Lailatul Qadar Turun Saat Cuaca Cerah atau Hujan Deras?

Lailatul Qadar Turun saat Cuaca Cerah atau Hujan Deras?

Berbagai prediksi kemungkinan Lailatul qadar turun, baik waktunya maupun kondisi yang menyertainya mulai bermunculan saat 10 hari terakhir di Bulan Ramadhan.

Ada beberapa pendapat yang mashyur menyatakan jika lailatul qadar itu turun saat langit cerah tak berawan. Namun adapula yang berpendapat Rasulullah mendapatkan malam seribu bulan saat hujan deras.

Mana yang benar?

Hal-hal menarik dari turunnya Lailatul qadar bisa disimak dari beberapa hal berikut ini:

1. Banyaknya malaikat turun pada malam tersebut sampai datangnya waktu subuh yang dipimpin oleh malaikat Jibril. Hal ini adalah peristiwa ghaib yang tidak bisa ditangkap oleh manusia biasa pada umumnya.

2. Mempunyai arti keselamatan turun menyelimuti hamba-hamba Allah yang taat padaNya, sampai waktu Fajar, mereka turun dengan membawa kebaikan, keberkahan dan juga ketnangan luar biasa dibanding malam-malam lainnya.

3. Malam itu nampak langit cerah tak berawan, suasana terlihat terang benderang, seolah-olah bulan menyinari bintang-bintang. Angin bertiup tenang, suhu udara sedang, tak panas, tak dingin, namun hal ini relatif.

Karena suhu daerah satu dengan lainnya memanglah berbeda.
Matahari terbit esok harinya seperti mangkuk putih cermelang, tiada noda dan bintik sedikitpun, sinarnya tidak membakar.

Para ulama ada yang menjelaskan rahasia mengapa cuacanya jadi seperti itu, hal ini dikarenakan betapa banyaknya malaikat yang turun ke bumi dan menjelang subuh mereka bergegas naik kembali kelangit, maka bentangan sayap-sayap mereka atau cahaya terang mereka menutupi sinar matahari. (Shahih Muslim bi-Syarh An-Nawawi, 8/65, Ikmalul Mu’alim Syarh Shahih Muslim, 4/148, Al-Mufhim ‘ala Maa Asykala min Shahih Muslim, 2/391, dan Faidhul Qadir Syarh Jami’ Shaghir, 5/396).

4. Ada yang menceritakan matahari biasanya terbit diantara dua tanduk setan, namun pada hari hari sesaat setelah lailatul qadar setan tak kuasa menemani terbitnya matahari.

Hal ini terlihat dari hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Amru bin Abasah As-Sulami ra berkata, “Wahai Nabiyullah! Beritahukanlah kepadaku apa yang Allah ajarkan kepadamu dan aku tidak mengetahuinya. Ajarkan pula shalat kepadaku!” Maka beliau saw bersabda, “Lakukanlah shalat Subuh! Lalu janganlah melakukan shalat sampai matahari terbit hingga naik meninggi. Karena pada waktu terbit, matahari terbit di antara dua tanduk setan, dan pada saat itulah orang-orang kafir bersujud kepada matahari…” (HR. Muslim no. 832)

5. Meski disebutkan malam yang cerah saat lailatul qadar, ada pula yang menyebutkan malam harinya turun hujan deras, sehingga tanah becek dan berlumpur. Hal ini terlihat dari hadist dari Abu Sai’id Al-Khudri ra:

Beliau SAW bersabda, “Sesungguhnya ditunjukkan kepadaku (dalam mimpiku) bahwa lailatul qadar terjadi pada malam yang ganjil dan keesokan paginya aku sujud di atas lumpur dan air.” Pagi itu beliau berada pada malam kedua puluh satu Ramadhan. Beliau berdiri melakukan shalat Subuh, tiba-tiba langit menurunkan hujan, sehingga masjid terkena curahan hujan. Aku bias melihat lumpur dan air. Selesai shalat Subuh, aku melihat lumpur dan air menempel pada dahi dan batang hidung beliau SAW. Rupanya lailatul qadar (tahun itu) terjadi pada malam kedua puluh satu dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2018, Muslim no. 1194, An-Nasai no. 1339, Abu Daud no. 1174, dan Ahmad no. 10757, dengan lafal Muslim)

6. Adapula yang menyatakan didatangi lailatul qadar dalam mimpinya, seperti ungkapan sahabat dan Rasulullah.

Enam hal mengenai tanda-tanda terjadinya lailatul qadar sangat menarik disimak. Hanya disimak saja? Sebaiknya jangan, raih dan rengkuh ia selagi mungkin!

Referensi:
Candra Nila Murti Dewojati, 2014, Strategi Jitu Meraih Lalilatul Qadar, Qibla, Jakarta

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *