Memang Ada Adab Menghutangi Orang? Simak Jawabannya

Inilah adab menghutangi dalam Islam

Dalam kehidupan sehari-hari yang tidak lepas dari masalah muamalah dengan orang lain adalah masalah hutang piutang.

Sebenarnya, bukan masalah yang menyenangkan jika membahas hal satu ini, baik bagi pihak penghutang apalagi yang menghutangi.

Namun, jika dirunut, salah satu bentuk kasih sayang, tolong-menolong juga sarana meraup pahala, yakni merelakan uangnya untuk dihutangi orang lain.

Meski tidak dapat bisa dipungkiri jika masalah hutang piutang banyak yang berakhir dengan pelik. Mulai dari seret saat diminta membayar hutang, marah-marah saat ditagih, mengemplang hutang sampai dengan putusnya hubungan pertemanan, atau persaudaraan gegara masalah hutang.

Baca : Menghutangi Orang Lain Malah Berdosa?

Salah satu reward Allah dari seseorang yang dengan ikhlas menghutangi orang lain yang terdesak kebutuhan dan benar-benar tidak berpunya atau memberi kelonggaran saat membayar atau  bahkan merelakan hutang tersebut adalah Allah akan menaungi di bawah arsy!

Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang menunda atau memaafkan piutang orang yang kesusahan, niscaya Allah akan menaunginya di bawah arsy, kelak di hari yang padanya tidak ada naungan selain naungan-Nya.” (Riwayat Bukhari, Muslim, At Tirmizy dan ini adalah teks riwayat At Tirmizy)

Keindahan janji Allah ini menjadi penyejuk bagi orang-orang yang selalu saja bersedih karena ‘ulah’ orang-orang yang selalu mengingkari janjinya untuk membayar, bahkan ‘mengemplang’ hutang.

Karena sebenarnya ada ‘pertukaran’ atas keikhlasannya menolong seseorang dalam kesulitan itu dengan sesuatu yang sifatnya kekal dan abadi di akherat kelak.

Dan Apakah hutang selalu kembali? Jawabnya ya! Hutang jika tidak kembali dalam bentuk uang, ia akan dikembalikan Allah dalam bentuk yang lain.

Salah satu keuntungan orang yang menghutangi adalah akan diberi kelonggaran Allah saat kesempitan dan sesusahan dalam bentuk yang lain, bisa berupa harta lain yang lebih banyak, atau saat mengalami kesempitan, Allah akan memberi kemudahan hidup.

“Barang siapa yang melapangkan suatu kesusahan seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan melonggarkan satu kesusahannya di akhirat. Barang siapa yang memudahkan urusan orang yang ditimpa kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat, Barang siapa yang menutupi kekurangan (aib) seorang muslim di dunia, niscaya Allah akan menutupi kekurangannya di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama ia juga menolong saudaranya.” (Riwayat Muslim)

Lalu, apakah orang yang ‘mengemplang’ hutang atau berniat untuk tidak membayar hutang dan selalu mengulur-ulur waktu  bukan karena tidak berpunya, karena memang menyepelekan hal tersebut apakah tidak mendapat dosa atau azab Allah?

Balasannya adalah Allah akan membinasakan!

“Barang siapa yang mengambil harta orang lain, sedangkan ia berniat untuk menunaikannya, niscaya Allah akan memudahkannya dalam menunaikan harta tersebut, dan barang siapa mengambil harta orang lain sedangkan ia berniat untuk merusaknya, niscaya Allah akan membinasakannya.” (Riwayat Bukhari).

Di dalam Islam, untuk memberikan rasa aman dan nyaman baik bagi pihak penghutang dan yang menghutangi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

Apalagi zaman sekarang ini , tidak bisa dipungkiri jika tidak hanya unsur kepercayaan yang dipegang, apalagi unsur keimanan.

Namun ada yang bisa membuat semuanya menjadi ridha, apalagi pihak penghutang yang hanya dengan ikhlas merelakan uangnya untuk dihutangi.

Hal yang bisa dilakukan adalah:

1. Menuliskan transaksi .

Apalagi jika nilainya besar. Jika antara keduanya merasa tidak perlu, terutama pihak yang menghutangi,  hal ini tidaklah masalah. Namun dalam Islam menganjurkan setiap transaksi dalam bermuamalah hendaknya dituliskan,untuk menghindari hal-hal yang tidak diperlukan.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar..”. (Al Baqarah ayat 282)

2. Mengambil saksi yang dipercaya.

Orang-orang dekat saja, agar apa yang dituliskan suatu saat akan menguatkan jika dengan saksi-saksi.

3. Menitipkan barang senilai hutang (pihak yang berhutang) kepada pihak yang menghutangi, sebagai barang jaminan.

Hal ini juga dilakukan oleh Rasulullah saat meminjam uang untuk membeli bahan makanan pada orang Yahudi. Barang ini nantinya bisa  dijual untuk melunasi hutang, sekiranya pihak penghutang tidak mampu membayar.

Baca: Cara Menjadi Kaya Menurut Islam.

Dan adab yang harus dilakukan  orang yang menghutangi agar mendapatkan pahala dan naungan arsy dari Allah adalah:

1. Melakukan hal tanpa pamrih, hanya mengharapkan pahala dari Allah semata. Hal ini mencerminkan ketaqwaan seseorang.
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” Al Insan 8-9

2. Jangan menghutangi karena untuk tujuan keuntungan. Karena hal demikian adalah riba. Jika suatu saat orang yang berhutang menambahkan uangnya sebagai ucapan terimakasih tanpa diminta oleh pihak yang menghutangi, hal itu tidaklah mengapa.

“Setiap piutang yang mendatangkan kemanfaatan/keuntungan, maka itu adalah riba.” (al-Muhazzab oleh As Syairazi 1/304, al-Mughni oleh Ibnu Qudamah 4/211&213, Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 29/533, Ghamzu ‘Uyun al-Basha’ir 5/187, as-Syarhul Mumthi’ 9/108-109).

3. Ikhlaslah memberikan penundaan pembayaran, jika memang diminta baik-baik oleh pihak penghutang, atau memang dalam diri penghutang ada welas asih untuk memberikan penundaan saat si penghutang belum bisa melunasi, meski ia tidak memintanya.
“Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Al Baqarah 280).

4. Memberikan hutang kepada orang lain dengan bahasa dan sikap yang baik.

Ada beberapa orang meski memberi hutang namun pada kenyataannya ia malah tidak menunjukkan attitude yang baik, dan bersikap seperti majikan, atau orang kaya.

5. Menahan diri dan sabar. Jika dalam hutang piutang itu sekiranya ada ganjalan dikemudian hari, maka bersabarlah, karena hal itu akan menunjukkan sisi keimanan Anda.

Yakinlah, jika uang yang dihutangi itu tidak kembali, maka Allah akan menggantinya dalam bentuk lain yang lebih baik.

Naungan di bawah arsy, kemudahan saat sempit, pahala yang melimpah, dihapuskan dosa, atau diberi kemaafan atas dosa-dosa kecil yang diperbuat, bahkan akan memberi rezeki lain yang lebih besar.

6. Jika memungkinkan, sedekahkan sebagian atau semuanya pada yang berhutang.

Walau terkesan tidak mudah, namun banyak orang yang melakukan hal itu. Karena pada dasarnya orang yang berhutang adalah orang yang tidak mampu, atau membutuhkan bantuan.

7. Menjaga hubungan baik, dan mendoakannya.

Bukan hal mudah melakukannya, apalagi jika orang yang berhutang itu menunjukkan attitude yang kurang baik, tak bersahabat kadang marah-marah saat ditagih hutangnya.

Maka Anda jangan terpancing untuk menjadi murka. Jagalah hubungan baik dengan siapa saja termasuk bagi yang berhutang, doakanlah semoga Allah memberikan keluasan rezeki dan segera bisa melunasi hutangnya.

Ketujuh hal tersebut semoga ada dalam diri kita, dan semoga Allah memudahkan dalam setiap urusan dan langkah, dan memberikan kekuatan agar dapat bermuamalah dengan baik dengan hal apasaja dan siapa saja, termasuk pada saat keadaan mendesak, yakni memberikan hutang pada orang lain.

loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *