Kisah di Saat Umar Bin Abdul Aziz Berurai Air Mata

kisah-umar-bin-abdul-aziz
Suatu hari istrinya mendapati Umar bin Abdul Aziz sedang menangis. “Apa yang membuatmu menangis wahai Amirul mukminin?” tanya istrinya dengan hati-hati.

Umar menjawab: ”Aku telah diberi amanat mengurus umat. Ini membuatku memikirkan banyak hal; banyak orang miskin yang tak tercukupi kebutuhannya, baik sandang, pangan, maupun papan. Orang-orang sakit yang tak punya biaya berobat. Aku tahu, kelak aku akan ditanya oleh Tuhanku tentang mereka. Aku takut jika aku tak bisa mempertanggungjawabkan nasib mereka.”

Adalah Umar bin Abdul Aziz, seorang pemimpin yang sangat mahsyur di zaman sekarang, bahkan di saat lalu. Ia tak pernah meminta jadi pemimpin, bahkan saat pendahulunya sakit keras, ia wanti-wanti jangan disebut namanya sebagai pengganti pada penasehat kerajaannya. Ia bahkan menginfaqkan sebagian besar hartanya sesaat setelah ditunjuk sebagai pimpinan pengganti pada masa kekhalifahan daulah Abbasiyah.

Ia sangat wara’, akhlaq yang mulia, menganggap pemimpin adalah abdi rakyat yang sangat menjaga amanah. Segala bidangpun ia rombak. Pemerintahan pada masanya sangat terasa sekali perubahan pada khalifah yang hampir dikata tak ada yang menyainginya. Dua setengah tahun penuh dengan gerakan perubahan untuk perbaikan rakyatnya.

Ia adalah pembeda, tak takut bersilang pendapat dengan pendahulunya atau orang lain. Dalam benak, apapun untuk Negara, rakyat yang makmur apapun dilakukannya.  Sampai-sampai ia harus menangisi rakyatnya.

Kegelisahan hati seorang pemimpin yang bertanggungjawab. Ia sangat khawatir tak bisa menjaga amanat dengan sebaik-baiknya, khawatir surga haram untuknya seperti sabda Rasulullah saw,”Barangsiapa yang menjadikan Allah sebagai penguasa, tetapi dia meninggal dunia dalam keadaannya mengkhianati rakyatnya, Allah mengharamkan surga itu baginya (HR at-Tabrani dan Abu Nu’aim)

Kebijakan ekonomi yang memihak rakyat, itulah salah satu proyek besarnya. Ia menghindari perputaran uang yang hanya berkutat pada pejabat Negara, konglomerat dan orang-orang tertentu saja, seperti yang terjadi saat ini. Sebelum jadi khalifah ia pernah menegur khalifah Sulaiman bin Abdul Malik,”Pemerintahanmu hanya membuat orang yang kaya makin kaya dan yang miskin semakin miskin..”

Keadilan dan kesejahteraan adalah merupakn ciri khas pemerintahannya. Ia melarang pejabat menguasai asset umat. Pada saat kekhalifahan Sulaiman, banyak asset Negara dan masyarakat kecil yang dikuasai oleh segelintir pejabat, untuk itu pemerintah mengembalikan kepada yang berhak.

Ia juga bak khalifah Umar bin Khattab, sering mengadakan sidak ketempat-tempat wilayah kekuasaannya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Bila didapati pejabat disuatu daerah tak bisa menjaga amanah dan akhlak, tak segan ia akan memecatnya, seperti yang terjadi pada gubernur Ethiopia (Habsyah). Kodifikasi dalam hadis kembali dilakukannya, karena sangat khawatir para perawi hadis banyak yang meninggal dunia, atau ingatan mereka tak setajam dulu.

Segi militer, pendidikan, bahkan ia sangat bersinergi dengan para ulama untuk selalu menjadi nasehat pada setiap kesempatan. Kutbah jum’at pun yang kala itu berisi hujatan tentang Ali dan keluarganya, dengan tegas ia melarangnya dan mengganti seperti yang terjadi sekarang ini.

Umar juga memberi perhatian besar kepada kaum miskin. Ia mendata orang-orang yang  terjerat hutang. Jika benar-benar orang itu tak mampu membayarnya, maka hutang tersebut akan dibayar oleh Negara.

Memang harus begitulah pemimpin, bukan hanya sekedar silau jabatan, kedudukan dan harta semata, karena jika ia tak amanah, surga benar-benar haram untuknya.

Referensi:
Candra Nila Murti Dewojati, 2011, Masuk Surga Walau Belum Pernah Shalat, pen Kalil-GPU, Jakarta

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *