Berapa Besaran Nafkah Suami yang Diberikan pada Istri menurut Islam?

Berapa Besaran Nafkah Suami yang Diberikan pada Istri menurut Islam?

Islam memberikan hak nafkah pada istri dari suaminya secara nyata. Karena memang menafkahi istri hukumnya wajib. Namun berapa besarnya nafkah tersebut memang tidak disebutkan secara pasti dalam Al Qur’an maupun hadist.

Hanya saja dalam Islam menyebutkan sesuatu secara lebih istimewa, lebih dari sekedar nilai karena menunujuk kata “makruf’.

Dan kewajiban ayah (suami) untuk memberi rizqi (nafkah) dan pakaian kepada ibu (istri) secara makruf. (QS. An-Nisa’ :  233).

Makruf sendiri merujuk pada perbuatan baik yang diterima oleh khalayak, yang bernilai ibadah dan sesuai dengan syariat. Bisa juga makruf merujuk arti sesuai dengan kebutuhannya.

Hingga bisa berarti fluktuatif sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Dan hal ini sebenrnya yang salah satu yang menjadi pangkal keributan dalam rumahtangga.

Saat suami menganggap nafkah yang ia beri pada istri sudah cukup, padahal ia memiliki harta yang lebih. Padahal kebutuhan sehari-hari saat ini secara kasat mata memang tak terlihat nilainya, namun jika dijalani memang sangat banyak.

Untuk itu, seringkali istri mengeluh jika suami pelit memberikan nafkah dalam rumahtangga.

Banyak ulama dan fuqaha menyebutkan jika nilai dari nafkah itu tergantung kesepakatan masing-masing, namun permasalahannya, banyak suami yang tidak mau tahu urusan keperluan keluarga yang sangat banyak.

Inilah yang menjadi pangkal persoalan rumahtangga mengenai  besaran nafkah yang seharusnya diterima oleh istri.

Marilah kita menilik pendapat beberapa ulama mengenai besaran nafkah ini:

1. Pendapat Pertama: Memberi nafkah pada istri itu secukupnya.

Ulama yang berperndapat adalah mazhab Hanafiyah, Malikiyah dan sebagian As Syafi’iyah dan sebagian madzab Hanabilah.

Mereka beranggapan karena tidak ada standarisasi pemberian nafkah pada istri mengenai besarannya, maka mereka berpendapat dikembalikan pada unsur kepantasan atau kecukupan saja.

Hal ini juga menurut mereka termasuk penerjemahan dalam surat Al Baqarah ayat 233 mengenai “memberi nafkah istri dengan nilai makruf” yang mereka maknai dengan kata “secukupnya” atau “sepantasnya” atau kurang lebih sewajarnya. Dan hal ini sangat relatif jumlahnya.

2. Pendapat kedua, Pemberian nafkah dengan ukuran bahan makanan pokok.

Hal ini merupakan pendapat Mazhab Asy-Syafi’iyah seecara muktamad, dan juga pendapat Al Qadhi dari kalangan Mazhab Hanabilah. mereka mengatakan jika ukuran pemberian nafkah adalah ukuran bahan makanan pokok yang diberikan perhari pada suami pada istri.

Pendapat ini, sebenarnya hanya mengacu kesewaktuan pada saat lalu, karena hanya bernilai satu mud gandum atau kurma, jika suami luas rezekinya senilai dua mud, jika pertengahan, maka satu setengah mud.

Menurut Dr. Wahbah Az-Zuhaili satu mud setara dengan 0,6t88 liter atau 688 ml, dan ulama kontemporer menyebutnya sama dengan 454 gram atau jika dua mud (rithl) adalah 908 gram atau mendekati satu kilo.

Untuk ukuran sekarang, sepertinya kurang memenuhi syarat.

3. Pendapat Ketiga: Kadar ukuran nafkah ditentukan oleh negara.

Pendapat ini mencoba menengahi apa yang belum diputuskan dalam Al Qur’an maupun hadist, maka sudah menjadi tugas pemerintah, qadhi atau sultan untuk menetapkannya.

Jika diqiyaskan dengan zaman sekarang ini seperti memberikan UMR (Upah minimum regional) yang ditetapkan oleh pemerintah pada para pengusaha.

Jadi, pemerintahlah yang wajib menetapkan berapa besaran nafkah untuk istri dari suami itu. Pendapat ini banyak dianut oleh ulama bermazhab Asy-Syafi’iyah.

4. Pendapat keempat: Pemberian nafkah berdasarkan urf atau tradisi yang berlaku disuatu tempat.

Boleh jadi, satu tempat dan daerah berbeda-beda dalam menetapkan besaran nafkah untuk istri itu. Semisal dalam satu tempat mematok jika suami harus menyerahkan seluruh penghasilannya untuk istri, maka berlakulah hal itu ditempat tersebut, namuan berbeda pula ditepat lain. Sebagian Ulama Syafi’iyah juga menganut pendapat ke empat ini.

Dari keempat pendapat tersebut, sebenarnya bisa dilaksanakan secara bijak, jika suami istri saling memahami satu sama lain kebutuhan keluarganya. Komunikasi yang intens antar pasutri untuk bersama-sama memikirkan kebutuhan rumahtanggalah yang sebenarnya paling benar.

Karena, suami yang tidak mau tahu kebutuhan keluarganya, hingga akan menelantarkan keluarga akan memicu polemik yang lebih besar, dan termasuk perbuatan zalim yang dilaknat Allah.

Jadilah suami yang penyayang keluarga untuk tidak pelit memenuhi kebutuhan keluarganya, begitu pula istri bijak dalam mengatur keuangan keluarga hingga semuanya dapat berjalan harmonis dan sesuai harapan.

loading...
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *