Bolehkah Wanita Menunda Mandi Besar Ketika Junub?

Bolehkah wanita menunda mandi besar ketika junub

Beberapa wanita masih kebingungan saat ia masih dalam keadaan junub namun harus melakukan beberapa pekerjaan rumah, kerena efisiensi waktu. Ada beberapa orang menyatakan jika seseorang dalam keadaan junub, melakukan tindakan atau pekerjaan harian, seperti memasak, mencuci dan lain sebagainya dianggap haram apa yang dilakukan beserta hasil yang dikerjakan.

Benarkah demikian?

Perlu pengetahuan fikih yang cukup bagi seorang muslim saat ia akan menghukumi sesuatu dengan hal yang haram, terlebih untuk perkara yang sebenarnya halal. Karena menurut ulama, tidak ada batasan waktu tertentu untuk wanita dalam keadaan junub untuk mandi. hanya saja, jika wanita menunda-nunda mandi junubnya untuk hal-hal yang tidak urgen atau darurat, maka hal tersebut malah menimbulkan mudharat, karena menyepelekan untuk urusan ibadah yang membutuhkan kesucian.

Batas waktu pada shalat fardhu berikutnya, adalah hal yang merupakan batas paling bisa dimaklumi. Hal ini dikarenakan untuk ibadah membutuhkan kesucian dari hadas kecil, besar maupun junub, seperti shalat dan membaca Al Qur’an. Segera bersuci merupakan hal yang disunahkan, salah satu alasan mengapa muslim diupayakan selalu dalam keadaan suci? karena ada hadis yang menyatakan:

“Tiga golongan yang tidak didekati malaikat; Bangkai orang kafir, orang laki yang memakai minyak wangi za’faran dan orang yang sedang junub (dianggap menyerupai wanita), kecuali jika dia telah berwudhu.” (HR. Abu Daud, no. 4180, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahi Abu Daud, no. 3522)

Lalu, apakah tidak ‘didekati’ malaikat berarti apa yang dilakukan wanita junub seperti menyentuh sesuatu atau melakukan sesuatu adalah haram? Hal tersebut adalah bid’ah dan dusta karena tidak ada landasan hukumnya dalam agama. Keyakinan itu didapat disinyalir dari hadis palsu dan maudhu.

Syekh Asy-Syuqair rahimahullah berkata, “Termasuk dalam keyakinan batil adalah adanya keyakinan bahwa wanita yang junub, jika dia mengolah adonan, maka adonannya akan rusak, atau barokahnya hilang segala sesuatu yang dilakukan tangannya.” (As-Sunan wal Mubtadi’at, hal. 31).

Meski disunahkan untuk sesegera mungkin mandi besar setelah junub, bukan berarti wanita muslimah dalam keadaan najis dan tidak boleh didekati oleh orang lain. Ada sebuah fatwa dari lajnah Daimah terkait dengan persoalan di atas:

“Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada RasulNya, keluarganya dan shahabatnya. Ya, dibolehkan bagi orang junub sebelum mandi untuk menyentuh sesuatu, baik baju, perkakas, atau semacamnya, apakah dia laki ataupun perempuan. Karena dia tidak najis dan tidak menjadi najis apa yang disentuhnya. Berdasarkan riwayat yang shahih dari Abu Hurairah radhiallhu anhu, bahwa beliau pernah bersama Rasulullah shallallahu alaih wa sallam pada suatu waktu, lalu dia menyingkir darinya dan kemudian kembali. Maka Rasulullah shallallahu alaih wa sallam berkata kepadanya, “Kemana engkau tadi wahai Abu Hurairah?” Maka dia berkata, “Aku berada dalam keadaan junub, aku tidak suka berdampingan denganmu sedangkan aku tidak suci.” Maka Nabi shallallahu alaih wa sallam, “Subhanallah. Sesungguhnya seorang muslim tidak najis.” (HR. Bukhari, 1/333)

loading...
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *