Islam Melarang Penggunaan Nama Suami di Belakang Nama Istri?

nasab suami istri
Satu hal sederhana ini seringkali masih saja menjadi pro dan kontra di kalangan muslim, mengenai penyematan nama suami di belakang nama istri.

Dalam Budaya Barat, penyematan tersebut, sudah lazim dan bahkan secara resmi wanita yang sudah beristri, selalu menggunakan nama suami dibelakang namanya sendiri.

Bagaimana dengan Indonesia? Penyematan nama suami di belakang istri sudah sangat lazim digunakan, bukan semata sebagai suatu budaya namun yang terpenting berfungsi untuk memudahkan  mengenali, dan sekaligus sebagai sarana komunikasi sosial, jika dimanapun berada istri selalu ‘membawa’, nama suami.

Serta memudahkan jika seseorang ada nama yang sama dengan orang lain, maka nama suami dibelakangnya akan memudahkan dimengeti.

Lalu, bagaimanakah dengan Islam? Sepertinya beberapa ulasan membingungkan kaum muslim yang berkenaan dengan  suatu kebiasaan yang sudah lama berlaku di Indonesia. Yuk, kita simak hukum fikihnya dengan 3 pendapat mengenai hal ini:

1. Membolehkan

Pembolehan penggunaan nama suami di belakang nama istrinya selama bukan dengan tujuan untuk mengalihkan nasab atau keturunan. Hal ini disampaikan oleh Lembaga Fatwa Dar al-Ifta Mesir.

Jika penggunaan tersebut hanyalah merupakan kebiasaan atau tradisi komunitas atau bangsa tertentu, sepanjang tidak terjadi dan memicu kerancuan maka hal tersebut tidak menjadi persoalan. Jika ada yang menyatakan apakah tradisi semacam itu termasuk tasyabuh atau meniru perilaku orang kafir yang dilarang?

Jawabannya adalah jika suatu perkara  yang ditiru adalah perkara yang dilarang dalam agama, serta ada unsur niat untuk menyerupai pelaku yang ditirunya , mak hal tersebut jelas dilarang.

Ada salah satu kisah dimana Rasulullah kedatangan tamu, bahwa suatu ketika Zainab istri Abdullah bin Mas’ud datang kepada Rasulullah dan minta izin untuk bertemu. lalu ada salah seorang yang ada di dalam rumah berkata, “Wahai Rasulullah, Zainab meminta izin untuk bertemu.”Zainab siapa?”, tanya Rasulullah. “Istri ibnu Mas’ud”. lalu beliau berkaya, “Ya, persilahkan dia masuk”. (HR. Bukhari).

Menyimak hadis diatas kita mengetahui jika penyebutan Zainab ibnu Mas’ud di hadapan Rasulullah tidak dilarang oleh Rasulullah.

2. Melarang

Berdasarkan Fatawa Lajnah Daimah jilid 20 hal 379 melarang untuk menambahkan nama suami dibelakang istri karena dengan alasan memperlihatkan nasab atau keturunan sekaligus menyerupai budaya kaum kafir.

Allah berfirman yang artinya , “Panggilan mereka dengan menasabkan mereka kepada ayah mereka. Itulah yang lebih adil disisi Allah (QS. al Ahzab ayat 5).

Berdasarkan ketentuan diatas maka tidak diperbolehkan menasabkan seorang wanita kepada suaminya sebagaimana kebiasaan orang kafir.

3. Membolehkan dengan kondisi darurat

Situasi dan kondisi seseorang dimana berada harus mengikuti peraturan dimana ia tinggal atau berdomisili. Seperti seorang wanita yang mengikuti suami tinggal di negara Barat, dimana otoritas  setempat memberlakukan kebijakan tersebut untuk dokumen-dokumen resmi.

Sejumlah guru besar yang mendukung opsi ketiga ini adalah Prof Ablah al-Kahlawi, Aminah Nashir, dan Ahmad Husain, dari Universitas Al-Azhar .

Moga bermanfaat.

loading...
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *