Empat Kebiasaan yang Bisa Mengobati Sakit Hati Dengan Mujarab

obat-penyakit-hati
Sakit hati datang tiada diminta oleh siapapun juga. Jika dibiarkan terlalu lama, akan berakibat sangat buruk. Baik bagi yang bersangkutan, orang yang dianggap membuat sakit hati, bahkan bisa merembet pada orang-orang di sekitarnya.

Sakit hati, harus segera dicari cara untuk menyembuhkannya. Bagaimana caranya?

Simak empat sikap mengobati sakit hati berikut ini:

– Pertama, kita harus mulai memilah dan menanamkan dalam hati bahwa perlakuan menyakiti hati seseorang adalah suatu kesalahan.
Mungkin suatu saat kita pernah melakukan hal serupa dengan itu. Sehingga bila hal itu selalu terjadi, tak ada kata maaf dan hanya berpikiran melakukan hal yang serupa.

Jika sudah demikian, kerukunan warga gampang sekali terkoyak dan tersulut amarah, gara-gara sakit hati salah seorang warga kampung satu dengan kampung lainnya. Seperti dua etnis bentrok gara-gara sakit hati mengakibatkan puluhan rumah dibakar. Sakit hati akan terhenti saat masing-masing pihak saling memaafkan.

– Kedua, tidak membalas perlakuan buruk dengan perlakuan sama, atau bahkan lebih buruk dari itu.

Menahan diri memang mudah dikatakan, namun sangat sulit bila dilakukan. Masalah hati yang terluka bukan masalah kecil. Apalagi kecenderungan manusia yang merasa puas jika telah membalas perlakuan buruk untuk menghapus sakit hati.

Namun, sifat balas dendam itu turun menurun. Hampir tak ada kata lega setelah seseorang membalaskan sakit hatinya, yang ada hanya perasaan kemarahan abadi. Sering kali malah diturunkan pada anak keturunan masing-masing yang berseteru. Bila ada salah satu pihak lapang dada mau memaafkan, efeknya akan luar biasa.

– Ketiga, memperbanyak zikir.

Mengapa harus zikir? Seluruh obat penyakit hati bila dibasuh dengan zikir secara rutin setiap saat, akan berpengaruh positif pada akal dan kesehatan jiwa. Ia mampu mengendalikan dirinya untuk bisa menahan segala emosi dengan lebih baik daripada seseorang yang mulutnya jarang menyebut asma Allah.

“Tidak sekelompok orang duduk dan berzikir pada Allah, melainkan mereka akan dikelilingi para malaikat, mendapatkan limpahan rahmat, diberikan ketenangan hati, dan Allah akan memuji mereka pada orang yang ada didekatnya.” (HR. Muslim)

– Keempat, kemampuan seseorang dalam menata emosi lainnya adalah tak berprasangka buruk pada sesama manusia, terlebih kepada Allah. Prasangka buruk ini akhirnya akan mengarahkan berbagai penyakit jiwa lainnya, seperti marah, cemas, takut, kekhawatiran berlebih, dan beragam emosi negatif lainnya.

Dalam hadis qudsi disebutkan,”Aku menyesuaikan diri dengan prasangka seorang hamba. Aku selalu bersamanya jika ia berdoa kepadaku. Jika ia sebut nama-Ku di hatinya, Kusebut namanya di hati-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini tentu jadi cerminan seseorang tentang prasangka. Bila ia selalu berprasangka buruk, maka selain akan membuat hati menjadi ‘busuk’, Allah juga turut ‘menjauh’ dari hatinya.

Lalu bagaimana cara mengusir segala prasangka buruk tersebut? Yang paling mungkin adalah menerapkan asas praduga tak bersalah pada setiap kejadian yang dialami. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan, menghukum, menghakimi seseorang, sebelum terkumpul bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan.

Memang terlihat susah dan rumit. Karena sudah jadi kebiasaan orang, apa yang didengar dan dilihat, itulah kejadian sebenarnya.

Itu bisa jadi benar, namun terkadang salah. Seperti seorang Istri yang menuduh suaminya berzina setelah hanya mendengar dari seseorang atau mendengar sendiri, namun tanpa melihat kejadian sesungguhnya. Bisa jadi hal itu salah besar, bahkan bisa jadi fitnah.

 

Oleh: Candra Nila Murti Dewojati

 

loading...
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *