Salahkah Kita Mengucap Minal ‘Aidin Wal Faizin? Ucapan Selamat Lebaran Apa yang Benar?

taqabballahu minna wa minkum

 

Setelah satu bulan melewati Ramadhan, biasanya umat Islam di Indonesia memiliki tradisi daling bermaaf-maafan.

Tiada salah dengan tradisi demikian, bukankah meminta maaf bisa kapan saja, mumpung ada moment baik, di hari kemenangan mewarnai dengan kata-kata permintaan maaf pada teman, saudara dan kerabat.

Hal salah kaprah sering terjadi dan bahkan berulang puluhan tahun, jika kata-kata yang diucapkan saat moment permintaan maaf itu selalu diawali dengan kata-kata: Mengucapkan “Selamat Hari lebaran, Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir batin”.

Benarkah rangkaian kata-kata itu? Jika kata “Minal ‘aidin wal faizin”, itu artinya ‘mohon maaf lahir batin’? Lalu bolehkah kita sebenarnya mengucapkan kata-kata itu?

Mari kita coba mengurai perkata beserta artinya. Minal sebenarnya adalah terbagi dua kata, yakni min hanya karena tersambung dengan kata al-‘aidin sesudahnya diawali dengan alif-lam (makrifah). Maka kalau dibaca keduanya menjadi min al-‘aidin hingga seringkali membacanya tersambung menjadi minal ‘aidin.

Kata ‘Aidin adalah isim fail (pelaku) dari perbuatan kembali. Bentuk tunggal isim fail-nya ‘aid saja. Tetapi karena jumlahnya banyak, maka bentuk jamaknya menjadi ‘aidin, artinya adalah ‘orang-orang yang kembali’.

Wa artinya ‘dan’. Al-faizin adalah bentuk isim fail dalam bentuk jamak. Bentuk tunggalnya adalah faiz saja, artinya ‘beruntung’. Maka kata faizin artinya ‘orang-orang yang mendapat kemenangan’, atau ‘orang-orang yang mendapat keberuntungan’.

Hingga jika keseluruhan kata digabung maka artinya: dari orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang atau beruntung.

Adakah salah dengan arti kata tersebut? Tentu saja tidak. Karena pada kenyataannya lafaz ini adalah doa yang terpotong:

Semoga Allah menjadikan kita menjadi bagian dari orang-orang yang kembali dan orang-orang yang mendapatkan kemenangan/keberuntungan.

Terkadang masyarakat Arab juga menambahkan dengan ungkapan:

Kullu ‘Am wa antum bikhoirin.

Semoga setiap tahun Anda berada dalam kebaikan.

Hanya saja, meski potongan sebuah doa yang populer yang diucapkan saat lebaran tiba, namun pada dasarnya kalimat ini bukan bersumber dari hadis Nabi SAW maupun ayat dalam Al Qur’an.

Dan Entah kenapa pula orang-orang mengucapkan itu dengan memotong kalimat awalnya, yang sebenarnya itu juga merupakan intinya sebuah doa.

Meskipun demikian hal bukan berarti tidak boleh digunakan, karena pada dasarnya kalimat doa adalah baik, hanya saja memotong kata yang seharusnya diucapkan memang patut disayangkan.

Untuk itu, saat kita Lebaran kita sebaiknya jika ingin menggunakan kata itu sebaiknya lengkap, namun sekali lagi kata min al ‘aidin wal faizin bukan berarti mohon maaf lahir dan batin.

Lalu, sebaiknya kita mengucapkan apa? Ucapkanlah: Taqabballahu minna wa minkum yang merupakan ucapan para sahabat kepada sahabat lainnya setelah shalat idul fitri adalah sebuah doa. Yang artinya, semoga Allah menerima (amal) dari kami dan (amal) dari kalian.

Ucapan ini sungguh tepat karena selama sebulan penuh berpuasa dan mengerjakan amalan soleh, maka setiap muslim seharusnyalah saling mendoakan agar amal-amal selama ramadhan diterima. Dan bagaimanakah seharusnya menjawab kalimat tersebut?

Inilah hadisnya: Dari Habib bin Umar Al Anshari, ayahnya bercerita kepadanya bahwa beliau bertemu dengan Watsilah radhiallahu ‘anhu ketika hari raya, maka ketika ia mengucapkan kepada Watsilah, “Taqabbalallahu minna wa minkum,” Watsilah menjawab, “Taqabbalallahu minna wa minkum.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Mu’jam Al Kabir)

Dari Syu’bah bin Al-Hajjaj, ia berkata, “Saya bertemu dengan Yunus bin Ubaid, dan saya sampaikan, ‘Taqabbalallahu minna wa minka.’ Kemudian ia menjawab dengan ucapan yang sama.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Ad Du’a)

Semoga bermanfaat.

loading...
3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *