5 Cara Mengendalikan Marah yang Harus Diperhatikan Agar Emosi Tidak Sia-sia

cara mengendalikan marah
Anda termasuk pemarah? Atau banyak hal di sekeliling Anda yang bisa membuat tersulut kemarahan? Jika akhirnya hal ini tidak membuat nyaman Anda, karena merasa pekerjaan marah adalah suatu sia-sia belaka maka perlu ada solusinya.

Pertama, coba identifikasi hal-hal yang mungkin selalu membuat kita marah, penyebab yang selalu sama. Misalnya setiap anak menunjukkan hasil ulangan sekolah yang buruk, kita selalu marah.

Kedua, berusaha agar setiap marah menjadi marah yang tuntas, jangan sampai memendam sisa kemarahan yang akhirnya ditabung kemudian suatu saat akan diledakkan menjadi klimaks yang berujung sangat buruk. Misalnya istri yang tidak menyukai suaminya ketika setiap gajian membeli burung peliharaan mahal.

Kemarahan yang terjadi tidak pernah tuntas setiap suami melakukan hal yang sama. Akhirnya, ketika ada masalah lain yang besar, perkara pembelian burung dan hal-hal lainnya akan diikutsertakan dalam pertengkaran, dan bisa berujung perceraian.

Ketiga, mengubah posisi tubuh. Cara ini ternyata efeketif ketika seseorang marah berkepanjangan. Misalnya, saat marah posisi Anda berdiri, upayakan duduk atau pidah posisi. Hal ini dimungkinkan memberikan jeda dalam diri untuk mengatur irama kemarahan. Memberikan minum orang yang marah sangat memungkinkan meredakan marah.

Keempat, berwudhu, ini cara yang sering dilakukan oleh Nabi saw. saat marah. Nabi Muhammad saw. terkenal sangat santun dan lemah lembut di antara perangai masyarakat Arab yang keras. Ia memang sosok yang berbeda dengan masyarakat Arab kebanyakan saat itu. Marah adalah hal yang manusiawi dan bisa terjadi pada siapa saja.

Kemarahan sang nabi, tentu tak sama dengan orang biasa. Beliau marah bila bila memang perlu marah karena beralasan.
Nabi Muhammad saw. pernah sangat marah pada Aisyah, istrinya, saat beliau selalu menyebut nama Khadijah seusai menjamu perempuan tua yang datang ke rumah Nabi saw. Beliau teringat perempuan tua karena saat Khadijah masih hidup, Khadijah selalu menerima wanita tua tersebut dengan baik. Nabi saw. pun mengormatinya.

Mendengar penuturan itu, Aisyah sangat cemburu. Secara tak sadar terucaplah kalimat, ”Engkau masih saja menyebut-nyebut perempuan yang sudah meninggal itu. Bukankah kini saya tengah menggantikannya sebagai pendamping yang lebih baik darinya?”
Nabi Muhammad saw. terkejut mendengar penuturan dari Aisyah. Dengan wajah memerah karena marah, beliau berkata, ”Asal kau tahu Aisyah!, Allah tidak akan mendatangkan pengganti sebaik atau lebih baik dari Khadijah! Mungkin di dunia ini tak akan ada lagi perempuan seperti dia!”

Kelima  adalah cara terakhir untuk memendam amarah, yakni jika setelah berwudhu marah belum hilang, maka cara terakhir yaitu dengan mengerjakan shalat dua rakaat. Diharapkan setelah shalat, hati akan tenang dan kemarahan pun mereda.

 

Ditulis Oleh: Candra Nila Murti Dewojati

 

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *