Pelajaran Indah dari Burung: Para Pemalas dan Orang yang Hanya Sibuk Berdoa Tanpa Usaha, sangat Dibenci Allah!

Kisah rezeki Said Al-Balkhi

Ada seorang pedagang shaleh, Al-Balkhi namanya. Sebelum berangkat ke negeri sebrang untuk berdagang, ia berpamitan dulu pada gurunya Ibrahim bin Adham, guru agamanya. Biasanya sebagai pedagang yang gigih Al-Balkhi selalu pulang setelah memperoleh hasil dimana ia pergi. Namun saat itu terlihat berbeda, ia pulang sebelum sampai Negara tujuan.

Sebagai seorang guru, Ibrahim ingin mengetahui alasan apa yang mengurungkan Al-Balkhi dalam berdagang. Kelihatannya tak semudah yang disangka karena Al-Balkhi tak mau langsung terus terang, namun setelah didesak, ia baru mengutarakan perasaannya, “Suatu hari, ditengah perjalanan aku melihat suatu keanehan. Ketika aku beristirahat di sebuah bangunan kuno, aku perhatikan ada seekor burung yang pincang dan buta. Dalam benakku bertanya, bagaimana mungkin dalam kondisi demikian burung itu bisa bertahan hidup? Tak lama kemudian ada sekor burung datang menghampiri dengan membawa makanan di paruhnya, dengan susah payah. Seharian penuh aku perhatikan burung buta itu, ternyata burung itu tak pernah kelaparan, karena ia selalu mendapatkan jatah makanan dari burung-burung yang sehat.”

Sambil menghela nafas, Al-Balkhi meneruskan ceritanya, “Peristiwa ini telah memberi pelajaran kepadaku bahwa Allah, Sang Pemberi Rezeki telah memberikan karunia rezeki pada burung yang cacat, sekalipun tak berusaha sendiri. Jika demikian maka aku yakin bahwa Allah akan mencukupkan rezekiku. Maka kuputuskan untuk pulang, aku tak mau kerja lagi”.

Ibrahim bin Adham terlihat tersenyum, ia baru tahu apa yang ada di benak muridnya, maka ia memberi nasehat, “Wahai Al-Balkhi, sahabatku. Mengapa serendah itu pikiranmu? Mengapa kamu menyamakan derajatmu dengan seekor burung yang pincang lagi buta? Mengapa kamu mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup atas belas kasihan dan bantuan makhluk lain? Mengapa malah tidak mencontoh burung lain yang sehat, yang bekerja keras untuk mencukupi diri sendiri dan temannya yang sedang butuhkan  makanannya, karena memang temannya tak sanggup bekerja?  Apakah kamu juga lupa dengan sabda Rasulullah bahwa tangan diatas lebih baik dari tangan di bawah?”

Al-Balkhi segera tersadar dengan pemikiran salah yang sempat bersarang di kepalanya. Ia pun kembali bekerja lagi, bahkan lebih giat. Ia ingin menjadi manusia yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Ia baru teringat pesan gurunya bahwasanya kemuliaan itu terletak pada usahanya untuk memuliakan dirinya sendiri juga orang lain.

Sebenarnya Allah memang sudah menyiapkan rezeki pada semua makhluknya. Namun seringkali kita melihat satu orang dengan yang lain pastilah berbeda rezekinya. Juga makhluk satu dan lainnya berbeda mendapatkan besar kecil makanannya. Mengapa bisa demikian?

[irp posts=”192″ name=”Pengin Kaya, Tempuh 11 Langkah Menjadi Kaya Ala Islam Ini!”]

Itulah rahasia rezeki. Derajat manusia, olah pikir, tenaga dan seluruh raga dikerahkan atau tidak untuk memperoleh rezeki. Rezeki harus dijemput, bukan sekedar ditunggu. Di dunia sejuta satu orang mempunyai cara untuk mendapatkan rezeki itu. Dari bekerja keras dengan cara yang halal, sampai dengan  cara yang zalim untuk mendapatkan hartanya.

Ada pula di suatu sudut manusia dengan enaknya hanya mengharapkan belas kasihan orang lain, bermalas-malasan dengan tak malu lagi mentasbihkan diri sebagai kaum peminta-minta, rela sebagai komunitas “tangan yang berada di bawah”. Di sudut lain, ada orang yang sibuk berdoa, bermunajat di masjid, tanpa mau beranjak menjemput rezeki, kedua bagian ini sangat dibenci oleh Khalifah  Umar bin Khatab, serasa ingin mengusirnya dan melihatnya dengan gagahnya bekerja sebagai bentuk pertanggungjawaban sebagai makhluk Allah, keluarga, dan sesama.

Keberhasilan seorang muslim dalam merenda kehidupan, tak dilihat dari satu sisi saja, namun dunia dan akherat, juga kemampuan mengolah problema dalam kehidupannya, bukan malah menjadi beban dari orang lain. Jadikanlah diri sebagai grup “tangan yang selalu di atas”, agar bisa berbagi pada sesama dan bisa menghirup indahnya udara jannahNya.

 

Referensi:

Candra Nila Murti Dewojati, 2011, Masuk Surga Walau Belum Pernah Shalat, GPU-Kalil, Jakarta

 

loading...
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *