Hukum Talak Melalui SMS Atau WA, Suami, Jangan Sembrono Dengan Kata-kata Cerai

Hukum Talak melalui SMA dan WA

 

Kecanggihan teknologi saat ini, menyebabkan seseorang berpikir praktis. Seringkali SMS digunakan untuk komunikasi termudah, murah dan cepat.

Namun tak jarang mereka menggunakan fasilitas ini untuk hal yang sangat penting: menjatuhkan talak melalui SMS pada istrinya.

Pertanyaannya hal penting seperti ini, menjatuhkan talak, memakai SMS atau WA bolehkah dan apakah sah menurut syara’?

Menyikapi fenomena talak lewat SMS, ada beberapa pendapat yang memang harus jeli untuk memahaminya. Karena pada dasarnya ulama pada masa lalu (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali)  belum ada kecanggihan teknologi komunikasi yang bernama SMS, atau lewat bantuan internet, yakni WA, inbox, Telegram dan lain sebagainya.

Maka ulama kontemperer menyikapi talak atau cerai melalui SMS ini dengan diqiyaskan atau dipersamakan dengan talak lewat tulisan.

Untuk itu, mari perhatikan beberapa item berikut ini:

1. Talak lewat SMS atau WA hukumnya sama dengan talak lewat tulisan, demikian para ulama menanggapi hal itu.

Namun masih ada perbedaan pendapat, karena apakah itu termasuk talak sharih (tegas) seperti contohnya: “Kamu saya talak!” yang tidak memerlukan niat atau kinayah (sindiran) yang memerlukan niat, hingga talaknya sah.

2. Jumhur ulama dari kalangan mazhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i mengatakan talak melalui tulisan adalah talak secara kinayah yang memerlukan niat agar sah. Sedang al Sya’bi, al Nakha’i, al-Zuhri, al Hakam dan sebagian ulama mazhab Hambali berpendapat jika talak melalui tulisan merupakan talak sharih yang tetap sah meski tanpa niat.

3. Madzhab empat (Hambali, Maliki , Syafi,i dan Hanafi) berkesimpulan, talak lewat tulisan itu baru sah bila diniatkan sebagai talak.

4. Talak lewat SMS, atau WA dikatakan tidak sah jika belum ditanyakan/dikonfirmasikan kepada suaminya tentang niatnya, apakah isi SMS, WA itu memang niat yang sebenarnya atau sekedar mengancam, main-main bahkan kevalidan tulisan di SMS atau WA itu bisa macam-macam. Mungkin seluler suaminya jatuh hilang dan dipakai orang lain yang tak bertanggungjawab untuk membuat kacau suasana. (Bachtiar Nasir).

5. Jika bukan dari suami, karena rekayasa orang lain, maka tulisan itu tidak diangap sebagai talak, dan tak jatuh sebagai talak.

Az Zuhri berkata, “Jika seseorang menuliskan pada istrinya kata-kata talak, maka jatuhlah talak. Jika suami mengingkari, maka ia harus dimintai sumpah”.

6. Talak, bukan merupakan ajang main-main. Orang yang mengucapkannya atau menuliskannya harus dalam keadaan sehat akalnya, tidak terpaksa, bukan gertakan atau ajang menakuti istrinya.

Talak merupakan hal penting, hormatilah kata-kata talak itu sebagai sesuatu yang penting dan sakral, seperti saat lelaki menikahi wanita, di depan penghulu dengan kata-kata jelas, dan disertai saksi-saksi.

7. Jika ditanya keabsahan secara hukumnya, maka talak baru sah setelah melalui prosedur Pengadilan Agama. Dalam hal ini untuk menghindarkan dari ajang main-main, tertekan atau ditekan, gertakan, menakut-nakuti, dalam keadaan tidak sehat akal atau marah atau bahkan kalimat talak itu berasal dari mulut Suami.

8. Allah menegaskan dalam hal rujuk dan talak sebaiknya dipersaksikan oleh orang lain agar tidak terjadi perselisihan di kemudian hari. Meski jumhur ulama mengatakan tidak wajib hukumnya adanya saksi dalam masalah tersebut.

Dasarnya firman Allah, “Apabila mereka telah mendekati akhir idahnya maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu serta hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS at-Thalaq [65]: 2).

9. Hormati kata talak, seperti Anda menghormati akad nikah.

Jika bukan dalam keadaan darurat, attitude suami menalak istri bukan dengan cara lewat SMS atau WA atau sejenisnya. Ikuti aturan yang berlaku, jika ada celah untuk berkomunikasi secara langsung, maka hal tersebut sebaiknya lakukanlah! Karena Allah Maha Pembalik Hati, insyaAllah ada jalan keluar lebih baik.

 

Referensi:
Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal Salim, terbitan Al Maktabah At Tauqiqiyah, 3: 258-259.

Candra Nila Murti Dewojati, 202 Tanya Jawab Fikih Wanita, Al Maghfirah, Jakarta

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *