Hukum Arisan Dalam Islam, Benarkah Terlarang?

hukum-arisan-dalam-islam

Hukum Arisan Dalam Islam

Arisan sudah menjadi gaya hidup dari sejak zaman dahulu sampai sekarang. Mulai Arisan uang, barang, arisan binatang qurban, sampai arisan umrahpun ada. Zaman Rasulullah pernahkah ada arisan? Sepertinya tidak. Jika demikian, lantas apakah tidak diperbolehkan arisan itu?

Meski belum pernah ada di masa Rasulullah, bukan berarti langsung dihukumi tidak boleh, namun  sebenarnya hukum arisan itu apa? Mari kita simak pendapat ulama mengenai hukum arisan ini.

Pendapat pertama tentang hukum arisan

Beberapa ulama membolehkan arisan bahkan sebagian mereka menganjurkannya jika tanpa ada persyaratan apa pun. Pendapat ini oleh Abu Zur’ah al-‘Iroqi asy-Syafi’i, dan ini adalah fatwa kebanyakan ulama masa kini, seperti mayoritas anggota kibar ulama KSA, yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Baz,  Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, dan Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman al-Jibrin.

Pendapat kedua tentang hukum arisan

Namun ada  sebagian ulama lainnya mengharamkan arisan dalam bentuk apa pun. Inilah pendapat Syaikh Sholih al-Fauzan, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh dan Syaikh Abdurrohman al-Barrok.

Mereka  berpendapat bahwa tiap-tiap peserta sama halnya meminjamkan sesuatu kepada yang lain dengan persyaratan adanya orang lain yang juga meminjamkan sesuatu, maka ini adalah pinjaman yang menghasilkan suatu manfaat (bagi yang meminjami), maka itu dianggap sebagai riba, sebagaimana sabda Nabi : ”Setiap pinjaman yang menghasilkan manfaat, maka itu termasuk riba.” (HR. al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubro 5/349)

Meski  hadits ini dan hadits-hadits yang semakna dengannya dho’if (lemah) dari sisi sanad sebagaimana dijelaskan oleh al-Albani dalam Dho’if al-Jami’: 4244, namun para ulama bersepakat bahwa makna hadits ini sah dan mereka mengamalkannya.

Pendapat yang kuat mengenai hukum arisan

Adalah pendapat yang membolehkan karena dengan alasan Arisan tanpa syarat tertentu sangat bermanfaat dan juga meringankan beban sesama, asalkan tanpa ada paksaan, tanpa adanya riba dan ghoror serta kezholiman satu sama lain; maka hal ini sama dengan hukum pinjam-meminjam (al-qordh) yang telah disepakati bolehnya oleh para ulama. Bedanya, dalam  al-qordh, satu pihak meminjam dari pihak kedua (perorangan), sedangkan dalam arisan sama halnya seseorang meminjam dari banyak orang.

Alasan kedua, Hukum asal setiap akad yang dilakukan manusia adalah sah, kecuali ada keterangan yang pasti akan keharamannya. Seandainya arisan tidak dianggap sebagai al-qordh (pinjam-meminjam), maka arisan adalah suatu akad yang dilakukan antara manusia yang hukum asalnya boleh dan tidak dijumpai dalil yang melarangnya.

Alasan ketiga, dalam arisan terdapat maslahat yang banyak, di antaranya tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa, ia adalah jalan untuk membantu saudara¬nya yang lemah, bahkan membantu mereka me¬menuhi kebutuhan tanpa terjatuh pada akad yang haram seperti riba, menipu dalam jual beli, dan selainnya.

Lebih baik juga ketika orang yang memiliki kelebihan rezeki mengikuti arisan hanya berniat meringankan beban saudaranya.

Keterangan tambahan terkait hukum arisan

Beberapa tambahan mengenai Arisan ini adalah:

  • Arisan yang dibenarkan selain alasan di atas, Kepastian akan mendapatkan uang atau barang dalam waktu tidak lebih dari batas maksimal menurut jumlah peserta.
  • Jika peserta mendapatkan undian yang pertama kali, maka sama halnya dengan mendapat-kan pinjaman modal tanpa bunga.
  • Jika mendapat undian terakhir berarti baginya sama dengan menabung.

Arisan menjadi terlarang apabila:

1. Menimbulkan mudharat yang lebih besar atau terdapat perkara-perkara yang haram.

2. Menimbulkan unsur Zhalim, gharar tidak pastian atau spekulasi, riba, maka arisan seperti itu haram.

3. Stop gibah, menggosip dalam arisan karena hal tersebut sangat dilarang. Tertuang dalam Surat Al Hujurat ayat 12.

4. Jika untuk ajang sosialita, pamer harta, kemewahan, perabot, makanan, Pakaian dan asesoris peserta Arisan, maka arisan tersebut menjadi haram.

Dan Alloh tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Al-Hadid [57]:23)

5. Jika Arisan untuk membanggakan kabilah, garis keturunan tertentu dan menafikan atau menjelek-jelekan lainnya, maka hal ini menjadi haram.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ada empat perkara yang termasuk sifatnya kaum jahiliah yang mereka tidak akan meninggalkannya, yaitu: berbangga-bangga dengan garis keturunan, mencela garis keturunan. (yang lain), meminta hujan dengan perantara bintang-bintang dan meratapi mayat.” (HR. Muslim 1550).

6. Untuk Arisan Haji atau Qurban inilah jawabannya:
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang seorang yang berhutang untuk ibadah haji yang beliau menjawab: “Sebaiknya dia tidak melakukan hal itu (berhutang untuk melaksanakan haji), karena manusia tidak wajib menunaikan haji jika memi¬liki tanggungan hutang, bagaimanakah jika berhu¬tang untuk pergi haji (maka lebih tidak wajib lagi). Maka aku tidak menyarankan berhutang untuk haji, karena haji tidak wajib jika kondisinya seperti ini (belum mampu). Oleh karenanya, sebaiknya dia menerima rukhshoh (keringanan) dari Alloh dan keluasan rahmat-Nya, dan tidak boleh membebani diri dengan berhutang padahal dia belum tentu bisa melunasinva, bisa saja dia mati sehingga tidak dapat melunasi tanggungan hutangnya.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 21/93).

Semoga Manfaat!

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *