Kisah Inspiratif; Belajar Malu Pada Keranda Fatimah

Belajar malu pada Fatimah

Malu itu indah. Seindah bunga yang elok dipandang mata

Pernahkah kita mengukur seberapa banyak rasa malu kita? Saat-saat keluar rumah, memperhatikan penampilan dari ujung rambut, sampai kaki.

Akankah yang dipakai sempurna menutup seluruh tubuh, dan rambut? Atau jangan-jangan meski sudah belajar untuk berhijab, namun tak jua, naik “kelas” selama bertahun-tahun kita berpakaian.

Tak sadar kerudung  tak menjulur dengan sempurna dan pakaian yang dikenakan masih juga memperlihatkan lekuk tubuh, yang memungkinkan mengundang nafsu syahwat.

Ada contoh berharga yang ditujukkan oleh Fatimah binti Muhammad, Putri Nabi Muhammad saw mengenai menjaga  rasa malu.

Ia sangat risau melihat bentuk keranda saat itu. Karena keranda untuk mengusung jenazah yang akan dikebumikan antara lelaki dan perempuan tak ada bedanya.

[irp posts=”46″ name=”Singa Allah; Hamzah bin Abdul Muthalib, Pembela Rasulullah”]

Hingga Fatimah mengutarakan kerisauan hatinya pada Asma’ binti Umais, “Sungguh aku tidak suka dengan keranda mayat yang digunakan untuk wanita. Terlihat keranda itu hanya ditutup kain sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya.”

Asma’ berkata, “Wahai putri Rasulullah, apakah kamu mau aku perlihatkan apa yang telah aku lihat di Habasyah?” Lalu ia minta diambilkan beberapa pelepah kurma basah kemudian menatanya, lantas menutupnya dengan kain. Fatimah terlihat sangat terkesan. Kemudian Fatimah berkata, “Alangkah indah dan bagusnya ini! Jika aku mati  nanti, mandikanlah oleh kamu dan Ali, jangan ada seorang pun yang masuk kepadaku.”

Sikap yang ditunjukkan Fatimah sangatlah terlihat, bagaimana ia ingin menjaga dirinya walau telah meninggal sekali pun. Wasiat pada ‘Asma mengandung isyarat bahwa, ia tidak ingin banyak orang turut campur dalam masalah yang berhubungan dengan fisiknya, karena itu adalah yang harus dijaga oleh para muslimah, walau nyawa telah hilang dari badan.

Ada riwayat lain dari Kahmas meriwayatkan dari Ibnu Buraidah, bahwa ia berkata, “Fatimah berduka atas kematian bapaknya (Muhammad saw) selama tujuh puluh hari, tujuh puluh malam. Ia berkata kepada Asma’, Besok (ketika sudah meninggal) aku sangat malu untuk keluar berada di antara kaum lelaki dengan bentuk tubuhku. Dan ‘Asma berkata, ‘Maukah kamu aku buatkan sesuatu yang pernah aku lihat di Habasyah?” kemudian Asma’ membuat sebuah tandu. Fatimah berkata, “Semoga Allah menutupmu sebagaimana engkau telah membuatkan tutup untukku,” Dan paling mungkin dari riwayat di atas adalah semacam keranda tandu tertutup seperti yang kita lihat sekarang ini .

Fatimah termasuk orang pertama yang menggunakan keranda tandu ini,  atau usungan mayat yang tertutup, disusul oleh Zainab binti Jahsy juga menginginkan dibuatkan serupa.

Akhlak ini adalah yang harus dipunyai oleh muslimah, punya sikap yang tegas terhadap mempertahankan jati dirinya tidak hanya sekedar ikut-ikutan semata, seperti mengikuti mode yang ada pada saat ini tanpa mengindahkan norma berpakaian.

Karena sering terlupa menganggap hal tersebut bukan hal yang besar dan tak terkait dengan surga. Fatimah mengajarkan kita prinsip yang kuat akan norma dan akidah haruslah dibawa dari masih bugar sampai menutup mata.

Rasa malu, bukan hanya sekedar sifat yang tak mau unjuk kebolehan didepan umum, melakukan perbuatan yang membuat tak nyaman secara tak sengaja atau perasaan rendah diri karena merasa tidak mempunyai kemampuan. Rasa malu harus ditunjukkan  dalam hal akidah yang positif.

[irp posts=”53″ name=”Ja’far bin Abi Thalib, Lelaki Dengan Dua Sayap”]

Malu tak bisa sedekah, malu karena tak bisa sholat lima waktu, malu karena malukan hal buruk dan nista, malu karena berpakaian yang tak semestinya, malu karena tak mau belajar dari kehidupan dan lain sebagainya.

Sebagai renungan Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Al-Ahzab ayat 59, yang artinya

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri orang mukmin, hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Referensi:
Candra Nila Murti Dewojati, 2011, Masuk Surga Walau Belum Pernah Shalat, GPU-Kalil, Jakarta

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *