Darah Flek Bukanlah Darah Haid, Maka Shalatlah Duhai Muslimah!

Darah Flek Bukanlah Darah Haid, Maka Shalatlah Duhai Muslimah!

Beberapa kali saya mendapatkan pertanyaan wanita mengenai darah flek, atau darah yang keluar di luar kebiasaan masa haidnya.

Mengapa hal ini terus-menerus menjadi pertanyaan untuk wanita? Karena pada dasarnya yang mengalami adalah wanita. Jika ditanyakan pada Ustadz, jawabannya memang tidak bersifat rinci, karena darah wanita itu memiliki spesifikasi sendiri yang unik.

Satu sama lainnya, wanita memiliki pengalaman yang berbeda mengenai darah haid, kebiasaan haid, akibat sakit, kondisional tertentu atau penggunaan obat-obatan sampai efek samping dari ber-KB.

Yang menjadi persoalan saat seharusnya wanita itu sudah melaksanakan shalat karena sudah dihukumi suci, karena ketidak tahuan atau kurang pahaman mengenai hukum darah wanita, maka ia hanya menunggu sampai benar-benar menjadi bersih.

Salah satu yang sering terjadi adalah saat wanita mendapati darah flek, setelah masa haidnya habis, ia tidak segera bersuci, dengan alasan menunggu sampai benar-benar bersih. Benarkah demikian?

Mari kita belajar mengenai darah haid.

Hal-hal yang terjadi saat haid adalah:

  • Sifatnya baunya busuk, warna hitam mengental dan tidak lembut (syaikh Muhammad bin Ibrahim)
  • Darah haid umumnya berwarna merah kehitaman, berbau tak sedap dan keluarnya tidak mengucur seperti urine. (Syaikh Ibnu Utsaimin)
  • Imam Ibnu Hajar Al-Haitami memberikan paparan yang lebih jelas.
    Batasan minimal haid adalah 24 jam dan maksimalnya 15 hari. Umumnya wanita siklus haid 6-7 hari. Untuk dihukumi haid, ia harus berusia minimal 9 tahun dan darah keluar bisa secara terus menerus atau terputus-putus dalam rentang waktu itu. Jika darah keluar kurang dari 24 jam dan lebih dari 15 hari, maka bukan dihukumi darah haid melainkan darah istihadhah.
    Yang disebut terus menerus, bisa dicek darah tersebut menggunakan kapas ditempel dalam vagina, maka akan terlihat bercak darah.
  • Bila seorang wanita darahnya mulai berwarna kuning seperti cairan luka atau tercampur antara warna kuning dan hitam, sehingga ia ragu-ragu, maka jika hal ini terjadi saat masa haid dan haid yang bersambung setelah  bersuci, maka dihukumi sebagai darah  haid.
  • Imam Nawawi mengatakan bahwa tanda berhentinya haid dan masa suci telah datang adalah darah yang terhenti dan juga lendir warna kuning dan keruh keluar. Jika keadaannya sudah demikian maka bersucilah baik sesudah cairan putih keluar maupun tidak. (Kitab al-Majmu’)
  • Namun jika sudah habis masa suci (kebiasaan masa haidnya, misalnya ada yang 6 hari, maka tak boleh menambahi menjadi tujuh), maka setelahnya tidak dihukumi darah haid. Hal ini disampaikan oleh Ummu ‘Athiyyah setelah mendengar perkataan ‘Aisyah.
    “Jangan kalian tergesa-gesa (untuk bersuci) sampai kalian melihat al-Qashshatul baidha” (Shahih Al Bukhari, kitabul Haidh)
    Yang disebut al-Qashshatul  baidha adalah cairan bening pertanda selesinya masa haid.
  • Dalil mengenai keberadaan darah flek sebagai berikut:
    “Apabila seorang wanita setelah suci dari haid, dia melihat seperti air cucian daging (warna darah merah pucat seperti cucian daging) , atau flek, atau lebih kurang seperti itu, hendaknya dia cuci dengan air, kemudian wudhu dan boleh shalat tanpa harus mandi. Kecuali jika dia melihat darah kental.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 994)
  • Mengenai darah flek yang keluar, jika diluar kebiasaan haidnya, maka bukan dihukumi darah haid, karena darah haid mempunyai sifat yang khas dalam segi kekentalannya, warna, bau, dan mengucur (jumlahnya).
  • Jika Anda sudah terlanjur mengira  haidnya misalnya 10 hari (7 hari haid, 3 hari flek), maka sebaiknya mulai saat ini yakini jika haid Anda sebenarnya hanya 7 hari.
  • Apabila flek itu terjadi karena setelah ber-KB atau karena mengkonsumsi obat-obatan tertentu, maka itu bukan haid (karena tidak terindikasi sifat-sifat haid).
  • Bila wanita yang haid mulai ragu-ragu, maka hendaklah menetapkan mana yang pasti. Berpegangan pada apa yang diyakini, bukan yang diragui saat menetapkan masa suci.
    Dalam kaidah fiqh menyebutkan sesuatu yang yakin (pasti), tidak dapat dihilangkan dengan sesuatu yang meragukan. (Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Asybah wa An-Nazha ‘ir fi Al-Furu’, hal 37)

Mengapa Pengetahuan ini sangat penting diketahui wanita? Karena menyangkut ibadah yang dijalananinya. Mau rugi jika sebenarnya kita hanya memiliki daur haid sekitar 5 hari saja, namun karena melihat flek, mengira itu darah haid, dan tidak menjalankan shalat selama tiga hari di depannya?

Mari para muslimah, janganlah ragu menetapkan masa haidmu!

Referensi:
Candra Nila Murti Dewojati, 2012, 202 Tanya jawab Fikih Wanita, Al Maghfirah, jakarta

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *