumah dinas, menunggui dan merawat orangtua, sampai dengan harga hunian bisa berlipat-lipat dari biaya ongkos naik haji.

Jika disyaratkan untuk berhaji harus punyai rumah sendiri, kemungkinan besar jumlah orang yang berhaji akan menyusut tajam. Hal ini dikarenakan, banyak orang yang berhaji karena biaya dinas, biaya perusahaan, hadiah dari suatu produk, hadiah dari orang lain, anak-anak yang mengikuti orangtua dalam berhaji  atau menabung selama bertahun-tahun untuk bisa laksanakan haji dan banyak lainnya.

Lalu, syarat berkemampuan dalam berhaji itu seperti apa? Mampu secara materi (ada biaya untuk berhaji bekal maupun perjalanan) juga dalam kesehatan, kemampuan melakukan perjalanan fisik, tidak menderita sakit berat atau sakit lainnya yang akan menyusahkan orang lain dalam perjalanan berhaji.

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali ‘Imran: 97).

Ada beberapa orang memahami jika mampu di sini, adalah orang yang akan berhaji ini sudah memiliki tempat tinggal tetap, mampu menafkahi keluarga saat ditinggal haji. Hingga keutamaan dalam berhaji dan kepemilikan rumah adalah sama-sama maslahah.

Kepemilikan rumah dalam Islam hukumnya adalah mubah (boleh) dan merupakan hal yang sifatnya non ibadah, sedang berhaji adalah wajib saat kemampuan (biaya ONH, dan mampu secara fisik, juga biaya hidup keluarga selama ditinggal berhaji) itu ada. Jika kedua-duanya merupakan maslahah, lalu mana yang harus diutamakan?

“Jika ada beberapa maslahah saling bertabrakan, maka diutamakan yang paling besar maslahahnya. maka yang wajib didahulukan dari yang mustahab (sunnah), yang rajih (lebih kuat) dari dua perkara didahulukan dari yang marjuh (lebih lemah)”

Mayoritas ulama Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hambali menyatakan  yang disebut mampu dalam berhaji, bukan perkara memiliki rumah sendiri, namun dalam hal bekal dan kendaraan. Ulama lainnya Imam malik, menyatakan kemampuan itu ditambah kemampuan dari orang yang berhaji bisa berjalan dengan dua kakinya, dalam arti tidaklah sakit atau mempunyai masalah dengan kaki, karena seperti diketahui ibadah haji adalah ibadah fisik.

Hanya saja, pendapat terakhir ini memang hanya diperlukan pada masa lalu, karena saat ini jika seseorang yang tidak kuat berjalan akibat renta atau tua, bisa dengan bantuan kursi roda.

Penjelasan di atas bisa ditarik garis merah, jika persoalan belum mempunyai rumah sendiri, bukan merupakan alasan seseorang untuk mengurungkan ibadah wajib saat seseorang mempunyai kemampuan dalam melaksanakan haji. karena balasan orang yang berhaji tiada lain adalah surga.

“Haji mabrur itu tidak memiliki balasan kecuali surga” (HR. Al Bukhari 1773, Muslim 1349).

Karena hukum memberi rumah bukanlah wajib, walaupun ia mampu, maka dahulukanlah berhaji yang merupakan ibadah wajib saat ia berkemampuan. InsyaAllah akan diganti rezeki yang lebih melimpah, jika manusia mendahulukan ibadah karena kecintaannya pada Allah, melebihi pada harta.

“Sungguh, tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza Wa Jalla, kecuali Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dari sesuatu itu bagimu” (HR Ahmad 23074, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 2/734).

Bukan hanya itu, saat menunaikan ibadah haji, seorang muslim memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk diijabahi doa-doanya, yang akhirnya akan mempermudah seseorang memiliki apa yang diinginkan untuk mencukupkan kehidupannya, termasuk keinginan membeli rumah sendiri.

“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumrah, mereka adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, dan mereka pun ternyata memenuhi panggilan Allah itu. Jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah kabulkan” (HR. Ibnu Majah 2357. dihasankan Al Albani dalam Shahih Ibni Maajah).

Begitu pula Syaikh ‘Ali Ridha Al Madini menanggapi perkara seseorang yang berkeinginan  akan berangkat berhaji akan tetapi masih mengontrak rumah, apakah yang sebaiknya ia lakukan pergi berhaji, atau membeli rumah, dengan uang tersebut? maka ia menjawab:

“Hendaknya ia pergi haji, kemudian setelah itu semua Allah memudahkan urusannya”

Semoga Allah juga memudahkan urusan kita untuk menentukan langkah yang terbaik dalam kehidupan ini.

loading...
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *