Hati-hati Bagi yang Memutuskan Pembagian Waris Sama Rata, Karena Hukumnya Haram!

pembagian sama rata harta warisan
Seringkali kita tidak menyadari jika ada salah satu ilmu dalam Islam yang disepelekan untuk dipelajari, yakni ilmu waris. Padahal Rasulullah SAW sudah mewanti-wanti umatnya untuk mempelajari ilmu waris.

Karena sesungguhnya ilmu pembagian harta waris itu merupakan setengah dari semua cabang ilmu. Bukan hanya itu, ilmu waris-lah yang akhirnya merupakan ilmu pertama yang akan diangkat dari muka bumi, sebelum kiamat datang.

Ironisnya, di zaman teknologi digital yang sudah maju dan pengetahuan agama sudah mulai cukup mudah diakses dan dipelajari, ilmu waris ini seolah dinafikan, atas nama keadilan dan pemerataan jika sudah berhubungan dengan harta.

Padahal jika dirunut, sepengetahuan apa manusia itu tentang keadilan persoalan harta waris? Hanya Allah yang paling paham terhadap kebutuhan umatnya.

Mengapa umat Islam harus menerapkan pembagian waris secara syar’i? Karena Allah sudah menjelaskan aturan dengan gamblang dalam Al Qur’an mengenai ilmu faraid, atau ilmu waris ini karena ada hikmah terbesar di dalamnya.

Tidak diperbolehkan manusia untuk mengubahnya, menambah atau menguranginya.

Ketaatan seorang hamba pada peraturan Allah akan diuji salah satunya melalui pembagian harta waris sesuai dengan aturan Islam. barang siapa membantah, pura-pura tidak tahu, atau sengaja untuk tidak melakukannya demi kepentingan pribadinya semata, maka sesuangguhnya ia telah bermaksiat pada Allah dan rasulNya, sesuai dengan firman Allah:

Artinya : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab : 36)

Mengenai hukum waris dengan jelas sudah tercantum dalam Al Qur’an:

Artinya : “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.” (QS. An Nisaa : 11)

Sangat jelas jika dalam surat An Nisa ayat 11 tidak ada kalimat pembagian antara anak adalah sama rata. Istimewanya dalam Islam, pembagian ini tidak statis, akan berubah hitungannya, kadarnya jika ahli warisnya bertambah atau berkurang, ada atau tidak bahkan ada yang tidak mendapatkan jika terhalang oleh ahli waris yang lain, atau menjadi mendapat bagian karena tidak ada ahli waris yang menghalangi.

Jadi, yang mendapatkan harta waris bukan hanya sekedar anak-anak dan pasangan yang masih hidup saja. Pihak yang masih menjadi mahrom bisa mendapatkan pula.

Dalam Islam,  pihak laki-laki ada 15 orang yang berhak mendapatkan warisan, seperti anak lelaki, cucu lelaki dari anak lelaki dan seterusnya, bapak, kakek, suami, saudara lelaki sekandung, sauadara lelaki sebapak dan lain sebagainya.

Sedang dari pihak perempuan ada 11 orang yang berhak mendapat waris, seperti ibu, anak perempuan, cucu perempuan dari anak lelaki dan seterusnya, nenek dari pihak ibu dan keatas, nenek dari pihak bapak, ibunya kakek dari pihak bapak dan lain sebagainya.

Alasan mendasar, mengapa bagian wanita setengah bagian dari pria (namun hitungannya akan berbeda jika ia anak tunggal, atau tidak meninggalkan ahli waris anak lelaki), karena bukan maksud Islam untuk menafikan kaum perempuan dengan bagian yang berbeda, namun lebih dari itu, Alasan yang mendasar adalah

1. Karena sesungguhnya wanita tidak memiliki kewajiban keuangan, sehingga tanggung jawab ekonomi adalah terletak pada pundak pria. Sebelum wanita menikah tanggungjawab keuangan dari ayah dan saudara lelakinya untuk mengurusi kebutuhannya.

2. Setelah menikah, tanggungjawab ekonomi terletak pada suami atau anak lelakinya.

3. Harta waris yang didapat oleh perempuan adalah milik perempuan, ia tidak mempunyai kewajiban untuk membaginya pada suami atau anak-anaknya atau untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Namun apabila perempuan membaginya, dan menggunakan untuk kepentingan keluarga, maka itu merupakan sedekah baginya.

Apabila Seseorang ingin membagi pemberian dengan sama rata antar anak-anaknya, maka itu dipastikan bukan urusan pembagian harta warisan namun  merupakan hibah untuk mereka.

Bahkan, perkara menyama-ratakan soal pemberian ini, oleh sebagian jumhur ulama dianjurkan, bahkan Rasulullah bersabda:

”Samakanlah di antara anak-anakmu (baik laki-laki maupun perempuan) dalam pemberian.” (HR. ath Thabrani)

Hibah ini sebaiknya diberikan bisa waktu-waktu biasa dalam keseharian, atau pada moment-moment tertentu, namun jangan saat pembagian harta waris tiba. Sebaiknya hibah yang bersifat khusus (nilai nominal yang lumayan, misalnya bonus menjual tanah atau bonus dapat proyek, diberikan saat pewaris masih hidup.

Fungsi hibah, di samping menujukkan kasih sayang orangtua, bersifat membantu, bisa pula memberikan apresiasi terhadap anak yang lebih membutuhkan biaya, seperti biaya rumah sakit saat anak ada yang sakit, biaya pendidikan, membayarkan hutang atau anak-anak perempuan yang memiliki kontribusi yang tinggi terhadap orangtua, semisal merawat orangtua saat tua saat sakit atau sampai akhir hayatnya, sedang anak lelaki yang jauh dari orangtua tidak pernah melakukan.

Untuk itu, jangan ragu untuk membagi harta warisan secara Islam. Karena pada dasarnya Allah sudah menakar kepentingan hambanya dengan sangat adil. Jika masih mempertanyakan hukum waris soal keadilan, sama saja meragukan hukum Allah, dan itu berdosa, atau haram apabila menginginkan pembagian sama rata tidak mengikuti kaidah Islam.

Apabila kesulitan untuk membaginya, bisa menanyakan pada ahli fikih waris, atau konsultasi pada pengadilan agama yang dengan tangan terbuka akan membantu.

Carilah ridha Allah sebanyak-banyaknya dalam kehidupan. Persoalan harta, bisa jadi menjerumuskanmu pada api neraka, apabila sudah buruk niat diawal, karena tidak mengikuti aturan atau syariat Islam.

Percayalah, Allah akan menjadi penolongmu, termasuk masalah kemudahan membagi waris secara Islam. Pelajarilah mulai sekarang, dan sosialisaikan pada lebih banyak orang, insyaAllah akan bermanfaat.

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *