Pasca Operasi Caesar, Tak Ada Darah Nifas, Bagaimana Hukumnya?

Darah tak keluar setelah operasi caesar, nifaskah?

Apakah muslimah perlu tahu tentang darah nifas? Tentu saja, apalagi ia adalah seorang ibu yang kelak akan melahirkan anak-anaknya. Pengetahuan tentang darah nifas ini sangat penting karena berhubungan dengan ibadah Shalat yang akan ditinggalkan.

Menurut Syamsuddin Muhammad Al-Khothib, menyebutkan dalam Al Iqna’ fii Halli AlFazhi Abi Syuja’:

“Nifas secara bahasa berarti wiladah (melahirkan). Menurut istilah syar’i, nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita setelah melahirkan dari waktu hamil. Disebut nifas karena keluar setelah adanya bayi. Maka tidak termasuk di sini darah yang keluar ketika merasakan nyeri menjelang melahirkan, juga tidak termasuk pula darah yang keluar bersamaan dengan keluarnya bayi. Kedua darah tersebut tidak tergolong darah haidh karena darah ini adalah pengaruh dari melahirkan. Juga darah tersebut tidak disebut nifas karena keluarnya sebelum keluarnya bayi. Yang tepat, darah tersebut adalah darah fasad (darah rusak).”

Namun ada beberapa hal yang ditekankan pada para wanita di sini jika darah nifas itu adalah darah yang keluar setelah melahirkan bukan sebelum atau bersamaan dengannya.

Ada beberapa hal yang harus wanita ketahui dari darah nifas, dan ini adalah pertanyaan yang sangat umum disampaikan oleh para wanita yakni:

[icon name=”arrow-circle-right” class=”” unprefixed_class=””] Bagaimana jika darah nifas berhenti sebelum 40 hari (setelah melahirkan), dan setelah itu tidak keluar lagi?

Jawabnya adalah: Hukumnya kapan saja darah nifas itu berhenti, maka ia wajib mandi, shalat dan berpuasa.

[icon name=”arrow-circle-right” class=”” unprefixed_class=””] Bagaimana jika terseling, sebelum 40 hari terhenti dan keluar lagi sebelum 40 hari?

Jawabannya adalah saat wanita melihat terhentinya darah nifas, maka ia wajib mandi, shalat dan puasa.

[icon name=”arrow-circle-right” class=”” unprefixed_class=””]Bagaimana jika darah nifas sempurna 40 hari masa nifasnya, maka selama hari itu tidak wajib puasa, shalat dan hal ini dilakukan setelah mandi besar sesaat darah nifas berhenti.

[icon name=”arrow-circle-right” class=”” unprefixed_class=””]Bagaimana hukumnya jika sudah selesai bersuci, karena menganggap darah nifas selesai tak keluar lagi, namun ternyata masih juga keluar?

Ada dua jawaban atas ini, mari perhatikan berikut ini:
– Apabila keluarnya itu bertepatan dengan masa kebiasaan haid (tanggal yang teratur), maka saat darah itu keluar, ia tidak boleh puasa dan shalat.
– Apabila keluarnya tidak bertepatan dengan kebiasaan haid setelah 40 hari itu, maka bukan dihukumi sebagai darah haid (tapi istihadah), dan wanita yang mengalaminya wajib mandi serta tetap jalankan shalat dan puasa.

Bagaimana saat wanita dioperasi caesar tidak ada darah nifas bagaimana hukumnya?

hukum darah setelah operasi caesar

hukum darah setelah operasi caesar (gbr, vemale.com)

Hal ini dibahas oleh Al-Lajnah Ad-Daimah, hukum bagi wanita seusai bedah Caesar, maka hukumnya sama dengan wanita yang mengalami nifas karena persalinan normal.

Yakni apabila wanita seusai melakukan caesar melihat keluarnya darah dari kemaluannya, maka ia meninggalkan shalat dan puasa sampai suci.

Namun Apabila tak melihat lagi keluarnya darah, maka ia harus mandi, shalat dan puasa seperti halnya wanita-wanita suci lainnya.

Jika wanita ragu mengenai darah nifasnya, maka Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan tidak ada ketentuan mengenai warna darah wanita setelah nifas, apakah merah atau kuning, atau bahkan keruh, karena jika masih keluar pada waktu 40 hari, maka tetap dihukumi darah nifas, sebelum benar-benar bersih.

Sedang darah yang keluar setelahnya, jika darah biasa tak diselingi dengan berhenti maka darah itu darah nifas, jika selainnya maka dihukumi darah istihadhah.

Bagaimana wanita ragu dengan cairan yang keluar karena perubahan warna, apakah nifas atau bukan?

– Juga apabila ragu dengan cairan (lendir) yang keluar saat masa nifas, karena perubahan warnanya, hingga tanda-tanda suci tak bisa dilihat dengan jelas, maka hukum cairan itu diikutkan pada ketentuan darah nifas, sehingga wanita dalam keadaan itu tidak wajib mandi sehingga terlihat keadaan suci yang jelas begitu Al Lajnah ad-Da’imah menyebutkan.

– Tidak ada batasan minimal (ayat-ayat yang menyebutkan demikian) dari wanita yang suci dari masa nifas. Syaikh Ibnu Baz mengatakan: Ada yang 10 hari setelah melahirkan, atau malah kurang dari itu, ataupun lebih dari itu, maka jika ia sudah kedapatan bersih dan suci, maka diberlakukan kepadanya ketentuan hukum wanita dalam keadaan suci.

Semoga bermanfaat.

Referensi:
– Muhammad bin Abdul Qadir, Haid dan Masalah-masalah Wanita Muslim, Mojokerto, tahun 1989
– Candra Nila Murti Dewojati, 202 Tanya Jawab Fikih Wanita, Al Maghfirah, 2013

loading...
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *