Bolehkah Wanita Menunda Membayar Hutang Puasa Sampai Bertemu Ramadhan Mendatang?

Bolehkah Wanita Menunda Membayar Hutang Puasa  Sampai Bertemu Ramadhan Mendatang?

 

Masalah klasik ini sering menghinggapi wanita yang mempunyai kekhususan dalam kondisi biologisnya, yang seringkali setiap tahun tidak pernah lunas puasanya dikarenakan entah haid, nifas, menyusui, melahirkan atau hamil, dan bisa pula penyakit karena kewanitaan.

Kebanyakan dari mereka gelisah saat tidak bisa melunasi hutang puasanya, dikarenakan banyak alasan. Padahal setahu mereka jika hutang puasa tidak boleh dibayar melewati ramadhan mendatang. Bagaimana sebenarnya ulama menyikapinya?

Seluruh Fuqaha (ulama ahli fiqih) menyepakati jika tidak ada dosa jika seseorang yang punya hutang qadha puasa wajib (Ramadhan), kemudian menunda qadhanya (hutangnya) sampai bertemu ramadhan mendatang dikarenakan ada udzur syar’i.

Wanita itu boleh mengqadha-nya saat ia merasa mampu membayar qadhanya itu meskipun dua atau tiga ramaadhan terlampaui. (lihat: al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah jilid 32, hal. 70).

Apa yang disebut udzur Syar’i? Yakni adanya sebab yang dibenarkan dalam syariat untuk menunda membayar hutang puasa Ramadhan.

Kondisi seperti bagaimana yang dibenarkan dapat dispensasi ini? Contohnya adalah saat akan membayar hutang puasa, wanita kembali hamil atau menyusui yang jika dipaksakan akan berakibat buruk pada kesehatan dirinya dan bayi yang dikandungnya.

Madzab Hanafi, Syafi’i dan Hambali juga menyatakan jika wanita dalam kondisi demikian wajib mengganti puasanya dengan qadha usai Ramadhan selanjutnya, dan apabila ramadhan selanjutnya juga belum bisa melakukannya, maka ia bisa melakukan pada ramadhan tahun yang selanjutnya lagi.

Lalu, bagaimana jika bertahun-tahun wanita tak sanggup mengganti puasanya dikarenakan berturut-turut anak-anaknya lahir, yang mana ia hamil, melahirkan,  menyusui, nifas, sampai dengan lemah kondisi badannya dikarenakan situasi yang terus-menerus seperti ini?

Rukhsah puasa bagi wanita dengan kondisi demikian dengan membayar fidyah jika benar-benar sudah tidak sanggup lagi membayar hutang puasa. Demikian Dr. Yusuf Al Qardawi menyatakan bagi wanita yang benar-benar kepayahan dan tidak memungkinkan untuk membayar hutang puasa.

Namun jika kondisinya lain, seperti wanita yang mempunyai tanggungan puasa yang ditinggalkan karena hamil, melahirkan, menyusui, nifas, musafir,  hingga bertemu dengan ramadhan berikutnya karena lalai,  maka hukumnya seperti di bawah ini.

Menurut Jumhur Ulama (mayoritas Ulama), seperti madzab Maliki, Syafi’i, Hambali serta Abu Hurairah, Ibnu Abbas dan beberapa sahabat Rasulullah lainnya, maka hukumnya ia wajib membayar fidyah atas hari-hari puasa yang ditinggalkannya ditambah qadha puasa yang tidak gugur karenanya.

Kewajiban mengqadha ini plus membayar fidyah waktunya sampai bertemu ramadhan kedua.

Namun jika hitungannya wanita itu punya hutang puasa 5, baru dibayarkan 3 hari saja, maka ia membayar hutang puasa hanya dua hari plus fidyah dua hari. Fidyah harus dibayarkan adalah 1 mud per hari diberikan pada fakir miskin berupa makanan pokok atau makanan siap santap senilai itu. Ukuran beras 1 mud adalah 0,875 liter atau 0,625 kg.

Dari pembahasan ini jelaslah para wanita yang sedang mengalami masalah seperti tersebut di atas, tidak perlu merasa risau untuk menentukan apakah ia wajib mengganti hutang puasa ataukah hanya fidyah saja, ataukah kedua-duanya harus dilakukan.

Bagaimana jika wanita itu lupa?

Apakah ini merupakan kategori lalai? Menurut saya tidak, karena lalai adalah sama dengan menyepelekan, menganggap mudah, hingga tidak membayar puasa sampai ramadhan selanjutnya.

Namun jika wanita lupa tapi pernah ingat dan tidak segera membayar, itu tetap pada kategori lalai. Berbeda dengan benar-benar lupa tanpa ingat sedikitpun mengenai hutang puasa itu, maka ia bukan lalai. Wallahu’alam.

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *