Kentut di Waktu Tilawah Al-Qur’an, Waduh Bagaimana Hukumnya ya?

hukum buang angin ketika baca Al-Qur'an

Hukum Kentut di Saat Membaca Al-Qur’an

Untuk beberapa orang, menahan buang angin (kentut) saat beribadah untuk menjaga kesucian atau menggantung wudhu tidak mudah, apalagi faktor usia, sakit tertentu atau sudah menjadi kebiasaannya.

Jika menggantung wudhu saat Shalat, tidak masalah, karena bukanlah hal yang perlu diselisihkan karena sudah bersifat mutlak. Namun jika harus menahan buang angin saat membaca Al Qur’an dalam jangka waktu yang lama, dan diharuskan menggantung wudhu secara terus-menerus untuk beberapa orang, akan menjadi sesuatu yang sangat merepotkan.

Bagaimana hukum untuk membaca Al Qur’an saat buang angin (kentut)?

Kentut (buang angin) termasuk hadats kecil. Menurut sebagian besar ulama,  hadats kecil  yang muncul sebelum atau tengah membaca tetap diperbolehkan membaca Al Qur’an selama tidak menyentuh mushaf. Bahkan Imam al-Haramain mengatakan jika perbuatan tersebut bukan dikatakan melakukan hal yang makruh.

Imam al-Haramain mengatakan, “Tidak bisa disebut melakukan yang makruh.” (at-Tibyan, hlm. 73).

Baca juga: Bolehkah Setelah Wudhu Mengusapnya Dengan Handuk?

Kebolehan ini didukung suatu kisah Rasulullah Bahwa beliau pernah tidur di rumah Maimunah (istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), yang merupakan bibinya Ibnu Abbas. Ketika masuk tengah atau sepertiga malam terakhir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun. Beliau duduk, mengusap aroma kantuk dari wajah beliau, kemudian beliau membaca 10 ayat terakhir di surat Ali Imran. Kemudian beliau menuju wadah air yang digantung, lalu beliau wudhu sempurna dan shalat tahajud. (HR. Bukhari 4295 & Muslim 763).

Saat bangun tidur  tersebut, Rasulullah dalam keadaan berhadats, hingga para ulama memahami hadits di atas sebagai kebolehan membaca Al Qur’an dalam kondisi berhadats. Sedang menyentuh mushaf Al Qur’an saat kondisi berhadats, ulama sepakat harus dalam keadaan suci.

Ada hadits yang memperkuat hal ini:
“Tidak boleh menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang dalam kondisi suci.” (Kitab Muwaththa’ Imam Malik, dalam kitab Al-Qur’an hal. 199).

Maksud suci di sini adalah dari hadats besar dan kecil, najis dan syirik. Namun jika orang yang berhadats kecil ingin melanjutkan membaca Al-Qur’an dan menyentuh mushafnya, hendaknya dengan menggunakan penghalang, misalnya sarung tangan, sapu tangan atau kain bersih.

Bagaimana dengan hadats besar seperti dalam keadaan junub? Bisa dipahami jika hadats kecil saja harus menggunakan semacam penghalang, maka hadas besar atau junub, harus keadaan bersih suci dan berwudhu, atau mandi jinabat.

Ada adab yang harus dipahami saat buang angin pada waktu membaca Al Qur’an, yakni sebaiknya berhenti sejenak, dan dilanjutkan kembali setelah selesai buang angin. Hal ini menurut:
Imam az-Zarkasyi mengatakan, “Dimakruhkan untuk terus membaca ketika kentut keluar.” (al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, 1/459).

Moga manfaat!

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *