Sudahkah Jilbab Syar’i Anda Benar Menurut Tuntunan Islam?

Sudahkah Jilbab Syar’i Anda Benar Menurut Tuntunan Islam?

Fenomena jilbab syar’i atau penggunaan pakaian muslimah di negeri ini dalam sepuluh tahun terakhir sudah menunjukkan peningkatan yang cukup menggembirakan. Dari pelosok pedesaan, kampung, perkotaan, sekolah-sekolah, perguruan tinggi, perkantoran sampai pasar-pasar mudah sekali menjumpai muslimah berjilbab.

Bagaimanapun fenomena hijab muslimah ini tetap mendapatkan apresiasi, dibanding beberapa puluh tahun yang lalu.

Hanya saja, meskipun sudah banyak wanita menggunakan model jilbab syar’i, namun masih juga banyak wanita yang asal-asalan menggunakan busana muslimah ini. Hanya ikut-ikutan mode saja, kerudung atau penutup kepala tidak menjulur sampai dada, ataupun pakaiannya masih memperlihatkan lekuk tubuhnya. Jika sudah begini, akan sia-sia pahala yang akan diraup.

Dalam Islam, wanita diperintahkan untuk berhijab saat keluar rumah atau di depan lelaki yang bukan mahramnya bukan tanpa alasan. Allah menciptakan wanita berbeda dengan lelaki dalam hal postur tubuh, susunan anggota badan, maupun kondisi kejiwaannya.

Perbedaan yang cukup signifikan ini akhirnya akan memunculkan perbedaan dalam sebagian hukum-hukum syar’i, tugas serta kewajiban yang sesuai dengan penciptaan dan kodratnya masing-masing. Hingga kemaslahatan yang ingin dicapai dan terhindarkan dari mudharat bagi umatnya, dan hal ini Allah paling mengetahuinya.

Pada saat ini, muslimah yang belum mau belajar menggunakan busana muslimah yang sesuai ketentuan syar’i, pada dasarnya merugi, karena wanita itu secara kodrati telah digariskan sebagai pendidik generasi mendatang, untuk itu harus menjaga kesucian, memiliki rasa malu yang tinggi, mulia dan bertaqwa.

Untuk itu, wanita yang berhijab secara syar’i insyaAllah tidak akan diganggu orang, terhindar dari kemaksiatan, dan keinginan berbuat tidak senonoh, lebih dihormati dan bisa menjaga tindak tanduk dan kesopanannya.

Ketentuan Jilbab Syar’i Menurut Islam

As-Sindi menyatakan jika jilbab merupakan kain yang digunakan oleh perempuan untuk menutupi kepala, dada dan punggung ketika keluar rumah. Meski demikian apa yang dinyatakan As-Sindi hanya secara umum, dan syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani seorang tokoh besar modern dalam bidang hadits memberikan syarat-syarat secara rinci mengenai ketentuan pemakaian jilbab ini agar memenuhi syar’i, yaitu:

1. Menutupi seluruh tubuh dengan baik, kecuali bagian yang dikecualikan.

Dalam surat An-Nuur ayat 31
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung (khimar) ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka…”

Ulama salaf berselisih pendapat mengenai tafsir arti “menampakkan perhiasaan”. Ada yang berpendapat perhiasaan yang boleh nampak adalah pakaian bagian luar yang dikenakan wanita, karena tidak mungkin disembunyikan. Namun Ibnu Jarir menyatakan arti dari tafsir itu adalah ‘wajah dan telapak tangan’, sebagai perhiasan yang boleh ditampakkan.

2. Bahan Jilbab tidak tipis dan transparan dan tidak menampakkan lekuk tubuh.

Hal ini berarti jilbab jika berbahan tipis maka harus memakai pakaian bagian dalam atau diberi lapisan. Lebih afdol jika berbahan tebal, hingga tidak menggambarkan lekuk tubuh. Hingga tidak menimbulkan syahwat bagi kaum lelaki yang mempunyai niatan buruk pada wanita. Mengenai hal ini ada sebuah kisah dari Usamah bin Zaid bahwasanya

Usamah bin Zaid berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, ‘Mengapa engkau tidak mengenakan baju Qubthiyah yang telah kuberikan?’ ‘Aku memberikannya kepada istriku,’ jawabku. Maka beliau berpesan, ‘Perintahkanlah istrimu agar memakai pakaian bagian dalam sebelum mengenakan baju Qubthiyah itu. Aku khawatir baju itu akan menggambarkan lekuk tubuhnya.’” (HR. Ahmad dan al-Baihaqi, hasan).

3. Jilbab bukan untuk berhias.

Mengapa demikian? karena tujuan utama wanita memakai jilbab karena untuk menutupi perhiasaan, bukan sarana untuk menarik perhatian lawan jenis. Untuk itu, marilah wahai para wanita kembali bersikap sederhana saat berpakaian atau berhias untuk tidak berlebihan pakaiannya berbordir, memakai payet, pita sulam emas perak yang silaukan mata atau warna-warna yang menyolok mata.

4. Tidak memakai wewangian.

Dalam konteks ini larangan memakai wewangian ini dikarenakan agar tidak menimbulkan perhatian dari lawan jenis, baik di masjid atau tempat umum lainnya. Hal ini bisa dilihat dari hadis dibawah ini:
Hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Seorang wanita melintas di hadapan Abu Hurairah dan aroma wewangian yang dikenakan wanita tersebut tercium olehnya. Abu Hurairah pun bertanya, ‘Hai hamba wanita milik Al-Jabbar (Allah ta’ala)! Apakah kamu hendak ke masjid?’ ‘Benar,’ jawabnya. Abu Hurairah lantas bertanya lagi, ‘Apakah karena itu kamu memakai parfum?’ wanita tersebut menjawab, ‘Benar.’ Maka Abu Hurairah berkata, ‘Pulang dan mandilah kamu! Sungguh, aku pernah mendengar Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah tidak akan menerima shalat wanita yang keluar menuju masjid sementara bau wangi tercium darinya, hingga ia kembali ke rumahnya dan mandi.’” (HR. Al-Baihaqi, shahih).

5. Pakaian yang dikenakan tidak menyerupai pakaian laki-laki.

Walau sudah terbiasa memakai jeans atau kemeja dan kemudian memakai kerudung atau jilbab, jika wanita mengetahui syarat-syarat ini, maka sebaiknya segera mengubah diri seperti sesuai yang diperintahkan oleh Rasulullah, agar tidak dilaknat beliau. Perbuatan menyerupai lawan jenis disebut tasyabbuh dan merupakan dosa besar.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pria yang memakai pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian pria.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, al-Hakim, dan Ahmad, shahih)

6. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir dan mengundang sensasi (pakaian syuhrah)

Meniru-niru baik pakaian maupun perbuatannya, seperti mode-mode atau kebiasaan-kebiasaan yanga dikira lagi tren didunia saat ini, padahal jika dirunut perbuatan meniru namun berakhir buruk dianggap masuk golongan mereka.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad, hasan).
Yang disebut pakaian syuhrah adalah pakaian yang mengandung sensasi baik modelnya, warnanya, agar menjadi pusat perhatian orang lain.

Perlu kehati-hatian para wanita muslim memilih pakaian yang dikenakan. Meski terlihat menarik karena menyolok, hal yang mengandung sensasi ternyata tidak disukai dalam Islam.

“Barangsiapa yang memakai pakaian syuhrah di dunia, maka Allah akan memakaikan pakaian (kehinaan) yang serupa baginya pada hari kiamat, lalu Allah akan menyulutkan api pada pakaian itu.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, hasan).

Demikian ketujuh syarat diatas yang harus dipatuhi oleh muslimah jika ingin berpakaian jilbab muslimah secara syar’i. Di zaman kemudahan informasi dan ketersediaan jilbab syar’i ditengah masyarakat, semestinya merupakan jalan terbaik untuk istiqomah para wanita untuk berpakaian sesuai dengan perintah agama. Percayalah, memenuhi syarat ketentuan agama akan membuat wanita selamat dunia akhirat dan terhormat di mata Allah maupun manusia lainnya.

 

Referensi:
• Menjaga Kehormatan Muslimah [terjemah. Hiraasah al-Fadhilah], Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid, Daar an-Naba’.
• Kriteria Busana Muslimah [terjemah. Jilbaab Mar-ah Muslimah fil Kitaab was Sunnah], Muhammad Nashiruddin al-Albani, Pustaka Imam Syafi‘i.

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *