Bolehkah Kita Menyarankan Seseorang untuk Bercerai?

bolehkah menyarankan cerai untuk pasutri
Dalam bersosialisasi dengan banyak orang seringkali kita diminta pendapat mengenai urusan rumah tangga. Pada suatu titik, saat rumah tangga itu sudah tidak terlihat harmonis, dan seringkali mengeluh pada seorang teman, maka kerap temannya menyarankan untuk  bercerai saja dengan pasangannya, karena mereka seringkali bertengkar dan adu fisik.

Sebenarnya, menyarankan untuk bercerai bolehkah? Mengenai hal ini ada salah satu ayat yang mungkin secara global bisa diqiyaskan dengan permasalahan tersebut:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”  (Ali Imran : 110).

Salah satu kebolehan untuk menyarankan, atau menyuruh pada orang lain adalah sesuatu yang berhubungan dengan kemaslahatan atau kebaikan, sesuatu yang makruf, dan tentu mencegah yang mungkar. Nah, untuk merujuk sesuatu yang makruf dan mencegah yang mungkar setiap manusia berbeda permasalahannya.

Seperti menyuruh seseorang untuk menikah, karena memang sudah usia, atau mencegah agar tidak terjadi zina. Bagaimana jika itu menyarankan untuk berpisah atau bercerai?

Dari sahabat Abdullah bin Umar berkata : “Aku mempunyai seorang istri serta aku mencintainya dan Umar tidak suka kepada istriku. Kata Umar kepadaku, ‘Ceraikanlah istrimu’, lalu aku tidak mau, maka Umar datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakannya, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Ceraikan istrimu’” (Hadits Riwayat Abu Dawud 5138, Tirmidzi 1189, dan Ibnu Majah 2088).

Hadits di atas, sering dipakai untuk kebolehan orang tua dalam hal menyarankan cerai bagi anaknya, namun ada hal yang perlu digaris bawahi. Dalam hal apa orangtua dapat menyarankan anaknya untuk bercerai dengan pasangannya?

Tentu Islam tidak gegabah dalam kebolehan itu. JIka semua orangtua mmepunyai hak untuk campur tangan dalam pernikahan anak-anaknya, bisa dibayangkan berapa banyak pasangan yang bercerai karena advis orangtua yang harus dipatuhinya.

Sebagian ulama yang lain mengatakan jika orang tua kita menyuruh menceraikan istri tidak harus diataati. (Masaail min Fiqil Kitab wa Sunnah hal. 96-97).

Hal ini terlihat saat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika ditanya tentang seseorang yang sudah mempunyai istri dan anak kemudian ibunya tidak suka kepada istri dan mengisyaratkan agar menceraikannya, Syaikhul Islam berkata, “Tidak boleh dia mentalaq istrinya karena mengikuti perintah ibunya. Menceraikan istri tidak termasuk berbakti kepada Ibu.” (Majmu’ Fatawa 33/112).

Lalu, bagaimana dengan korelasi hadis di atas, mengenai Umar menyarankan bahkan menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya, walau sebenarnya anak Umar tidak mau melakukan itu, namun hal itu malah didukung oleh Rasulullah?

Tentu, para sahabat, juga Rasulullah bukan gegabah untuk memutuskan hal itu, karena segala perbuatan dan perkataan keduanya menjadi panutan dan diikuti seluruh umat. Hal-hal yang mendasari hal itu, tentu merupakan ketentuan syar’i.

Ada beberapa hal yang sangat urgen yang mengharuskan seseorang menyudahi pernikahannya, jika terlihat tidak ada sesuatu yang makruf dan banyak hal yang berbau mudharat, melenceng dari ketentuan syar’i, tak ada kepatuhan istri pada suami, adanya kekerasan dalam rumah tangga, berbau maksiat dan menjerumuskan dalam neraka. Tentu hal-hal tersebut merupakan alasan yang dibolehkan seseorang untuk bercerai.

Bahkan jika sudah tak ada lagi maslahah dalam pernikahan, maka wajib menyarankan atau menyuruh untuk menceraikan pasangan seseorang.
Namun sekali lagi, perlu ditekankan jika saran untuk bercerai kepada seseorang memang harus hati-hati, bukan karena hawa nafsu, bukan semisal karena harta, karena pangkat, jabatan, karena ketidak sukaan yang tak mendasar, atau tidak ada alasan syar’i yang menyertainya. Imam Ahmad juga memperingatkan hal tersebut pada umat, yang ingin berlaku seperti laiknya Umar.

Ada orang bertanya kepada Imam Ahmad, “Apakah boleh menceraikan istri karena kedua orang tua menyuruh untuk menceraikannya ?” Dikatakan oleh Imam Ahmad, “Jangan kamu talaq”. Orang tersebut bertanya lagi, “Tetapi bukankah Umar pernah menyuruh sang anak menceraikan istrinya ?” Kata Imam Ahmad, “Boleh kamu taati orang tua, jika bapakmu sama dengan Umar, karena Umar memutuskan sesuatu tidak dengan hawa nafsunya” (Masail min Fiqil Kitab wa Sunnah hal. 27).

Maka berbijaklah saat ada seseorang untuk meminta sarannya saat ia menemui masalah keluarga terutama dengan pasangannya, untuk meminimalisasi menyarankan untuk bercerai. Jika bukan atas alasan syar’i seperti yang tersebut di atas, maka kata cerai adalah keputusan terakhir kala kehidupan dalam rumahtangga itu sudah tidak ada titik temu, dan jika diteruskan hanya menimbulkan keburukan atau mudharat dan lebih dekat dengan neraka.

Semoga Allah senantiasa beri jalan keluar atas kebuntuan dari pasangan yang sedang mengalami masalah dengan rumah tangga, dan diberi hati yang bening untuk putuskan hal yang sangat penting dalam kehidupan. InsyaAllah..

loading...
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *