Mengajari Anak Ramah dan Simpati Kepada Orang Lain yang Mengajak Bicara, Bagaimana Caranya?

mengajari anak menyambut tamu

Tak semua anak bisa tersenyum jika diajak bicara sama orang lain. Bahkan terkesan jutek, ogah-ogahan menjawab pertanyaan, atau antipati untuk bersosialisasi dengan orang yang lebih tua dengannya.

Tidak indah sungguh pemandangan seperti itu. Pertanyaannya, bisakah kita mengubahnya?

Mengapa tidak? Hal ini sebenarnya sangat terkait dengan pola kita mengarahkan sang anak untuk membentuk kepribadian mereka sejak dini.

Tidak ada kata terlambat, untuk mengubah sifat anak dari tidak peduli dengan orang lain menjadi anak yang ramah dan riang gembira saat menyambut sapaan, pertanyaan orang lain, yang tentu tidak berniat jahat kepadanya.

Beberapa cara berikut ini semoga bisa menjadi sumber inspirasi bagi para orangtua dalam membimbing anak bersikap dengan orang lain.
1. Ajarkan anak untuk sejenak menghentikan pekerjaan, atau kesibukan atau kegiatannya, saat ada orang lain memanggil, menyapa atau bertanya.

Hal ini akan menunjukkan jika anak itu sopan, dan menghargai orang lain.

Sebenarnya, sisi negatif dengan adanya gadget, hape android, games di komputer atau hape, membuat anak menjadi apatis kalau dipanggil, diajak bicara atau ditanya.

Beri pengertian pada anak, hal yang paling penting dalam kehidupan itu adalah berkomunikasi dengan ‘benda hidup’ dan bernyawa. Beri contoh, Andapun akan menghentikan aktivitas apapun, jika tidak darurat, saat ditanya mereka, Jika tidak, sia-sialah keinginan kita.

2. Contohkan pada mereka, jika senyum merupakan bahasa tubuh yang terpenting dalam komunikasi, karena menunjukkan jika kita ramah. Bagaimana caranya, beri penilaian saat anak diajak komunikasi dengan orang lain, di lain waktu, atau saat orang yang diajak komunikasi berlalu.

3. Beri panutan pada anak cara Anda menerima tamu, atau berkomunikasi dengan tamu. Menemui mereka dengan wajah yang berbinar ramah, bicara dengan penuh senyum dan menghargai mereka.

4. Panggil Anak, saat Anda dan anak bertemu dengan teman atau saudara di suatu tempat (atau di rumah), untuk ikut berkenalan, bersalaman, dan sekedar menjawab sapaan mereka. Cara ini sangat ampuh untuk memperlihatkan pada anak, bagaimana cara awal kita berkomunikasi dengan orang lain.

5. Komunikasikan secara terus menerus dengan anak, bukan hanya gestur yang diperlukan saat berbincang dengan orang lain, namun isi jawaban yang menyenangkan perlu dilatih. Seperti, jangan sering bilang “tidak tahu”, hanya sekedar memudahkan mereka menghentikan pertanyaan selanjutnya. Jawab sebisanya, namun jangan dusta atau mengarang belaka.

6. Perlu bertanya pada anak, jika ia mengalami kesulitan berkomunikasi atau berperilaku saat dengan orang lain. Hal ini  menunjukkan kita membantu jika anak kesulitan saat berhadapan dengan orang yang lebih tua, atau senior darinya. Jangan paksa anak juga untuk menampilkan ‘keramahan’ semu, jika itu membuatnya tidak nyaman.

7. Ajari anak untuk pilah dan pilih keramahan yang harus didahulukan. Seperti Pada guru, tetangga, Kakek-nenek, pembantu rumah tangga, teman ayah-bundanya, sampai orang yang kurang dikenal, namun dengan catatan. Seperti lelaki, atau perempuan yang sama sekali tidak jelas, atau di tempat asing, anak harus dibekali ciri-ciri orang yang tidak perlu dibalas sapaan, atau hanya seperlunya saja.

8. Minta testimoni secara berkala, pada guru, tetangga, teman atau saudara mengenai cara perlakuan anak saat diajak komunikasi dengan Anda. Masukan ini perlu, karena terkadang anak didalam dan luar rumah mempunyai perangai yang berbeda, hingga kita bisa lebih intens dalam mengarahkannya.

Demikianlah para orangtua, hal-hal yang perlu diperhatikan saat memberi panutan anak agar bisa ramah dengan orang lain. Jangan ragu mempraktekan ya, Ingat senyum adalah sedekah..

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *