Kisah Kematian Sa’ad Bin Mua’adz yang Menggetarkan Pintu Surga

Kisah Kematian Sa’ad Bin Mua’adz yang Menggetarkan Pintu Surga

Jibril bergegas mendatangi Rasulullah sambil berkata,”Ya Muhammad siapa yang meninggal, sampai pintu-pintu langit dibuka untuknya dan Arsy bergetar karenanya?”

Ya, kematian Sa’ad bin Mua’adz memang terasa berbeda. Ia adalah salah seorang syuhada, yang masih bertahan lama hidup, karena doanya dikabulkan Allah saat mulutnya berdoa,” Ya Allah jika Engkau masih menyisakan sedikit waktu untuk berperang melawan kafir Quraisy, maka tetapkanlah aku bergabung di dalamnya…janganlah Engkau matikan aku sampai kedua mataku gembira melihat bani Quraizhah”.

Dan setelah melihat kemenangan atas bani Quraizhah, dan mereka menyatakan diri masuk Islam, maka Sa’ad menghebuskan nafas terakhir dalam pelukan Illahiyah dengan sangat damai.

Sa’ad  itu sebelumnya  adalah pemuka kafir Quraisy yang gagah berani. Penyembah berhala, dan sangat membenci kaum muslimin.

Ia masuk Islam, setelah mendengar dakwah yang sangat menghanyutkan tentang Islam dan Rasulullah dari Mush’ab bin Umair. Matanya yang menyala, seketika menjadi teduh dengan dakwahnya.

Karena sebagai orang berpengaruh maka tak ada lagi dari bani Abd al-Asyhal baik laki-laki maupun perempuan yang tidak masuk Islam, setelah Sa’ad mengatakan,”Sesungguhnya ucapan laki-laki dan perempuan haram kepadaku, sebelum kalian beriman kepada Allah dan RasulNya.”

Perkataannya sangat menguntungkan Islam, hingga utusan nabi pun Mush’ab dan As’ad pun dengan mudah memperoleh banyak umat di Madinah yang menyatakan diri menjadi muslim.

Setelah menjadi muslim, sangat terlihat sosoknya sebagai pembela Islam. Inisiatif membuat tandu, agar Rasul merasa nyaman dalam perjalananpun berasal darinya. Selalu mengintari Rasul dengan pedang terhunus, saat dalam keadaan genting.

Dalam berbagai peperangan ia senantiasa di barisan terdepan. Bendera Islam pun kerap ia bawa, mengisyaratkan bahwa ia adalah seorang pemberani dan pembawa simbol Islam yang penting, yang tak boleh dengan mudah rebah ke tanah.

Namun, sampai akhirnya Sa’ad terkulai, dalam sebuah peperangan, lengan Sa’ad terkena panah nyasar yang dilontarlan oleh seorang musyrikin. Dan itu adalah sebuah awal dari terpuruknya tubuh tegap Sa’ad.

Luka yang tepat mengenai urat nadinya, hingga darah senantiasa menyembur tanpa henti. Walaupun begitu, saat ia dipercaya menjadi hakim pada bani Quraidzah. Dan tawaran yang istimewapun ia terima dalam kondisi sakit parah. Dan hasil dari putusannya, merupakan putusan yang adil dan bijaksana,  hingga Rasulullah saw bersabda,” Kamu telah menetapkan hukum untuk mereka sesuai dengan hukum Allah dan RasulNya”

Suatu Saat, Ia ingin kembali ke kemahnya dekat masjid Nabawi. Perasaannya selalu ingin dekat dengan Rasulullah. Ia selalu berdoa kepada Allah agar luka anak panah yang mengenai lengannya pada perang Khandaq menjadi saksi baginya dihadapan Allah. Ketegaran, dan kecintaan pada Allah seolah mengalahkan rasa sakitnya yang teramat sangat.

Akhirnya, pertanyaan malikat Jibril terjawab sudah. Si penggetar pintu ‘Arsy memang Sa’ad yang wafat. Rasulullah saw mengangkat kepala Sa’ad dan meletakkan dipangkuannya. Seraya bersabda,” Ya Allah, Sa’ad r.a telah berjuang  di jalanMu, dia membenarkan dan membela utusanMu, menetapkan dan melaksanakan hukum sesuai dengan perintahMua, maka terimalah ruhnya dengan kebaikan yang Engkau m,enerima ruh (para Syuhada lainnya).

Saat jenazah Sa’ad diusung menuju perkuburan, para penggotong jenazahnya bertanya-tanya heran,”Saya belum pernah menyaksikan laki-laki yang tubuhnya ringan seperti itu?” temannya menjawab,” Kamu tahu mengapa begitu? Karena dia melaksanakan hukum Allah SWT di bani Quraizhah..”.

Namun sebenarnya, Rasulullah tahu bahwa yang terjadi adalah seperti sabda beliau,”Demi jiwaku yang berada di kekuasaanNya, para Malaikat ikut menggotong keranda Sa’ad..”

Bahkan Abu Sa’id bersaksi saat ia bersama teman-temannya menggali kubur untuk sa’ad di Baqli, mereka mencium bau wangi minyak misik ketika menggali-gali lapisan tanah sampai keliang lahad.

Jiwa yang tak tercela pun sebenarnya tak pantas ditangisi, saat ibu Sa’ad menerima kedatangan Rasullah, karena beliau berkata, “ Semoga air matamu berhenti mengalir dan kesedihanmu juga hilang karena anakmu adalah orang pertama yang membuat Allah tersenyum dan karena Arsy bergetar.”

Seketika itu Ibu Sa’ad tersenyum dengan bahagia mendengar Rasulullah menghiburnya, dengan penghargaan yang sangat tinggi atas ruh anaknya.

Referensi:
Candra Nila Murti Dewojati, 2011, Masuk Surga Walau Belum Pernah Shalat, GPU-Kalil, Jakarta

loading...
4 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *