Wanita Menyusui dan Hamil, Membayar Fidyah Atau Qadha Puasa?

wanita menyusui qadha atau fidyah

Rukhsyah bagi ibu hamil dan menyusui, masih menyisakan tanya

Saat wanita sedang hamil atau menyusui, ia mendapatkan rukhsah puasa, yakni boleh tidak berpuasa dikarenakan kondisi yang tidak memungkinkan untuk puasa.

Alasannya selain khawatir kesehatan ibu yang hamil semakin memburuk saat tidak kuat berpuasa, juga alasan anak yang dikandung atau anak yang disusui tidak tercukupi ASI bahkan tidak mau menyusu sama sekali saat air susu menjadi bening, karena sebab puasa.

Sebagian ulama menyatakan jika wanita dalam keadaan hamil dan menyusui tersebut bisa menggantinya pada hari yang lain, saat ia mampu, saat ia khawatirkan kesehatan dirinya yang lemah, dan tidak ada kewajiban membayar fidyah.

Namun ada yang berpandangan jika khawatir pada anak yang dikandungnya atau yang disusuinya, maka ia mempunyai kewajiban dua yakni membayar fidyah dan mengqadha atau mengganti puasa. Apakah semua ulama sekapat yang demikian?

[irp posts=”277″ name=”Batalkah Puasa Saat Mencicipi Masakan, Menggunakan obat Asma, Tetes Mata, Suntik Obat, Berkumur, dan Cairan Penyegar Mulut?”]

Untuk ibu-ibu nan cerdas, mari kita cermati pendapat para ulama ya, Anda bisa memilih pendapat yang menurut Anda dianggap paling benar, karena pada dasarnya, ulama empat ini adalah ulama yang mashyur dan pendapatnya dapat dipercaya karena berdasarkan Al Qur’an dan Hadis, Ijma dan Qiyas.

Ulama Hanafiah, Syafi’iyah, Malikiyah dan Hanabilah berpendapat wanita yang tengah hamil dan menyusui tidak menjalankan puasa karena khawatir tentang kesehatan atau tak mencukupi ASI untuknya, maka hanya cukup mengqadha atau mengganti hari lain saja.

Ulama kontemporer seperti DR Yusuf Al-Qardhawi, DR Wahbahh Zuhaili, Syaikh Utsaimin dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz menyatakan jika wanita dalam kondisi semacam itu wajib mengqadha puasa yang ditinggalkan, sedangkan fidyah hanya berlaku pada orang yang tidak ada harapan untuk berpuasa lagi seperti orangtua yang lanjut usia yang sudah pikun atau orang-orang yang mempunyai penyakit menahun.

DR Yusuf Al-Qardhawi berpendapat jika wanita dalam kondisi semacam itu dan tidak memungkinkan lagi mengqadha puasa karena melahirkan dan menyusui selama bertahun-tahun tanpa jeda maka ia bisa mengganti qaadhanya dengan fidyah.

Hingga bisa dikatakan cukup membayar fidyah saja. hal ini dikarenakan adanya ilat (alasan hukum) untuk tidak ada kemampuan lagi untuk mengqadha-nya, namun jika masih ada waktu dan memungkinkan kondisi tubuhnya untuk mengqadha, maka hal tersebut lebih baik.

Lalu, berapa sih ukuran fidyah itu? Menurut sebagian ulama kadarnya adalah 1 mud atau 1 kg kurang. Hal itu ukuran untuk sehari tidak berpuasa. Ulama Hanafiah berpendapat setengah sha’ atau 2 mud (setengah dari ukuran zakat fitrah). Jika dikonversi rupiah maka bisa mengikuti dua cara, yakni disesuaikan dengan bahan makanan pokok atau harga makanan jadi.

Jika kesulitan untuk menakarnya, maka bisa disesuaikan harga makanan jadi dilingkungan tempat tinggal, seperti ukuran standar makan sehari-hari di daerah itu adalah 15 ribu sekali makan, atau setara dengan setengah harga zakat fitrah saat ini.

Siapa yang patut menerima fidyah? yakni orang fakir miskin dilingkungan kita tinggal dan pembayarannya bisa diwakilkan, dengan akad, jika pembayaran tersebut untuk fidyah, khawatir tercampur dengan zakat atau shodaqoh.

[irp posts=”301″ name=”Jangan Pelit! Inilah 7 Alasan Mengapa Kita Harus Banyak Sedekah di Bulan Ramadhan”]

Pembayaran fidyahpun bisa diwakilkan pula pada lembaga yang bisa dipercaya untuk menyalurkan pada yang membutuhkan. karena pembayaran fidyah ini adalah ibadah maaliyah (harta) bukan ibadah fardiyah (personal yang bersifat fisik).

Untuk itu, setelah membaca penuturan di atas, diharapkan kaum muslimah tidak ragu-ragu untuk menetapkan dirinya, apakah mengqadha puasa, atau apakah ditambah fidyah, atau harus membayar fidyah saja.

Jadi anggapan jika ibu-ibu yang menyusui dan hamil hanya membayar fidyah saja tidak mengqadha lagi perlu dipertimbangkan lagi. Pengetahuan yang baru diketahui ini semoga dapat menambah wawasan keagamaan, dan memantapkan keragu-raguan yang mungkin ada. Wallahu’alam.

loading...
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *