Pengin Menyemir Rambut ? Baca Dulu Hukum Mengecat Rambut Bagi Wanita Dalam Islam

 

 

Hukum semir rambut dalam islam

Jangan sekedar tren, kemudian ikut-ikutan menyemir rambut

 

Untuk sebuah mode, apa sih sekarang tak dilakukan wanita? Mulai dari riasan, mode rambut, trend berpakaian, pemakaian wig, bulu mata palsu yang bertingkat-tingkat, mode pakaian yang berubah tiap tahunnya, bisa pula asesoris yang berganti-ganti tiap minggunya.

Semuanya demi sebuah penampilan menawan dan menambah percaya dirinya. Namun awas bagi muslimah, tidak semua trend dalam berhias, mode pakaian sampai bentuk dan potongan rambut diperbolehkan dalam Islam, karenanya mengerti fikih wanita mengenai berhias memang sangat diperlukan.

Saat ini, trend untuk menyemir rambut menjadi warna-warni dan menyolok sudah merebak di mana-mana, hal ini terlihat di televisi, majalah, media sosial atau bahkan disekitar kita.

Pertanyaan muncul, sebenarnya hukum menyemir rambut untuk wanita dalam Islam itu bagaimana? Diperbolehkan atau bahkan haram?

[irp posts=”244″ name=”Hati-hati wanita dalam berhias: Hukum Wig dan Bulu Mata Palsu Dilaknat Allah!”]

Untuk lebih memudahkan memahaminya, saya buatkan poin-poinnya.

1. Diperbolehkan mengecat, mewarnai rambut atau menyemir dengan warna selain hitam untuk rambut yang beruban.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Pada hari penaklukan Makkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) datang dalam keadaan kepala dan jenggotnya telah memutih (seperti kapas, artinya beliau telah beruban).

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” (HR. Muslim no. 2102).

Namun jika uban itu menunjukkan sesuatu yang lebih bijak secara filosofi pada umat, maka sebaiknya tak perlu disemir.

Menjadi tua itu pasti bagi makhluk yang bernyawa. Uban akan menunjukkan usia agar kita lebih banyak beribadah dan bijaksana serta menjaga perilaku.

2. Kata “menghindari”, bukan berarti melarang atau haram, namun ada sebagian besar ulama mengatakan haram menyemir rambut dengan hitam.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah dalam sebuah peperangan, beliau dan para prajuritnya pernah menyemir rambut dengan warna hitam karena untuk strategi perang, karena saat itu tentara Islam banyak yang sudah menua, dan rambut mulai memutih.

Karena beliau ingin musuh mengira tentara muslim banyak yang masih muda hingga terlihat energik, maka disemirlah dengan warna hitam. Ini hanya untuk darurat peperangan, bukan untuk sekedar ‘show’ atau pamer.

3. Menyemir rambut dengan warna hitam untuk mempercantik diri.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsamin menyatakan menyemir jenggot atau rambut kepala dengan warna hitam, maka beliau katakan semuanya adalah haram. Alasannya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tapi hindarilah warna hitam.”

Mewarnai ubannya dengan warna hitam, tujuannya adalah untuk mempercantik diri, agar terlihat lebih muda. Maka perbuatan semacam ini hanya akan membuang-buang waktu dan harta. (Liqo’ Al Bab Al Maftuh, 1/5, Mawqi’ Asy Syabkah Al Islamiyah).

4. Hukum wanita yang berambut hitam diubah dengan warna lainnya.

Syaikh Al Fauzan, menyatakan jika wanita hanya mengikuti mode mewarnai rambutnya yang hitam dengan warna-warni bukan karena beruban seperti artis korea atau yang lainnya, tidaklah boleh karena tidak ada faktor pendorong dalam melakukannya.

Warna hitam sudah menunjukkan kecantikan, namun kalau sudah beruban, butuh warna selain hitam.

Jika mewarnai hanya meniru mode kaum lainnya/ kafir maka hal tersebut tidak diperbolehkan. Hal ini termasuk tasyabuh yakni meniru-niru gaya selain muslimin.

Dari Ibnu ‘Umar Nabi SAW, Bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031, hasan menurut al Hafizh Abu Thohir)

5. Pewarna rambut dalam Islam bukan sembarangan.

Jika pewarna itu adalah hinna (pacar) dan Katm (inai) yakni pewarna rambut alami maka diperbolehkan. Hinna adalah pewarna rambut berwarna merah sedang katam adalah pohon Yaman yang mengeluarkan zat warna hitam kemerah-merahan.

Bagaimana jika pewarna rambut selain itu? pada prinsipnya diperbolehkan asalkan halal, bukan kedap air dimana akan membentuk lapisan dalam kulit kepala dan menghalangi wudhu masuk dalam kulit kepala. Hal yang demikian tidak diperbolehkan.

“Sesungguhnya bahan yang terbaik yang kalian gunakan untuk menyemir uban adalah hinna’ (pacar) dan katm (inai).” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah mengatakan bahwa hadits ini shahih)

[irp posts=”173″ name=”Hukum Potong Rambut Bagi Wanita Muslim Haram?”]

6. Alasan makruh/haram mengecat rambut dengan warna hitam pada rambut beruban, karena hal ini untuk mengelabuhi atau memperdaya orang lain, agar terlihat lebih muda usianya atau agar terlihat selalu cantik dengan rambut warna hitamnya.

7. Menyemir rambut dengan warna hitam untuk rambut yang beruban tidak akan mencium bau surga.

“Pada akhir zaman nanti akan muncul suatu kaum yang bersemir dengan warna hitam seperti tembolok merpati. Mereka itu tidak akan mencium bau surga.” (HR. Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan Al Hakim. Al Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Karena dikatakan tidak akan mencium bau surga, maka perbuatan ini termasuk dosa besar. (Lihat Al Liqo’ Al Bab Al Maftuh, 60/23, 234/27).

Ketujuh hal ini perlu diketahui para muslimat saat ingin mempercantik dirinya dengan menggunakan pewarna rambut.

Janganlah hanya meniru-niru saja untuk berdandan atau berhias diri. Karena Allah sebenarnya sudah memberikan warna terbaik untuk rambut kita.

Buat yang masih rambut hitam, itulah sebaik-baik warna. Jika menginginkan mengubah warna dan tatanan rambut, selidiki dulu apakah hal ini diperbolehkan dalam Islam?

Cantik tapi tak mencium bau surga adalah sia-sia. Apa yang menurut kita keren, belum tentu orang lain menganggap demikian apalagi Islam sudah memberikan aba-aba jika hal tersebut tidak diperkenankan. Bijaklah wahai wanita dalam berpenampilan!

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *