Bijak Melatih Anak Puasa Dengan Waspadai Tiga Hal yang Akibatnya Bisa Fatal Ini

Rambu-rambu Melatih Anak Puasa

Melatih anak berpuasa tetap harus dengan cara yang bijak

Bahagia anak ikut belajar puasa? itu sangat wajar dan memang seharusnya orangtua memberi arahan dan latihan anak bisa ikut puasa sejak dini.

Sebenarnya sejak usia berapa anak diajarkan puasa?

Tidak ada patokan yang pasti, namun saat anak berusia 5 tahun, sebaiknya mulai bertahap dikenalkan puasa, sampai tubuh si anak kuat betul untuk berpuasa.

Jangan terburu untuk berbangga jika anak sudah bisa berpuasa penuh saat usia kurang dari 8 tahun, jika memang kondisi fisik dan psikis anak kurang mendukung untuk itu.

Menurut Dr Tirta Purwita Sari, Ketua yayasan Gerakan Mayarakat Sadar Gizi (Gemazi), usia 9 tahun adalah ideal anak benar-benar kuat puasa, jika dibawah usia itu anak memang terlihat sehat dan kuat berpuasa, tidak mengapa namun harus diwaspadai saat anak terkena dehidrasi.

Untuk itu jika anak kecil ikut berpuasa, waspadai 3 gejala di bawah ini. Karena jika hal ini terjadi, maka dianjurkan anak-anak untuk berbuka saja, karena mereka pada dasarnya hanya berlatih untuk berpuasa.

Tiga gejala yang perlu diwaspadai tersebut adalah:

1. Dehidrasi.

Tubuh kecil anak memang memiliki struktur yang berbeda dengan orang dewasa. Hal itu dikarenakan hati anak yang kecil tidak mampu menyimpan energi laiknya orang dewasa.

Cadangan lemak orang dewasa lebih banyak dari anak kecil, dimana hati orang dewasa lebih bisa menyimpan energi lebih baik dan lama dari pada anak.

Karenanya, empat jam setelah makan, orang dewasa mampu memproduksi energinya kembali, dan anak kecil belum mempunyai kemampuan seperti itu.

Iklim di Indonesia yang panas dan lembab menyebabkan risiko terkena dehidrasi saat puasa sangat tinggi pada anak-anak.

Kekurangan cairan ini jika terlalu akut dan tidak ditangani dengan baik, akibatnya bisa fatal.

2. Bibir anak terlihat kering, tidak buang air dalam waktu lama dan urin pekat.

Jika anak sudah terlihat tanda-tanda seperti itu, maka warning untuk berbuka. Sangat riskan jika hal itu terjadi secara terus menerus, maka kesehatan anak akan terganggu.

3. Kelelahan dan muka pucat disertai kepala pusing

Hal ini biasa terjadi saat anak-anak terlalu banyak aktivitas diluar rumah yang memerlukan energi yang banyak. Bisa dibayangkan udara panas dan lembab di Indonesia, disertai dengan kurangnya asupan gizi dan makan yang sempurna saat sahur maka akan membuat kondisi anak menjadi melemah.

Segeralah berbuka jika anak sudah mengeluhkan hal ini, atau meski anak tidak menyadari kondisinya, maka orangtua wajib mengingatkan untuk berhenti beraktivitas.

Apabila gejala di atas mulai menyerang anak, sebaiknya anak berbuka terlebih dahulu dan bisa dilanjutkan berpuasa kembali. Karena untuknya, hal ini sebagai sarana latihan berpuasa.

Hal yang penting diketahui oleh orangtua jika berpuasa itu bukan paksaan pada mereka, namun atas keinginan sendiri. Anak jika memang belum usianya berpuasa, lalu disuruh puasa penuh, kemudian ia benar-benar kepayahan, maka dikhawatirkan akan trauma untuk berpuasa pada hari berikutnya.

Sebaiknya bertahap, seperti 4 jam , 6 jam dan 8 jam sekali berbuka kemudian tetap lanjut puasa.

Perhatikan gizi anak, berbuka pengganti makan siang adalah perlu diperhatikan makanan dan minuman yang mudah dicerna, dan amati minum anak dengan baik.

Kekurangan minum, akan membuat anak dehidrasi apalagi banyak aktivitas. Orangtua seharusnya mengawasi benar-benar aktivitas anak saat puasa, agar kelelahan tak dialami anak.

Selamat menunaikan puasa untuk seluruh keluarga, juga untuk anak-anak tercinta semoga semuanya sehat dan dapat menjalani ibadah dengan lancar.

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *