Pasutri, Inilah 8 Cara Jitu Mengatasi Miskomunikasi Dengan Pasangan Hidup!!

Pasutri, Inilah 8 Cara Jitu Mengatasi Miskomunikasi Dengan Pasangan Hidup!!

Komunikasi, sebenarnya merupakan seni tersendiri saat Anda harus berbicara dengan orang lain. Secara sederhana dikatakan, jika kemampuan berkomunikasi kurang baik, biasanya akan terjadi miskomunikasi, salah paham dengan orang lain dan yang paling fatal, kesalahan dalam komunikasi akan berakibat negatif.

Menjalin komunikasi dengan pasangan, bukan perkara mudah jika sering berseberangan pemikiran, tidak mendukungnya situasi dan kondisi juga banyak faktor dari dalam dan luar yang turut memperkeruh suasana.

Miskomunikasi dengan pasangan hidup, bukan hal yang aneh, bahkan hampir semua pasangan mengalaminya. Bahkan ada beberapa orang yang menyatakan, sesekali dua kali bolehlah kita berselisih paham dengan pasangan karena membuat kehidupan berwarna, tidak membosankan, bak menjadi “garam” dalam sayuran.

Namun jika sudah menjadi “makanan” sehari-hari berselisih itu tentu akan menjadi ‘keasinan’, tidak enak dan bahkan bisa berunjung keruntuhan biduk rumah tangga.

Untuk memperbaiki situasi demikian, ada beberapa yang biasa saya lakukan agar cara komunikasi dengan pasangan bisa terjalin dengan harmonis dan memperbaiki kesalahpahaman:

1. Tidak membiarkan masalah dalam jangka waktu lama.

Berharap waktu bisa menyesaikan kesalahpahaman? Tentu ini suatu pekerjaan absurd. Bahkan, dalam Islam menganjurkan jika terjadi pertikaian dengan pasangan atau orang lain, dilarang saling mendiamkan lebih dari 3 hari.

Hal ini memang membuat kita cerdas untuk menyelesaikan masalah. Beri jangka waktu maksimal  pada setiap pertengkaran dengan pasangan. Semisal saya, mensyaratkan tidak lebih dari 24 jam permasalahan itu ada.

Harus dengan cara apapun untuk menyelesaikan salah paham itu. Semakin lama Anda membiarkan komunikasi dengan pasangan mampat, semakin besar kemungkinan untuk menciptakan masalah baru yang lebih serius.

Proses pendewasaan diri juga ditentukan oleh seberapa lama Anda menggantung masalah.

2. Penguasaan diksi, dan cara menyampaikan.

Memang pemilihan kata itu penting dalam komunikasi? Mengapa tidak.

Sebagai contoh kecil saja. Saat saya melakukan sesuatu yang tidak saya sengaja, semisal merendam seragam anak yang besok pagi sudah digunakan, dan waktu sore baru ketahuan.

Kemudian saya menerangkan dengan bahasa ‘mengalah, meminta maaf, penuh rendah hati dan penyesalan’.

Saya katakan, “Nak, maafkan kekhilafan ibumu. sungguh saya tidak sengaja merendam seragammu ini. Saya sungguh menyesal. Bagaimana jika kau sabar menunggu seragam ini saya setrika, setelah saya angin-angin sebentar, atau pinjam temanmu yang lain, yang punya seragam dobel?”

Ternyata hasilnya akan jauh beda saat saya mengatakan, “Gimana nih, baju seragammu kok bisa turut terendam, mana besok dipakai lagi. Dah pakai seragammu yang lain saja, meski beda warna, gak apa-apa ya, lha mau gimana lagi.”

Dan saat anak protes keadaan ini, malah dibentak sampai menangis.

Begitu pula saat keadaan meruncing karena kesalahpahaman dengan pasangan. Jika kita mengambil sikap reaktif, tidak mau disalahkan, jutek, terlihat “berkuasa”, ogah  mengalah dan jaim untuk meminta maaf, dijamin  pertikaian Anda akan awet.

3. Perhatikan gestur.

Saat saya berbicara serius dengan pasangan mengenai suatu hal, saya bersifat “tidak mengajak bertengkar”, bicara dengan bahasa lebih pelan, tidak terlalu cepat dan gestur tubuh yang luruh, mimik muka yang serius namun sopan dan mengalah.

Ingat ini masalah rumit yang mudah tersulut kemarahan. Jika dengan gestur yang ‘menantang untuk berkelahi’, arogan dan rona wajah  menyelepekan pasangan, maka bisa tebak jalannya komunikasi itu bermuara kemana.

4. Menggunakan semua kemajuan teknologi informasi untuk membantu menyelesaikan masalah.

Saya sering menulis Whatshaap untuk suami dengan bahasa yang tertata, enak dibaca dan panjang. Bahasa itu saya pikirkan matang-matang untuk jauh dari kesan menggurui, menyalahkan jalan pemikirannya dan selalu ada kata-kata ‘permintaan maaf’ meski saya merasa tidak bersalah.

Kerahkan kepandaian Anda dalam menulis dan memilih kata yang tepat, karena ini akan menentukan jawaban pasangan.

Terkadang, memang sering pasangan saling berbalas kata di WA, inbox, SMS, Email dan lain-lain namun dengan kata-kata yang ‘ajaib’, tidak enak untuk dibaca dan akhirnya bertengkar lewat media itu.

Padahal, media itu jika dipergunakan dengan cerdas, akan berbuah sangat luar biasa.

5. Hindari kekerasan fisik saat berkomunikasi.

Urusan memukul atau melakukan kekerasan fisik sekarang ini tidak hanya didominasi oleh kaum suami. Sepanjang pengamatan saya, terkadang kaum wanita tidak segan-segan memukul, menampar atau melempar pada pasangan dengan benda-benda.

Kegiatan melukai satu sama lain itu selain dapat membuat luka fisik, juga menambah luka batin. Apalagi lelaki tidak suka diperlakukan tidak hormat oleh istrinya, demikian pula istrinya.

6. Bertanyalah :”Sebenarnya apa mau-mu, dan ini mau-ku, lalu bagaimana menyatukan kemauan kita?”

Kalimat satu ini sebenarnya sangat ampuh saya terapkan pada pasangan. Di sini tidak terlihat dominasinya istri untuk satu urusan, dan mempersilahkan suami bersama-sama utuk mencari jalan keluarnya, sekaligus tahu keinginan dia sebenarnya apa.

Jika sudah mendapatkan jalan keluarnya, coba diingat kalau perlu dicatat agar menjadi bukti jika masing-masing pernah membuat kesepakatan bersama.

7. Keajaiban menggengam tangan dan pelukan, saat berkomunikasi.

Bisakah sedang marah melakukan ini? Mengapa tidak, saya biasakan hal ini walau sangat terlambat. Saya membiasakan memeluk dan menggengam tangan suami dalam berbagai kondisi, saat pernikahan menginjak tahun ke 15.

Saat merasa menyesal dan atau merasa tidak nyaman karena miskomunikasi, selalu saya minta tangannya untuk saya genggam, atau langsung saya peluk.

Ternyata hasilnya bukan main, setengah dari permasalahan seolah sudah menghilang, tinggal pemulihan dan berkomunikasi lebih baik lagi.

Malu melakukannya, karena tak biasa atau bahkan merasa gengsi melakukan itu duluan dan dianggap yang ‘kalah’? Memang ada yang menang dalam pertikaian?

8. Menyerahkan segala urusan kepada Allah, setelah berusaha.

Tawakal itu tidak akan berhasil jika tidak dibiasakan. Rasa menghamba pada Tuhan itu tidak akan sempurna jika masih merasa paling benar sendiri dalam masalah dengan suami.

Percayalah, ada satu kekuatan yang hakiki yang akan menolong kita dalam berbagai masalah. Jika menyerahkan semua urusan setelah semua cara dicoba pada Maha Pembolak-balik hati, maka hati akan menjadi tenang.

Demikian 8 cara yang biasa saya lakukan semoga bermanfaat!

loading...
4 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *