Kisah Inspiratif; Merajut Cinta dan Kasih di Surga

Kisah Merajut Cinta Hingga Surga

Sudah seharusnya, cinta kepada Allah tak kalah dengan selain-Nya

Apa yang terjadi terhadap dua insan yang saling mencinta namun terhalang sesuatu, hingga seperti kasih tak sampai?

Akankah kedua orang itu nekad untuk menyatu demi dan atas nama cinta mereka atau berpisah dengan hati yang patah?

“Di Kufah, ada seorang pemuda berparas tampan, rajin beribadah dan zuhud, yakni meninggalkan kehidupan dunia yang berlebihan untuk memperoleh ridha Allah. Suatu ketika ia singgah di perkampungan kaum Nukha’i…” begitu Raja’ bin Umar an Nakha’i mulai bercerita.

Diceritakan pula pemuda itu tak sengaja berpapasan dengan seorang wanita yang berparas cantik, perasaannya bergejolak karena ia merasa tertarik kepadanya.

Rupanya hal yang sama juga dialami oleh wanita tadi. Sebagai seorang Muslim yang baik, ia langsung melamar wanita tersebut, tanpa harus berkenalan dahulu seperti sekarang. Pemuda itu menyuruh seseorang untuk datang kerumah wanita itu dan menemui ayahnya.

Namun sayang seribu sayang ternyata sang wanita yang diidamkannya, telah dijodohkan dengan  anak pamannya (sepupunya). Hati keduapun terasa terluka, teriris pedih.

Dalam keadaan galau, wanita itu mengirim utusan kepada pemuda itu, dengan pesan, “Sudah sampai ke telingaku perihal kecintaanmu yang teramat dalam. Cobaan ini begitu berat. Jika berkenan aku akan mengunjungimu, atau sebaliknya kau yang datang ke rumahku”

Pesan itu telah sampai ke pemuda zuhud itu, jawabannya sungguh tidak terduga. Ia meninggalkan pesan kembali pada utusannya yang berbunyi ,” Dua-duanya tidak aku lakukan,” lantas pemuda itu membacakan ayat berikut,

“Sesungguhnya aku takut siksaan pada hari yang agung jika berbuat maksiat kepada Rabbku.”  (QS. az-Zumar:13)

Ketika utusan kembali dan menyampaikan apa yang dikatakan oleh pemuda tadi, dengan sedih sekaligus kagum ia berkata, “Sekalipun yang aku lihat dari dirinya demikian, namun rupanya dia juga seorang yang amat zuhud, takut kepada Allah. Demi Allah, tidak ada seorangpun yang merasa dirinya lebih berhak dengan hal ini dari orang lain”

Seakan terinspirasi oleh orang yang dicintainya, walau tak pernah lagi saling sua, apalagi berkomunikasi dengan pemuda itu, maka ia segera meninggalkan gemerlap dunia. Ia menanggalkan pakaian bagusnya diganti dengan pakaian yang terbuat dari bulu untuk menunjukkan kezuhudannya. Seolah kehidupan tiada artinya karena cinta yang terpendam tak pernah bersatu.

Wanita itu akhirnya hanyut dengan kecintaan mendalam dengan Allah, ia menjadi ahli ibadah dan selalu berusaha untuk konsentrasi.

Sekalipun demikian, hatinya juga tak bisa lepas dengan pemuda itu.  Namun akhirnya Allah berkehendak untuk menyudahi rasa cinta tak terbalas itu, ia dipanggil menghadap sang Khalik, meninggal dengan damainya.

Sang pemuda tampanpun sekarang malah sering mengunjungi wanita yang dicintainya setelah ia wafat, karena pemuda itu tahu tak ada lagi ganjalan maksiat bila bertemu, walau sebatas kuburnya.

Suatu malam Pemuda itu bermimpi melihat wanita itu berpakaian serba bagus, bukan dalam pakaian zuhudnya. Dalam mimpinya pemuda itu berkata, “Bagaimana kabarmu dan apa yang engkau temukan setelahku?”

Si Wanita tadi dengan senyum menjawab, ”Sebaik-baik cinta adalah cintamu wahai kekasih cinta yang menggiring kepada kebaikan dan berbuat baik.”

Pemuda tadi ingin tahu kemana si wanita tadi berada sekarang, dijawab dengan lembut, “Kepada kenikmatan dan hidup yang tiada habisnya di surga nan kekal milik yang tidak pernah punah.”

Kemudian wanita itu berpaling.

“Lantas kapan aku bisa melihatmu lagi?” tanya pemuda itu dengan penuh harap. Secara misterius wanita itu menjawab, “Engkau akan mendatangi kami dalam waktu dekat”.

Rupanya benar, seminggu kemudian, pemuda itu segera menyusul ke Rahmatullah, menyusul pada cinta abadinya. Cinta pada Tuhan dan cinta pada wanita itu, yang telah ditunggu sekian lama.

Keabadian cinta ternyata lebih indah!

 

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *