Make Up Waterproof, Haramkah Dalam Islam?

hukum-make-up-water-proof

(ilustrasi make up muslimah, gbr. youtube.com)

Menjadi cantik, adalah dambaan hampir seluruh wanita di dunia. Mereka, bahkan rela melakukan apa saja agar bisa terlihat lebih keren dan menawan.

Beragam carapun dicoba, mulai dari menggunakan make up atau riasan yang bermacam jenisnya, pakaian dan assesoris yang menunjang, parfum, sampai cara berjalan atau berbicara, agar terlihat elegan dan istimewa.

Hanya saja, tidak semua peralatan make up, cara mempercantik sendiri, cara berjalan dan berbicara atau cara berpakaian dan sarana penunjang lainnya halal dan diperbolehkan dalam Islam.

Karena sejatinya jika tidak berhati-hati wanita bisa terjebak pada sesuatu yang haram namun sebaliknya jika berlaku dan bertindak sesuai hukum-hukum Islam, surgalah ganjarannya.

Banyak pertanyaan yang dialamatkan pada riasan waterproof, haramkah dalam Islam?

Ternyata menggunakan kosmetik dari bahan waterproof atau tahan air, cat kuku atau mascara yang tidak dibersihkan dengan baik saat akan berwudhu maka akan membuat wudhunya jadi tidak sah, sehingga shalatnyapun tidak sah demikianlah pendapat Dr. Isnawati Rais, MA.

Bahan kosmetik waterproof pada dasarnya terbuat dari minyak silicon (silicon-based oil) yang sering disebut dimethicone. Bahan inilah yang  menjaga kulit tetap lembut juga membantu produk kosmetik ini mudah diserap kulit atau rambut.

Nah, dengan demikian nyatalah jika kosmetik berbahan waterproof menjadi tidak mudah terhapus, awet dipakai di wajah.

Jika ingin membersihkan tidak sembarangan, karena pada dasarnya riasan ini tahan dengan air dan menghalangi penetrasi air dalam kulit  maka harus menggunakan  pembersih tertentu berbentuk milk cleanser atau face tonic.

Jadi, apakah riasan waterproof, haram dalam Islam?

Jawabannya semua bahan kosmetik harus  dipastikan bahan-bahannya halal, bukan zat yang dilarang dan haram dan tidak membuat kerusakan pada wajah.

Karena beberapa kosmetik mengandung bahan dari babi dan lainnya. Dan seorang mengabaikan wudhu dan shalat gara-gara make up yang menempel pada dirinya rusak.

Hal demikian ini maka ia telah berdosa demikian tutur Dr. Muzammil H. Siddiqi.

Dari kedua narasumber tersebut bisa ditarik kesimpulan jika  kosmetik waterproof itu pada dasarnya diperbolehkan jika menggunakan bahan-bahan halal, namun jika mengandung bahan babi dan zat haram lainnya maka hukumnya dilarang atau haram.

Persoalan yang mendasar selanjutnya adalah wanita yang sudah memakai riasan enggan untuk segera menghapusnya saat shalat tiba, karena acara yang diikuti belum selesai. Menunda-nunda shalat atau bahkan mengabaikannya sama sekali adalah dosa, jika hanya demi sebuah tampilan atau riasan.

Lalu, bagaimana baiknya menyikapi hal ini, tetap cantik dengan riasan waterproof, namun tetap bisa shalat tepat waktu?

Caranya yakni dengan menjaga wudhunya jangan sampai batal, atau sebelum dirias, sebaiknya berwudhu dulu.

Cat kuku, pemakaian mascara atau lipstick yang tahan air dipikirkan masak-masak jika akan merepotkan saat shalat tiba.

Jika ragu akan menjaga wudhunya dan repot akan menghapusnya, disarankan memakai riasan berbahan waterproof saat menstruasi saja.

Bahaya kosmetik waterproof

Ada satu alasan penting mengapa wanita harus hati-hati menggunakan kosmetik berbahan waterproof ini selain tidak sah jika untuk sholat sebelum dibersihkan, yakni banyak bahaya yang akan ditimbulkan.

Seperti yang disampaikan make up artis Piggott yang dikutip Cosmopolitan. Jika dipakai terus menerus tiap hari mascara atau eye liner bisa menyebabkan bulu mata cepat berjatuhan atau tak sengaja tercabut saat membersihkannya terlalu keras.

Belum lagi jika menggosok mata bisa sebabkan pembuluh darah disekitar mata dapat rusak.

Bahaya lainnya adalah jika menggunakan setiap hari kosmetik bahan ini menyebabkan partikel dari liner bisa mengapung di air mata dan menyumbat saluran, yang bisa sebabkan infeksi mata, bintitan dan memicu reaksi alergi pada mata, hal ini dikarenakan pengawet dan bahan kimia pada kosmetik waterproof.

Jika sudah demikian, sesuatu yang membuat wajah menjadi rusak atau bermasalah sebaiknya dihindari, dan sesuatu yang tidak maslahah menjadi mudharat. Hukum kebolehan dan halal dalam kosmetik bisa berubah menjadi haram jika menyebabkan kerusakan. Maka berhati-hatilah!

referensi:
Candra Nila MD, 2013, 202 Tanya Jawab Fikih Wanita, Al Maghfirah, Jakarta

loading...
8 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *