Jadilah Pemimpin yang Cerdas Kelola Perbedaan

jadilah-pemimpin-yang-cerdas-kelola-perbedaan

Awal-awal peperangan yang diikuti prajurit Muslim, para sahabat belum punya aturan baku untuk memperlakukan tawanan. Sampai beberapa ayat turun yang menengahinya. Hingga dalam menghadapi 70 tawanan perang Badar, di antara sahabat terjadi beberapa perbedaan.

Abu Bakar Ash Shidiq, salah seorang sahabat yang lembut hati, mengusulkan agar para tawanan itu dibebaskan dengan pembambayaran uang tebusan dari keluarganya. Pendapat ini didukung sabagian besar sahabatnya.

Namun di sisi lain, Umar bin Khattab yang terkenal tegas, tidaklah setuju. “Demi Allah, aku tak setuju dengan pendapat Abu Bakar!”. Ujar Umar yang berjuluk Al Faruq ini. “Serahkan tawanan dari familiku, akan kupancung lehernya. Aqil bin Abi Thalib Anda serahkan kepada Ali bin Abi Thalib, biar ia penggal lehernya. Dengan demikian Allah akan mengetahui bahwa kita tak menaruh belas kasihan kepada kaum musyrikin itu! Tambah Umar dengan nada tegas.”

Bisa dipahami dalam awal peperangan Islam, banyak dari para sahabat ini bertempur melawan kerabatnya sendiri, yang tak mau disuruh untuk masuk Islam, malah mereka banyak yang berlaku aniaya kepada kaum Muslimin. Pendapat Umar ini didukung oleh Sa’ad bin Mu’adz. “Wahai Rasulullah saw, saya setuju dengan pendapat Umar. Mereka (tawanan) memang tak berguna bagi kita dan tidak perlu lagii dibagikan kasih sayang. Ujar Sa’ad.”

Abdullah bin Rawahah terlihat lebih ekstrim lagi, “Wahai Rasulullah, lebih baik tawanan ini kita ikat dan kita kumpulkan ditepi jurang yang banyak kayunya. Di sana kita nyalakan api, dan dibakar. Habis perkara!”

Rasulullah memandangi sahabatnya sebelum Ia memberikan keputusan, Dua kubu dengan dua alasan yang bagus. Karena belum ada ayat yang turun menengahi persoalan tawanan, beliau diharapkan memberikan keputusan yang tepat dari perbedaan pendapat, yang diharapkan menjadi solusi terbaik dan tak ada yang merasa dipinggirkan, dan sungguh, memang Beliau terkenal bukan orang yang otoriter terhadap perkara yang belum memperoleh hukum tetap.

“Wahai Abu Bakar, kamu digolongkan kepada kelompok Malaikat, engkau seperti malaikat Mikail. Ia turun atas keridhaan Allah dan ampunan atas hamba-Nya. Kau digolongkan seperti nabi Ibrahim, Ia datang pada kaumnya dengan kata-kata semanis madu dan lebih putih dari air susu. Bahkan saat kedatangannya ditolak kaumnya sekalipun, ia tetaplah hamba yang sangat sabar dan tabah… ,” kata Rasulullah memulai menengahi persoalan tawanan ini dengan memuji sahabatnya. “Engkau pula laksana Nabi Musa, juga laksana Nabi Isa yang berkata,”Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu. Jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS. Al Maidah 118).

Selanjutnya Rasulullah memandang Umar dan berkata,”Kalau engkau juga digolongkan seperti kelompok malaikat. Malaikat Jibril yang turun membawa murka dan siksaan bagi musuh-musuhNya. Jika digolongkan pada nabi, maka engkau termasuk golongan Nabi Nuh, ketika tak mungkin lagi mendapat kepercayaan dari umat yang selalu mendustakan ajarannya dengan berdoa,”Ya Tuhanku, jangan Engkau biarkan seorangpun diantara orang-orang kafir itu tinggal dipermukaan bumi.. Jika Engkau membiarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan Hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan anak selain anak yang berbuat maksiat lagi kafir..” (QS. Nuh 26-27).

Akhirnya Rasulullah memilih pendapat Abu Bakar, karena memang kecenderungan Beliau yang penuh welas asih. Setiap tawanan dimintai tebusan antara 1000-4000 ribu dirham. Bagi yang tidak mampu diharuskan mengajari sepuluh pemuda Madinah untuk membaca dan menulis.

Keputusan ini berdasarkan ijtihad (pemikiran) Rasulullah dan sebagian besar sahabat. Ijtihad ini diambil karena melihat, sebagian besar kaum muslimin pada saat itu serba kekurangan. Mereka banyak yang datang di medan peperangan dengan kondisi seadanya. Hingga Rasulullah merasa miris dan berdoa,”Ya, Allah mereka berjalan tanpa alas kaki, ringankanlah langkah mereka. Ya Allah, mereka memang kekurangan pakaian, anugrailah mereka pakaian. Ya Allah, mereka itu kelaparan, kenyangkanlah mereka”. Dan dengan uang tebusan itu diharapkan dapat sedikit membantu kondisi kaum muslimin saat itu yang serba kekurangan.

Pendapat Abu Bakar didasari oleh pertimbangan jikalau tawanan mendapat welas asih untuk tidak dieksekusi, maka diharapkan mereka segera mengetahui kalau sebenarnya Islam itu, agama yang penuh kasih sayang, dengan demikian diharapkan tergugah dan selanjutnya beriman kepada Allah. Bukan sama sekali karena menginginkan harta. Ia ingin harta yang dirampas dari kaum Muhajirin saat itu dikembalikan, memperbaiki taraf hidup muslimin pada saat itu. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata pertimbangan ini tak selalu membuahkan hasil yang baik. Karena hal itu dilakukan disetiap peperangan, maka yang terjadi bukan lagi manfaatnya yang timbul, namun sudah mengarah pada mudharatnya.

Bila setiap peperangan tawanan dilepas dengan uang tebusan, maka yang terjadi, tidak mesti tawanan yang lepas itu sadar untuk masuk Islam, tapi malah bertambah membenci Islam dan memerangi Islam kembali dengan kebencian yang sangat tinggi, kemudian mereka membunuh para prajurit Muslim dengan membabi buta. Dan bila setiap peperangan kaum Muslimin hanya berpikiran mengejar harta, maka itulah yang dikhawatirkan Allah, bahwa niat mereka berperang tidak lagi menjadi lurus.

Hingga ada ayat Allah yang berupa teguran, “Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya dimuka bumi. Kamu menghendaki harta duniawi, sedangkan Allah menghendaki pahala akhirat untukmu”(QS Al Anfal:67-68)

Setelah ayat ini turun, Rasulullah tidak menggunakan tebusan untuk tawanan. Tidak mengejar sesuatu yang bersifat materialistic, ketika berada dijalan Allah adalah lebih utama. Dan ini untuk panutan generasi selanjutnya.

Namun ada hal yang sangat penting disimak dari kisah ini. Seseorang harus piawai mengelola perbedaan. Pada saat sekarang ini malah yang terjadi berbeda, banyak masalah tak bisa dipecahkan dengan baik, ketika seorang pemimpin tak cerdas menyelesaikan masalah.

Sehingga bisa menimbulkan masalah baru, karena mereka yang tak puas dari hasil keputusan pemimpin bisa menjadi ‘duri dalam daging’ dan berpontensi membvuat keonaran. Memang cerdas dalam mengelola perbedaanlah memang sangat diperlukan.

Referensi:
Candra Nila Murti Dewojati, 2012, Masuk Surga Walau Belum Pernah Shalat, Pen. Kalil, Jakarta

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *