Para Suami, inilah 3 Hak Istri yang Harus Dipenuhi!

hak-istri-atas-suami

Dalam mahligai pernikahan, hak dan kewajiban suami istri memang sama-sama harus dipenuhi dengan seimbang, agar tercipta harmonis dalam rumah tangga.

Memang, tidak selamanya pernikahan itu berjalan mulus, salah satu sebabnya tidak dipenuhinya hak dan kewajiban masing-masing dengan baik.

Islam mengajarkan beberapa aspek yang semestinya diikuti oleh umat-Nya agar bisa shuttle dalam pernikahan. Salah satunya adalah dipenuhi hak istri oleh suami.

Maka para Suami, inilah 3 Hak Istri yang Harus Dipenuhi!

1. Terpenuhinya Nafkah lahir dan batin

Selama seorang istri taat kepada suaminya, maka seorang suami berkewajiban memenuhi kebutuhan istri dari makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan materi lainnya, serta kasih sayang, perhatian, juga kebutuhan biologisnya.

Nafkah menjadi wajib karena ikatan perkawinan yang sah. Seorang istri menjadi terikat dengan suaminya dan tertahan menjadi miliknya, sehingga ia berhak menggaulinya secara terus-menerus.

Oleh karena itu istri wajib taat kepada suaminya, tinggal di rumahnya, mengatur rumah tangganya, memelihara dan mendidik anak-anaknya.

Sebaliknya, suami ber-kewajiban memenuhi kebutuhannya dan memberi nafkah kepadanya selama ikatan perkawinan masih berjalan dan istri tidak durhaka atau karena ada hal-hal lain yang menghalangi penerimaan nafkah dari suami.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisa: 34)

Dari ayat di atas terdapat kalimat “kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita” bukan berarti laki-laki bisa berlaku seenaknya terhadap wanita, bisa memukul atau memaksa mereka untuk mengikuti kemauannya yang salah atau yang benar.

Imam Ath-Thabari mengatakan bahwa pengertian qawwam (pemimpin) adalah bahwa kaum lelakilah yang pantas memimpin kaum perempuan dalam menjalankan kewajiban kepada Allah, sebab merekalah yang bertanggungjawab atas nafkah dan kebutuhan lainnya.

Tidak jauh dari pengertian ini, Asy Syeikh As Sa’di dalam tafsirnya mengatakan: “Pengertian qawwam di sini adalah qawwam dalam mengajak istri mentaati Allah: melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi kemaksiatan, maka dalam hal ini kaum lelaki terutama suami harus tegas. Dan termasuk dalam pengertian qawwam juga adalah bahwa kewajiban para suami memberikan nafkah, pakaian, dan kebutuhan lainnya bagi para istri.”

Dan seorang istri juga berhak mendapat pendidikan dan bimbingan dari suami dalam mentaati Allah.

Dari Mu’awiyah Al-Qusyairi, ia berkata, “Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah hak seorang istri dari kami suaminya?’.”

Sabdanya, “Engkau memberi makan kepadanya apa yang engkau makan, engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian dan jangan engkau pukul mukanya dan janganlah engkau menjelekkannya, kecuali masih dalam satu rumah.”

Ibnu Mundzir dan ulamanya berpendapat, “Istri yang durhaka boleh dipukul sebagai pelajaran. Perempuan adalah orang yang tertahan di tangan suaminya, ia telah tertahan untuk bepergian dan bekerja. Karena itu suami berkewajiban memberikan belanja kepadanya.”

2. Wajib bagi suami berikan Pendidikan dan bimbingan untuk taat kepada Allah

Sebagaimana seorang istri wajib taat kepada Allah, maka dalam memelihara ketaatan kepada Allah sang istri berhak mendapat bimbingan dan pendidikan dari suami.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisa: 34)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

suami-inilah-hak-istri

3.Perlakuan yang baik baik secara lisan maupun fisik

Wanita sebagai istri berhak diperlakukan dengan sangat baik oleh suaminya. Bahkan sang suami yang merendahkan istrinya tidak akan masuk surga. Selama sang istri taat kepada suaminya, maka suami dilarang mencari-cari jalan untuk menyusahkan istrinya.

Bahkan ketika sang istri berlaku nusyuz, atau durhaka kepada sang suami, istri masih berhak untuk mendapat nasihat yang baik, hukuman yang mendidik dengan memisahkan ranjangnya, juga pukulan jika diperlukan.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisa: 34)

Perlakuan suami pada istrinya dalam sikap dan bertutur kata. Jangan membentak istri, jika itu memang tidak diperlukan sama sekali. Cerdas berbahasa, lemah lembut, lugas, memilih bahasa yang bisa dipahami dan tidak merendahkan atau mengejek istri jika berbuat kesalahan.

Begitu pula, jangan melakukan kekerasan fisik dalam rumahtangga, meski dalam keadaan terpaksa sekalipun jika itu malah tidak membuat kemaslahatan.

Namun jika tidak ada jalan lain untuk memberi pengajaran pada istri dalam cara memukul, Islam mengajarkan tidak boleh memukul pada wilayah muka, karena di area itu bisa merendahkan martabat wanita, kepala karena itu akan berakibat serius dalam kesehatannya.

Memukul dengan sekedarnya tidak boleh keras, tidak berkali-kali dan hanya sebagai sarana peringatan semata.

Demikian beberapa hak istri yang harus dipenuhi suami, semoga kita termasuk orang-orang yang selalu mengikuti sunah Rasulullah SAW, aamiin..

Referensi:
Lisdy Rahayu dan Candra NM Dewojati, 2015, Istri Bahagia, pen Qibla, Jakarta

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *