Para Istri, Inilah Sikap yang Bisa Meminimkan Rasa Cemburumu!

Para Istri, Inilah Sikap yang Bisa Mengontrol Rasa Cemburumu!
Cemburu menurut buku Jealousy: Theory, Research and clinical Practice adalah reaksi emosi berupa ketakutan akan kehilangan sesuatu yang dianggap penting. Penyebabnya sangat beragam dan bersifat sangat personal dan berbeda pada tiap orang.

Kata sebagian orang cemburu itu bagian dari bumbu pernikahan yang menandakan pasangan hidup masih menyimpan cinta mendalam, rasa sayang dan perhatian.

Sehingga seolah tidak rela ada pihak atau orang lain yang berlaku sama dan mampu mengalihkan perhatian pasangan darinya.
Namun jika cemburu itu berlebihan dan mulai membahayakan diri sendiri dan pasangan, maka itu sudah harus mulai dievaluasi.

Kemudian dicari penyebabnya agar tidak menjadikan hal-hal yang negatif dan mengubah hubungan, membahayakan jasmani, ruhani bahkan nyawa.

Sikap cemburu juga pernah diperlihatkan Aisyah dalam kitab Shahih Imam Al Bukhari. Aisyah berkata: “Aku tidak pernah merasa cemburu kepada salah seorang istri Rasulullah SAW seperti cemburuku pada Khadijah, disebabkan seringnya Rasulullah  menyebut namanya dan menyanjungnya.”

Rasa cemburu demikian memberikan beberapa gambaran betapa Rasulullah sangat mencintai Khadijah meski beliau sudah lama wafat. Alasan mencintaipun sangat syar’i dan itu bisa menjadi pelajaran terbaik buat kaum istri.

Rasa cemburu Aisyah adalah manusiawinya seorang wanita. Meski beliau wanita mulia yang akhirnya paham dan menjadi pelajaran baginya. Jika ingin menjadi istri yang selalu di hati suami, maka perbaguslah akhlak dan menjadi pembela suami dalam kebaikan dan setia  sampai ajal menjemput .

Ada beberapa hal yang bisa meminimalisir kecemburuan di antaranya:

[icon name=”check-circle” class=”” unprefixed_class=””] Ridha pada qadha dan qadar Allah.

Hingga menjadikan rumus seperti ini: apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya dan menjadi bagian kita tidak mungkin lagi salah sasaran. Apa yang bukan menjadi haknya tidaklah akan sampai kepada kita. Apapun yang sudah menjadi catatan-Nya pasti akan terjadi padanya.

[icon name=”check-circle” class=”” unprefixed_class=””] Memperlakukan akal dengan lebih intens saat ada masalah dan menepikan perasaan yang tidak perlu.

[icon name=”check-circle” class=”” unprefixed_class=””] Memperhatikan dampak baik buruk dan akibat yang ditimbulkan saat rasa cemburu yang berlebihan itu menyergap dan lebih cerdas untuk menangani masalah yang berhubungan dengan kecemburuan.

[icon name=”check-circle” class=”” unprefixed_class=””] Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat, misalnya beribadah, bekerja dengan giat dan penuh kreasi agar akal dan hati tidak hanya tertumpu pada satu masalah yang sebenarnya tidak penting.

[icon name=”check-circle” class=”” unprefixed_class=””] Selalu berdoa dan memohon kepada Allah untuk menjauhkan dari rasa cemburu yang tiada perlu.

Dalam Islam, cemburu digambarkan lebih spesifik, yakni rasa ketidaksukaan atau perilaku orang lain yang melanggar ketentuan agama. Rasa ketidaksukaan itu berlandaskan nilai-nilai  akhlak ini akan timbul jika seseorang mempunyai semangat keberagamaan yang baik.

Maka jika ingin menelaah cemburu dalam bingkai takwa, sebenarnya akan lebih sederhana jika dikembalikan lagi pada Allah dan tidak ingin pasangannya terlibat dosa, bukan karena ketakutan kehilangan pasangan hidupnya semata.

Jika selain dengan itu maka cemburu yang tak dilandasi ketakwaan akan berakibat buruk tak terkendali dan penuh buruk sangka. Dan orang yang buruk sangka, menurut Nani Handayani, direktur PGTK Iqro Pondok Gede, akan berdampak pada cara berpikir, raut wajah, aktivitasnya dan menjauhkan seseorang dari ketenangan, hingga bisa mengusik kebahagiaan.

Dan tidak jarang, rasa cemburu itu dapat melukai, untuk itu ada baiknya semuanya dikembalikan dalam koridor takwa. Menjaga cemburu dalam Islam untuk menjaga koridor keharmonisan dalam rumah tangga, diperbolehkan asal itu adalah cemburu yang sehat, namun harus tetap hati-hati menjaga cemburu  karena jika salah menggunakan dan mengantisipasinya bisa membawa kerusakan. Upayakan banyak berdoa dan berbuat baik.

Referensi:
Lisdy Rahayu dan Candra Nila Murti Dewojati, 2014,Istri Bahagia, Qibla, Jakarta

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *