Inilah Para Pemburu Lailatul Qadar yang Harus Anda Ketahui!

Memburu Pahala di Malam Seribu Bulan

Sebagai Rasul yang dicintai umat dan sudah mendapat jaminan maksum dari Sang Khalik, Rasulullah tetap saja giat beribadah.

Menyambut ramadhan dengan riang gembira dengan hati yang membuncah dengan memperbanyak beribadah, melebihi dari hari-hari biasanya.

Dan beliaupun tidak segan untuk selalu mendorong hamba Allah untuk mencari malam yang sangat luarbiasa ini dengan semangat.

Para sahabat Nabi saw, seperti Umar bin Khattab ra, mempunyai cara tersendiri untuk menggiatkan diri dan mengisi hari saat Ramadhan, terutama saat sepuluh hari terakhir.

[irp posts=”368″ name=”5 Amalan yang Bisa Dilakukan Saat I’tikaf Sesuai Sunnah Nabi”]

Ia setelah salat Isya’ akan pulang ke rumahnya dan mengerjakan shalat sepanjang malam hingga terdengar adzan subuh, namun setelah sepuluh hari terakhir tentu beliau akan kembali ke masjid, bersiap I’tikaf.

Tak berbeda dengan Umar, Utsman bin Affan ra, ia menghabiskan malam dengan shalat, ia tidur sebentar pada sebagian awal malam.

Di setiap rakaatnya Utsman bisa mengkhatamkan seluruh Al Qur’an. Syaddad ra, menuturkan ia berbaring tanpa tidur sepanjang malam sambil miring ke kanan dan kekiri sampai waktu fajar, kemudian ia berkata, “Ya Allah, ketakutan terhadap neraka jahanam telah mengusir kantukku”.

Pemburu lailatul qadar dari kalangan sahabat yang lain adalah Shilah bin Ashyim yang biasa menghabiskan seluruh malamnya untuk beribadah kepada Allah. Setelah matahari terbit ia berdoa,” ‘’Ya Allah, hamba tak pantas meminta surga kepada-Mu, tetapi hamba hanya memohon kepada-Mu agar menyelamatkan hamba dari Jahanam.’’

Dan begitu indahnya saat melihat Said bin Musayyab bisa selama 50 tahun selalu shalat isya’ sampai shalat subuh dengan satu wudhu, juga Aswad bin Yazid ra, yang tak mau kehilangan moment berharga lailatul qadar ini beribadah sepanjang malam sampai subuh, ia hanya tidur sebentar antara Maghrib dan Isya’.

Sahabat Qatadah, biasa mengkhatamkan Al Qur’an setiap tiga malam sekali selama bulan Ramadhan. Tak lupa Imam Abu Hanifah juga melakukan tindakan terpuji dalam menghiasi Ramadhan dan upaya meraih lalatul qadar, dengan melakuak shalat isya’dan subuh denga satu wudhu saja selama 40 tahun.

Teman-teman Abu hanifah sangat kagum dengan keteguhannya. Mereka bertanya bagaimana Abu hanifah bisa melakukan itu. Ia lalu menjawab, “karena ada doa khusus yang dimohonkan kepada Allah melalui Ismul Azham”.

[irp posts=”354″ name=”Mana yang Afdhol, Shalat Tarawih Tiap 2 Rakaat Salam Atau 4 Rakaat Salam?”]

Memang Abu Hanifah hanya tidur sejenak pada siang hari. Ia memang tidur hanya semata-mata mengikuti sunah saja. Ia pun sering menangis saat membaca Al Qur’an , sehingga tetangganya sering merasa kasihan kepadanya, apalagi saat yang dibacanya surat Al Qamar ayat 46.

Imam Syafii juga tak mau kalah dalam menghidupkan ramadhan yang indah dan penuh hikmah ini ia biasa mengkhatamkan Al Qur’am enam puluh kali selama bulan ramadhan dalam shalatnya, semua amal perbuatan yang luar biasa ini dlakukannya dan orang-orang yang mencintai TuhanNya dengan ikhlas hati dan hanya menghadap ridhaNya sehingga tanpa beban sedikitpun.

Referensi:
Candra Nila Murti Dewojati, 2014, Strategi Jitu Meraih lailatul Qadar, Qibla, Jakarta

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *