Apakah Hukum Undian Arisan Dan Doorprize Haram?

Apakah Hukum Undian Arisan Dan Doorprize Haram?
Hampir di banyak tempat, ibu-ibu mengadakan arisan. Alasannya, selain sekedar untuk kegiatan, arisan ini juga menjadi tumpuan harapan untuk beberapa orang memanfaatkan uang yang terkumpul dalam jumlah tertentu.

Semua anggota arisan tentu mendapatkan giliran mendapatkannya, hanya saja pertanyaannya jika untuk menentukan urutan arisan itu dengan mengundi, apakah itu haram?

Bukankah mengundi nasib dalam Islam tidak diperkenankan?

Arisan, secara umum termasuk perbuatan muamalat yang belum pernah disinggung didalam Al Qur’an atau Hadits sebelumnya, maka dalam hal ini kita kembalikan dengan asal dari hukum muamalah, dan kaidah fikih yang berbunyi:

“Pada dasarnya hukum transaksi dan muamalah itu adalah halal dan boleh “ ( Sa’dudin Muhammad al Kibyi, al Muamalah al Maliyah al Mua’shirah fi Dhaui al Islam, Beirut, 2002, hlm : 75   ).

Bisa juga kita mengikuti perkataan Ibnu Taimiyah di dalam Majmu’ al Fatawa ( 29/ 18 ) : “Tidak boleh mengharamkan muamalah yang dibutuhkan manusia sekarang, kecuali kalau ada dalil dari al Qur’an dan Sunnah tentang pengharamannya. “

Hadits ini sebenarnya juga menjawab pertanyaan mengenai hal lainnya yang berhubungan dengan muamalah, seperti ikut perkumpulan PKK, komunitas, majelis ta’lim dan banyak lagi lainnya.

Alasan terbanyak, suatu kelompok mengadakan arisan, selain untuk ajang silaturahmi, bisa berbincang dengan rekannya, tentu ada unsur tolong menolong, dimana yang mendapatkannya akan merasa senang karena merasa terbantu untuk memenuhi kebutuhannya.

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.“ ( Qs Al Maidah : 2 )

Lalu bagaimana dengan mengundi saat menentukan urutan yang mendapatkannya? Jika mengundi itu mengandung riba, mengurangi sesuatu secara batil atau bersifat untung-untungan seperti prinsip perjudian, maka hukumnya haram.

Namun jika hanya undian biasa, untuk mennetukan siapa yang mendapat dan semuanya saling ridha dengan sistem itu, karena mengandung nilai keadilan, maka tidak masalah, bahkan bisa dikatakan memudahkan sistem dan menyelesaikan masalah.

Rasulullah juga melakukan undian itu saat harus menentukan sesuatu, termasuk memutuskan kepada istri mana beliau akan pergi bersama.

Aisyah ra, ia berkata: “Rasullulah SAW apabila pergi, beliau mengadakan undian di antara istri-istrinya, lalu jatuhlah undian itu pada Aisyah dan Hafsah, maka kami pun bersama beliau.” ( HR Muslim, no : 4477)

Ada pendapat beberapa ulama yang lebih kontemporer mengenai arisan ini yakni Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syek Ibnu Jibrin serta mayoritas ulama-ulama senior Saudi Arabia. ( Dr. Khalid bin Ali Al Musyaiqih, al Mua’amalah al Maliyah al Mu’ashirah ( Fikh Muamalat Masa Kini ), hlm : 69 )

Syekh Ibnu Utsaimin berkata: “Arisan hukumnya adalah boleh, tidak terlarang. Barangsiapa mengira bahwa arisan termasuk kategori memberikan pinjaman dengan mengambil manfaat maka anggapan tersebut adalah keliru, sebab semua anggota arisan akan mendapatkan bagiannya sesuai dengan gilirannya masing-masing”. (Syarh Riyadhus Sholihin, Ibnu Utsaimin :  1/838).

Hanya saja yang dimaksud arisan di sini adalah arisan yang bentuknya diperbolehkan oleh syariat, tidak mengandung unsur riba, merugikan pihak lain, dan tidak memberikan tambahan biaya pada peserta arisan saat ia mendapatkan urutan lebih awal dan ketentuan-ketentuan lain yang bersifat merugikan. Hal ini banyak terlihat pada  semisal arisan motor, arisan umrah dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan undian doorprize? Secara sederhana doorprize bisa diartikan pemberian hadiah cuma-cuma pada suatu acara, tanpa mengurangi sesuatu pada pihak yang ikut di dalamnya.

Seperti semisal kita ikut suatu acara, ada pengundian doorprize dari pihak penyelenggara yang pembelian doorprize itu bukan mengambil dari uang peserta, kecuali semua peserta mendapatkannya dengan barang atau harga yang sama.

Jika sistematikanya demikian, maka doorprize diperbolehkan, apalagi hadiah itu didapat dari donatur atau sponsor, dan diberikan pada peserta. Jika jumlah hadiah itu memang terlalu sedikit, atau tidak sama jumlahnya dengan peserta, maka dengan cara mengundi itulah cara termudah selesaikan masalah.

Bagaimana dengan hadiah dooprize saat ikuti jalan sehat dan lain sebagainya, di mana panitia mengambil uang hadiah itu bukan dari sponsor namun dikumpulkan dari peserta? Hal ini tidak diperbolehkan karena termasuk mengundi nasib.

Hal ini bisa dilihat dengan firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, maisir, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”. (QS. Al-Ma`idah : 90-91)

Untuk itu, perlu kehati-hatian kita dalam bermuamalah, agar kehidupan kita menjadi berkah. Semoga manfaat.

loading...
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *