Hukum Kebiri Kimia Bagi Pemerkosa, Bagaimana Islam Memandangnya?

Apakah Islam Menolak Hukum Kebiri Kimia Bagi Pemerkosa?

Saat ini Indonesia sedang darurat kekerasan seksual anak. Kasus pemerkosaan, pelecehan seksual pada anak baik anak-anak lelaki maupun perempuan, merajalela.

Pelakunya pun terbilang masih remaja, bahkan ada yang masih anak-anak! Bagaimana dengan usia korban? Dimulai dari usia 2,5 tahun!Benar-benar sudah rusak generasi penerus kita ini.

Mereka bahkan si pemerkosa ini tidak melakukan sendiri saja, tapi beramai-ramai sampai korban dibunuh atau meregang nyawa!
Publik sangat geram dengan kejadian ini, karena dianggap hukuman yang menjerat pemerkosa tidak menunjukkan rasa keadilan pada korbannya.

Banyak pihak mulai mengusulkan pelaku pedofilia dan kejahatan seksual ini diganjar hukuman lebih berat dari yang selama ini ada.

Baca juga: 9 cara mencegah kekerasan seksual anak

Bahkan, Komite Perlidungan Anak Indonesia (KPAI), Kementrian Sosial, Kementriam Kesehatan dan Kementrian Pendidikan Nasional mengusulkan hukuman untuk membuat jera pelaku kejahatan seksual dengan pengebirian kimiawi, agar mereka setelah keluar penjara tak akan memangsa korban lainnya.

Hukum Kebiri Kimia Bagi Pemerkosa, Bagaimana Islam Memandangnya?

Kebiri kimia (ilustrasi, gbr. manado.tribunews.com)

Sebenarnya pengebirian itu apa? Dalam dunia pengebirian dilakukan dengan dua cara, yakni dilakukan dengan pembedahan dan suntikan kimiawi. Kebiri dengan pembedahan bisa diakukan dengan mengamputasi testis sebagai tempat produksi testosteron.

Namun sebenarnya cara ini dalam dunia modern sudah mulai ditinggalkan karena dianggap menentang hak asasi manusia untuk memperoleh keturunan dan berhasrat seksual.

Pengebirian kimiawi dengan cara menyuntikan cairan kimiawi yang bisa memusnahkan libido seksualnya. Pengebirian ini dimaksudkan untuk melumpuhkan fungsi organ vital laki-laki dalam hal hasrat seksual.

Dan jenis suntikan ini hanya bersifat sementara dan dalam tempo tertentu akan pulih, dan bisa diulang disuntik kembali.

Hukuman ini muncul sebagai ekses kejengkelan penegak hukum kala itu karena kejahatan seksual selalu saja berulanag kali terjadi jika hanya diberi hukuman penjara saja. Sedang orang yang belum melakukannya, bisa menganggap enteng hukuman itu dan berniat melakukannya.

Pengebirian ini dimaksud menekan angka pemerkosa ke level terendah, sekaligus sebagai efek jera yang sudah pernah melakukannya.

Negara yang tercatat melakukannya adalah Korea Selatan, Inggris, Republik Ceko, Polandia, Swedia, Denmark, Jerman dan beberapa negara bagian Amerika Serikat. Namun negara-negara itu ada pula yang telah mencabutnya, namun ada pula negara-negara yang masih mempertimbangkan diberlakukannya, seperti Indonesia, Turki, India dan beberapa negara lainnya.

Namun di Indonesia sendiri masih pro-kontra dikalangan masyarakat, karena ada yang menganggap adanya pelanggaran hak asasi manusia yang kebetulan disuarakan oleh Kombnas Perempuan belum lama ini.

Bagaimana Islam menyikapi masalah kebiri ini?

Berbagai perbedaan muncul karena ini menyangkut masalah yang rumit. Jika Ijtihad diperlukan, maka memang sebaiknya hal ini harus dipertimbangkan matang-matang.

Apakah benar Islam menolah hukuman kebiri kimiawi bagi pemerkosa? Jawabannya kita cermati di bawah ini:

1. Ulama yang tidak menyetujui hukuman kebiri ini dilakukan menyatakan bahwa pada hakikatnya merujuk pada kitab-kitab klasik hukum Islam, mayoritas Ulama mengharamkan kebiri untuk manusia. Di antara ulama itu adalah Imam Ibnul Abdil Bar dalam Al-Istidzkar, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bar’i, Imam Al Qurthubi dan lain-lain.

2. Ulama Indonesia seperti Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Asosiasi Pondok Pesantren Jawa Timur, Hizbut Tahrir, serta kalangan ulama kontemporer lainnya. Mereka berpendapat jika kebiri berarti mengubah fisik manusia, melanggar HAM dan melahirkan jenis hukum baru yang sebelumnya belum pernah dikenal dalam konsep jinayah Islamiyah.

3. Pengharaman Kebiri dengan dalil hadis Ibnu Mas’ud RA yang mengatakan: “Dahulu kami pernah berperang bersama Nabi SAW sedang kami tidak bersama istri-istri. Lalu, kami bertanya kepada Nabi SAW, ‘Bolehkah kami melakukan pengebirian?’. Maka Nabi SAW melarangnya.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban).

4. Ulama yang setuju dengan hukuman kebiri karena lebih mengedepankan aspek maslahat ketika hukuman seperti itu diterapkan. Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Cholil Nafis berwacana hukuman kebiri ini jika diterapkan pada pelaku pemerkosa atau pelaku kejahatan seksual diharapkan bisa memberikan efek jera (zawajir). Hakim diharapkan bisa berijtihad dalam memberikan hukuman yang sesuai dengan kasus pemerkosaan dengan pertimbangan efek jera dan memberikan pelajaran bagi yang lainnya.

5. Islam berpendapat jika hukuman bagi pemerkosa (pezina) sudah jelas. Bagi Pezina yang sudah menikah hukumannya rajam (dibunuh), bagi yang belum cambukan sebanyak 100 kali. Bagi penjahat seksual (pedofilia) tergolong liwat (Homoseksual) ia akan dihukum mati. Jika hanya sebatas pelecehan seksual namun tidak sampai zina ia akan dihukum ta’zir atau penjara.

6. Kebiri kimiawi yang berdampak mengubah hormon testosteron menjadi hormon estrogen akan berdampak cukup signifikan, dimana laki-laki yang mendapat suntikan akan berubah ciri-ciri fisiknya menjadi perempuan, dan dalam Islam jelas hal ini sangat dilarang:
sabda Nabi SAW dari Ibnu Abbas RA, “Rasulullah SAW telah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan melaknat wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR Bukhari).

Dari sini ada yang menyatakan jika ada kaidah fikih yang menyatakan,”Al-Wasilah ila al-haram muharromah” (Segala perantaraan menuju yang haram, maka hukumnya haram juga).

Lalu, dari enam hal di atas, adakah jalan tengah untuk itu mengingat Indonesia bukan negara yang merujuk hukum Islam, namun warganya sebagian besar umat Islam?

Mari simak pendapat yang lebih moderat dari kalangan ulama kontemporer, misalnya dari Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), KH Hamid Fahmy Zarkasy (ketua) yang menyatakan, pemerintah boleh-boleh saja menjadikan kebiri sebagai salah satu pilihan hukuman bagi terpidana kasus pedofilia (Pemerkosaan).

Namun perlu diingat jika ijtihad seorang hakim dalam menjatuhkan hukuman sangatlah menentukan. Tidaklah seluruh kasus yang akan mendapatkan hukuman kebiri.

Hakim diharapkan berijtihad dengan kaidah fikih ad-dharuratu tubihu al-mahdhurat (keadaan mendesak dapat membolehkan hukuman yang sebenarnya terlarang). Apa klasifikasi kondisi darurat? Harus disesuaikan dengan benar-benar sesuai dengan definisinya, yakni sudah pada tahap mengancam jiwa.

Semisal kasus pedofilia dalam hal ini pemerkosaan juga ditambah dengan kasus pemberat lainnya, yakni penyiksaan sadis sampai dengan membunuh dengan sengaja korbannya.

Dari sini, bisa diambil kesimpulan, Islam adalah agama yang memberikan keluasaan untuk berijtihad, dengan dalil-dalil yang shahih, merujuk maslahah, perkecil mudharat untuk masalah-masalah kekinian yang memerlukan pemikiran kedepan dan bijak.
Memang, masalah ini harus dengan pikiran jernih untuk mengambil keputusan hukum yang tepat pada pelaku.

Ingat, jangan asal atas nama HAM, tidak memperhatikan kondisi kejiwaan korban, bahkan sampai meregang nyawa. Keadilan yang sebenar-benarnya hanya ditangan Allah semata.

Hanya saja saat mendengar korban pemerkosaan yang sampai alat kelaminnya dimasukkan sesuatu benda yang sangat tidak masuk akal juga tak manusiawi, sampai korban meninggal dunia, masihkah ada hukuman yang pantas untuknya? Masih kasihan padanya?

loading...
4 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *