Ja’far bin Abi Thalib, Lelaki Dengan Dua Sayap

jafar-lelaki-dua-sayap

Saat Rasulullah saw sedang duduk dan Asma’ binti Umais berada di dekatnya saat itu mereka baru dirundung kesedihan yang mendalam, karena sabahat dan suami terbaik gugur dalam berjihad.

Tiba-tiba Rasulullah saw menjawab salam, padahal di dekatnya tak terlihat seseorang mengucapkan salam. Kemudian beliau bersabda,

“Asma’, Ja’far datang bersama malaikat Jibril, Mika’il dan Israfil. Mereka telah memberi salam kepada kita maka jawablah salam mereka. Kemudian, ia juga mengabarkan bahwa ia telah menghadapi kaum musyrik pada hari peperangan dan ia bercerita,’Aku menyerang orang-orang musyrik lalu aku mendapatkan serangan balasan tepat di dadaku sebanyak 33 anak panah, tusukan pedang, dan pukulan. Kemudian, aku memegang bendera dengan tangan kanan dan akhirnya tangan kananku terpotong. Aku berusaha memegang bendera dengan tangan kiriku juga terpotong. Karena itu, Allah mengganti kedua tanganku dengan sepasang sayap sehingga aku bisa terbang dengan sayap itu bersama Jibril dan Mika’il. Aku juga bisa turun dari surga sesuka hatiku. Aku juga bisa memakan buah surga semauku.”

Subhanallah, lelaki dengan dua sayap itu memanglah ada. Dialah Ja’far bin Abi Thalib r.a beliau bak pinang dibelah dua dengan Rasulullah, baik segi fisik maupun akhlaqnya yang baik.

Hingga Rasulpun pernah berucap, bahwasanya Ja’far seorang dengan postur tubuh dan akhlak yang mirip sekali dengan Rasul, hingga disebutkan masuk golongan dan keluarga beliau. Memang Ja’far adalah anak paman Nabi saw.

Gelar Abu Masakin (Bapak  para fakir miskin) diberikan Rasulullah kepadanya karena memang ialah penyantun dan pencinta fakir miskin yang paling menonjol. Tak hanya menyantuni, ia bahkan menyediakan bahu untuk bersandar kaum papa dan sudi mendengarkan keluh kesah kaum miskin.

Hatinya bak sutera, lembut lagi mulia. Tak peduli hartanya habis, bila itu memang untuk kepentingan fakir miskin.

Ja’far adalah termasuk pemeluk Islam yang awal, bersama istrinya mendatangi Rasul tuk ucap kalimat syahadat. Keputusannya bukan tanpa resiko.

Sebagai minoritas, Ja’far dan keluarganya jadi sasaran kaum musyrikin yang tak senang melihat seseorang menjadi muslim, berbeda dengan mereka yang tak mengakui Tuhan dan menyembah berhala.

Siksaan dan tekanan dari mereka menyebabkannya membuat keputusan yang sulit, Ja’far memimpin kaumnya, Muhajirin untuk hijrah ke negeri Habasyah, untuk mencari perlindungan.

Pilihan negeri Habasyah bukan tanpa sebab, karena konon raja Najasyi adalah seorang pemimpin berkarakter kuat, budi pekerti baik, tak mengenal nepotisme apalagi menyukai korupsi, menggelembungkan dana dan menghamburkan dana rakyat, untuk perkaya diri atau kesenangan pribadi semata.

Sehingga saat kaum Quraisy yang mengetahui iringi-iringan kaum muslim yang sangat mereka benci akan tiba di negeri itu, sontak pemimpinnya membagi-bagikan harta, dan menebar pengaruh kepada para pemimpin negara Habasyah.

Para pendeta, petinggi kerajaan tak luput dari uang sogokan Quraisy. Tapi apa yang terjadi?

Kedatangan kaum Muhajirin yang dipimpin Ja’far diterima dengan terbuka oleh raja Najasyi, dan terjadilah dialog yang sangat penting dalam sejarah karena pada akhirnya raja itu memeluk Islam.

Peranan Ja’far terasa menonjol ketika ia mulai menyampaikan agamanya. Dengan gaya bahasa yang lugas, tangkas dan cerdas ia menjawab seluruh pertanyaan sang raja laksana secercah sinar cahaya diwaktu fajar, sehingga saat Ja’far diminta membaca ayat-ayat Allahpun, tanpa sadar raja Najasyi meneteskan air mata.

Memang Ja’far adalah sang komunikator hebat.

Ja’far juga dikenal yang sangat penyayang kepada istrinya, sehingga Asma’ binti Umais istrinya sangat beruntung memiliki suami yang sangat baik padanya, hingga ia berucap, “Aku tidak pernah melihat seorang pemuda dari bangsa Arab yang lebih baik dari Ja’far.”

Keinginan yang menggebu untuk berjihad di jalan Allah memang terlaksana sudah, akhirnya ia berhasil berperang melawan Roma dan kaum musyrikin, pada perang Mu’tah.

kisah-ja'far-sang-dua-sayap

(ilustrasi, kecamuk perang)

Berada di garda terdepan, membawa bendera panji-panji Islam dengan kudanya yang berwarna pirang, berujung pada gugurnya sang lelaki dengan dua sayap ini. Tangan kanan dan kiri berhasil ditebas musuh.

Tubuhnya penuh dengan tusukan pedang dan anak panah, sebanyak 33 luka menganga baluti sekujur tubuhnya. Hempasan raganya, saat terkulai ke tanah dan hilangnya nyawanya disambut dengan duka mendalam oleh kaum muslimin, meski saat itu pada akhirnya  saat Khalid bin Walid yang dijuluki “pedang Allah” mengambil alih bendera itu, kemenangan Islam sudah di tangan.

Mendung seolah bergelayut di langit, saat kematian Ja’far terdengar, isak tangis tak henti mengiringi jasadnya, hingga Rasul berkata,”Ja’far benar-benar seorang yang pantas untuk ditangisi oleh wanita.”

Tak hanya para sahabat dan wanita, keluarga Ja’far yang menangisi kepergiannya, namun juga para fakir miskin orang-orang papa yang dahulu senantiasa berpihak kepadanya.

Karena memang Ia seorang yang dermawan sejati, sahabat Rasul yang rela perjuangankan Islam tanpa henti dan Ja’far adalah pencinta istri dengan sangat tulus, berperang melawan kaum musyrik dengan gagah berani, dan syuhada dengan dua sayap.

Hingga Hasan bin Tsabit seorang penyair tak kuasa untuk menyitir kata-katanya yang penuh makna,

Malam mengembalikanku ke Yastrib dengan susah payah
Kesedihan dapat menghipnotis kaum sampai begadang
Karena ingat kekasih, air mata membangkitkanku
Penyebab kesedihan itu, mengingat pertumpahan darah
Musibah dan kehilangan kekasih adalah ujian
Berapa banyak orang mulia di uji kemudian ia bersabar
Aku melihat orang mukmin yang terbaik datang satu persatu
Sungguh aku telah ditinggalkan bersama bangsa yang diakhirkan
Allah tidak akan menjauhkan peperangan yang terus-menerus
Pada Perang Mu’tah Ja’far memiliki dua sayap.

Sumber:
Candra Nila Murti Dewojati, 2012, Masuk Surga Walau Belum Pernah Shalat, Kalil imprint GPU, Jakarta

loading...
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *